Penggiat batik di Surabaya intens mengembangkan beragam motif yang memiliki karakter dan nilai ekonomi potensial. Corak-corak yang tumbuh dan diciptakan di lingkup kelurahan dan kecamatan itu dipamerkan, dikenalkan, dan dilestarikan dalam Loka Batik Surabaya.
Pameran batik tersebut dihelat Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kota Surabaya. Gelaran itu menggandeng lebih dari 15 UMKM dari kerajinan kreasi dan busana. Ajang yang dihelat di Atrium Galaxy Mall 1 Surabaya pada 22-23 November itu juga melibatkan 11 komunitas untuk memeriahkan acara.
Loka Batik Surabaya memiliki misi mengenalkan, melestarikan, dan mengedukasi perihal wastra. Sajian talk show, trunk show, bazar batik, workshop canting, dan lomba mewarnai hingga draping batik turut mewarnai acara. Upaya itu menjadi bagian dari langkah Dekranasda Kota Surabaya menjembatani pemahaman wastra Nusantara secara holistik.
Target Generasi Muda
Ketua Dekranasda Kota Surabaya, Rini Indriyani, mengatakan ajang ini menjadi bagian dari upaya pengenalan perwajahan batik dengan cara modern. Targetnya, agar generasi muda mulai dari milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha relevan dengan batik sebagai warisan leluhur.
”Di sisi lain, regenerasi menjadi tantangan tersendiri. Kami menyadari, mengajak anak muda menjadi pengrajin batik bukanlah hal mudah,” ujar Rini. ”Proses membatik membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan jiwa seni,” lanjutnya.
Misi Dekranasda itu mendapat apresiasi salah seorang fashion desainer dan pelaku UMKM Nita Erlina. Bersama brand Zenea Lukis, Nita membawakan desain busana batik gabungan 12 motif khas Surabaya. ”Ajang ini menjadi wahana apresiasi yang berarti bagi kami. Salah satunya mendukung perputaran ekonomi,” ujar Nita. (had/kkn)



