JAKARTA – Prospek investasi Indonesia disebut bakal melesat pada 2026. Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menilai arah pembangunan nasional bergerak ke perubahan mendasar, dari ketergantungan pada sumber daya alam menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas ekonomi.
“Negara ini sedang berubah secara fundamental. Fokus kita bukan lagi hanya SDA, tetapi penguatan SDM. Dan tugas kami adalah berinvestasi di sektor-sektor yang mendukung transformasi itu,” ujar Chief Investment Officer Danantara Pandu Patria Sjahrir di Jakarta Kamis (20/11).
Menurut Pandu, ada tiga indikator utama yang menjadi landasan, yakni kontribusi ekonomi nasional, keberlanjutan imbal hasil, dan potensi keuntungan jangka panjang. Mengacu pada kriteria tersebut, Danantara menetapkan delapan sektor prioritas. Mereka mineral, energi baru terbarukan, infrastruktur digital, kesehatan, jasa keuangan, infrastruktur dan utilitas, kawasan industri dan properti, serta pangan dan pertanian. Sektor-sektor ini dipandang sebagai fondasi lahirnya perusahaan nasional berdaya saing regional.
Dorong Waste to Energy
Salah satu proyek yang kini dikebut adalah pembangunan fasilitas waste to energy (WtE). Dari total 33 lokasi yang ditetapkan pemerintah, delapan proyek sudah mulai digarap. Pandu menegaskan proyek ini bukan sekadar investasi, tetapi solusi nyata bagi persoalan sampah kota-kota besar.
“Energi yang dihasilkan WtE akan dibeli PLN. Dari total kapasitas 69 gigawatt PLN, kontribusi WtE sebenarnya kecil—hanya 500 megawatt. Tapi dampaknya luar biasa untuk lingkungan dan kesehatan,” papar Pandu.
UEA Bidik Pusat Data
Sementara itu Menteri Energi dan Infrastruktur Uni Emirat Arab (UEA) Suhail Mohamed Al Mazrouei mengatakan bahwa salah satu isu yang mencuri perhatian adalah pengembangan pusat data. Kebutuhan kapasitas digital meningkat pesat seiring ekspansi akal imitasi (AI) yang menjadikan Indonesia pasar strategis bagi UEA.
“Mereka menggunakan dan akan terus menggunakan lebih banyak data. Pusat data akan menjadi tulang punggung pendidikan, kesehatan, dan manufaktur,” kata Suhail. UEA bahkan membuka peluang investasi bersama (joint investment) untuk pengembangan data center.
Minat UEA juga meluas ke infrastruktur lain seperti jalan tol, pengembangan pelabuhan dalam dan luar negeri, hingga kemitraan strategis berbasis pengalaman panjang negara itu dalam manajemen pelabuhan global. (agf/dio)


