Sejarah baru tercipta di Malang. Untuk pertama kalinya, Aremania berkolaborasi dengan BEM Malang Raya. Lantas, apa saja yang bakal dikerjakan?
“Mayoritas anggota BEM Malang Raya memang dari luar Malang. Tapi, kami harus menyatu dengan kultur lokal. Karena itu, kami ingin adanya kemanunggalan antara BEM Malang Raya dan Aremania,”
begitu ucap Aryo Bimo Soebagio kepada Jawa Pos. Dia adalah Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Wisnuwardhana Malang. Atas dasar itulah sejarah tercipta: untuk pertama kalinya, BEM Malang Raya dan Aremania berkolaborasi.
Di Pendopo Agung Kabupaten Malang pada Kamis (27/11) sore, kolaborasi itu menggelar gawe pertama dengan mengadakan seminar dengan judul “Revolusi Mental Suporter: Dari Kurikulum Dini hingga Ekonomi Berkelanjutan.”
Acara itu dihadiri oleh banyak elemen, mulai dari perwakilan Pemkab Malang, tokoh agama, akademisi, praktisi pendidikan, hingga suporter. Acara tersebut didukung Wakil Ketua Umum II PSSI, Ratu Tisha, yang memberikan sambutan lewat video.
“Kolaborasi adalah hal yang sangat penting. Karena di industri sepak bola, kesendirian adalah hal yang dilarang. Jadi, kolaborasi itu sangat penting, tidak hanya di lapangan, tapi juga di luar lapangan,” kata Tisha dalam sambutannya. Dia senang Aremania bisa berkolaborasi dengan BEM Malang Raya.
Dia berharap kolaborasi keduanya tidak berhenti di seminar saja. “Saya menyarankan, ke depan agar lebih banyak acara seperti ini. Mungkin bisa lebih spesifik, seperti sama-sama belajar dari negara yang sepak bolanya jauh lebih maju. Jadi, saya tunggu inisiatif dan gagasan baru dari hasil kolaborasi ini,” kata Tisha.
*Ingin Jadi Pilot Project dan Agendakan Kegiatan Amal
Koordinator BEM Malang Raya, Moh. Fauzi, ingin kolaborasi ini menjadi contoh bagi BEM dan suporter di wilayah lain.
“Bahkan, kami ingin Malang menjadi pilot project nasional, di mana etika suporter bisa diajarkan sejak bangku SD,” kata mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Malang itu. Pihak BEM Malang Raya bahkan sudah berkomunikasi dengan Kemendikti Saintek.
“Kami merekomendasikan agar materi ‘Karakter Suporter dan Sportivitas’ bisa dimasukkan secara resmi ke kurikulum pendidikan,” tegasnya. Selain itu, mereka juga sudah merencanakan acara lain dengan Aremania: kegiatan amal.
Fauzi berkaca dari bencana meletusnya Gunung Semeru pekan lalu. “Kami dari BEM Malang Raya dan Aremania kan bisa melakukan penggalangan dana. Kemudian dana yang terkumpul digunakan untuk membantu warga yang terdampak. Ini akan kami jadikan acara rutin,” katanya.
*Ikut Suarakan Regulasi Larangan Away
Selain itu, pihak BEM juga ikut gemas dengan larangan away yang diterapkan pihak federasi. Bagi Aryo, aturan itu sangat tidak masuk akal.
“Harusnya, para pemangku jabatan itu bisa memikirkan solusi: bagaimana caranya suporter bisa tetap tertib saat away, bukannya malah diberi denda,” kata Aryo. Dia pun mempertanyakan peruntukan uang denda tersebut. “Ke mana aliran uang tersebut?” tambahnya.
Perwakilan Aremania, Telly Hardadi, punya usul lain soal uang sanksi tersebut. “Kami merekomendasikan agar uang denda dialihkan menjadi dana subsidi tiket bagi suporter yang berkelakuan baik. Artinya, uang itu dikembalikan kepada suporter sebagai diskon tiket,” katanya. (ali)



