Menjadi guru semula sama sekali bukan tujuan Yoana Lukita Sari. Cita-citanya adalah bekerja di dunia perbankan. Tapi, lamaran yang dimasukkan ke sejumlah bank selalu kandas di tahap akhir. Kegagalan itu akhirnya membuka pintu lain. Ia mulai memasukkan lamaran ke sekolah-sekolah. ”Mungkin karena doa ibu. Ibu bilang perempuan cocoknya jadi guru saja,” ujarnya kepada Jawa Pos.
Yoana sempat bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMK swasta di Pare, Kediri. Lalu, pada 2010, dia lolos CPNS sebagai guru teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan ditempatkan di SMKN 1 Wonoasri, Madiun.
Belajar Otodidak
Yoana menemui tantangan lain saat memulai babak baru sebagai pengajar di SMKN 1 Wonoasri. Ia diminta mengajar jurusan multimedia, bidang yang sama sekali tidak ia kuasai. Yoana tidak memiliki latar belakang desain. ”Saya akhirnya mencoba belajar lagi soal desain dan lainnya,” kata lulusan Teknik Informatika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) tersebut.
Setiap malam ia belajar Photoshop, komposisi gambar, hingga dasar fotografi. Dari situlah kreativitasnya muncul. Yoana mulai memadukan dunia digital, fotografi, dan gaya mengajar interaktif.
Yoana membuat salah satu inovasi dalam model pembelajaran yang dinamakan ”Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata Pelajaran Karya Desain Fotografi untuk Menciptakan Foto Promosi Produk”. Menurut dia, inovasi tersebut lahir dari keresahannya melihat minat belajar siswa yang menurun.
”Teori terasa membosankan, praktik tidak terarah, dan kelas menjadi kurang kondusif. Pembelajaran fotografi dianggap pembelajaran yang sulit jika hanya berupa teori yang diberikan kepada siswa,” katanya. Menurutnya, siswa perlu diberi motivasi dengan praktik yang menarik.
Untuk menarik minat peserta didik, Yoana mencoba menggunakan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran karya desain fotografi. ”Jadi, pembelajaran berdiferensiasi ini untuk menciptakan foto promosi produk sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan dan tidak monoton,” jelasnya.
Yoana lantas membuat media pembelajaran interaktif yang dinamakan nama Belajar Tegar (Teknik Pengambilan Gambar). Siswa diberi tugas projek berupa foto promosi produk. ”Dari situ dampaknya terlihat. Anak begitu antusias dalam membuat foto promosi produk. Antusiasme itu tampak dari hasil produk foto yang mereka hasilkan bagus-bagus,” paparnya.
Diundang Hari Guru 2024
Latar belakang tersebut dan inovasinya tentang ”Pembelajaran Berdiferensiasi” tadi mengantarkannya menembus 10 besar Jambore GTK Hebat. Puncaknya, Yoana dinobatkan sebagai juara I Guru Inovatif Provinsi Jawa Timur sekaligus berkesempatan tampil di perayaan Hari Guru Nasional 2024 bersama Presiden Prabowo Subianto.
Selain GTK, Yoana juga mendulang beragam prestasi lain. Pada tahun 2018, ia memenangkan juara II Web Blog Media Pembelajaran Tingkat Provinsi Jawa Timur. Empat tahun kemudian, ia menyabet juara I Film Pendek GTK Creative Camp 2022. Yoana juga masuk sebagai Top 30 EJIES Jawa Timur hingga akhirnya menjadi wakil Jatim dalam Jambore GTK Nasional.
Baca Juga
Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar
Kini, setelah belasan tahun mengabdi dan meraih banyak prestasi, Yoana tak ingin berhenti berinovasi. Ia akan terus menjadi guru yang amanah, jujur, dan menghadirkan pembelajaran menyenangkan berbasis teknologi. ”Saya ingin terus menjadi guru digital yang penuh kreasi,” ujarnya. (eza/mad)




