Di ruang kelas sederhana di pinggiran Pekalongan, Dewanto Amin Sadono menghabiskan hari-harinya sebagai guru bahasa Indonesia. Tapi, di balik kesibukan itu, ia diam-diam memelihara mimpi lewat tulisan-tulisan yang mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan nasional, bahkan sampai dilirik industri film.
Setiap pagi, Dewanto menempuh perjalanan sekitar 15 menit menuju SMPN 2 Kesesi, Kabupaten Pekalongan, tempatnya mengajar. Selama 25 tahun menjadi guru, rutinitas itu dijalani dengan tenang dan penuh dedikasi.
Tapi, siapa sangka, di balik kesederhanaannya itu, alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut menyimpan dunia imajinasi yang sangat luas. Dunia yang kini menempatkannya dalam deretan penulis yang layak dipertimbangkan di Indonesia.
Dapat Momentum saat Pandemi
Sejak 2019, Dewanto menghasilkan puluhan tulisan. Cerpen-cerpennya menghiasi media massa nasional, termasuk Jawa Pos. Dari sana, ia juga mengantongi banyak piala dan piagam penghargaan karena memenangkan lomba. Ia sudah memenangkan 24 perlombaan menulis yang meliputi cerpen, novel, dan naskah lakon, 10 di antaranya bahkan menjadi juara pertama.
”Pandemi Covid-19 adalah momentum saya mulai menulis secara lebih serius. Work from home (WFH) membuat saya punya banyak waktu luang,” ujarnya kepada Jawa Pos, Kamis (13/11). Dari waktu luang itulah, Dewanto mulai menuangkan gagasan-gagasan yang selama ini hanya tersimpan di kepala. Ribuan buku yang ia baca sejak kecil menjadi bahan bakar imajinasinya.
Pada 2024, novel Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya masuk nominasi Penghargaan Sastra Kemendikbudristek (kini Kemendikdasmen). Lalu, dua novel lainnya, Manusia Laron (2023) dan Dante (2025), berhasil menjuarai lomba Falcon Film dan Kwikku. Bahkan, cerita yang ditulisnya itu berpeluang diadaptasi ke layar lebar.
”Dalam kontrak yang kami tanda tangani, pihak penyelenggara berhak mengalihwahanakan dua novel tersebut, termasuk memfilmkan. Untuk realisasinya, bisa jadi menunggu momen yang tepat,” paparnya.
Manusia Laron mengangkat kisah kelam kerusuhan Mei 1998 di Solo dari sudut pandang pasukan khusus yang ditugaskan untuk merancang dan mendata tempat-tempat yang nanti akan dibakar. Sementara itu, Dante terinspirasi dari kasus hukum kontroversial di tubuh KPK. Yakni, penangkapan eks Ketua KPK Antasari Azhar dengan tuduhan menjadi otak pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. ”Dante menjadi satu dari enam pemenang, menyingkirkan ribuan peserta yang lain,” kenangnya.
Tetap Menomorsatukan Profesi
Meski produktif menulis, Dewanto tetap menomorsatukan profesinya sebagai guru. Ia mengaku tak pernah merasa terbebani menjalani dua dunia sekaligus. ”Kuncinya cuma satu, disiplin waktu. Bagaimanapun, mengajar adalah tugas utama saya sebagai ASN. Menulis menjadi sarana meluapkan perasaan akan situasi dan kondisi di sekitar,” katanya.
Saat mengajar, Dewanto menantang murid untuk berpikir dan mencipta. Kemudian, agar pelajaran bahasa Indonesia tidak membosankan dan lebih diterima gen Z, ia menerapkan strategi khusus. Siswa diminta menulis teks sesuai materi yang tengah dipelajari, mulai deskripsi hingga argumentasi. Dengan begitu, siswa mau tak mau membaca naskah pelajaran yang ada di depannya. Menurutnya, itu sesuai dengan materi bahasa Indonesia yang terdiri atas teks deskripsi, narasi, observasi, prosedur, hingga argumentasi.
Baca Juga
Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar
”Modal dasar menulis adalah membaca. Sementara membaca buku adalah momok bagi banyak orang, termasuk para siswa,” ungkapnya. (mia/mad)




