Di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang, pria bernama lengkap Yohan Fikri Mu’tashim itu menjalani hari-hari sebagai guru bahasa Indonesia. Tapi, bagi murid dan rekan yang mengenalnya, Yohan bukan sekadar pengajar. Dia juga seorang penyair, esais, editor, dan pembaca tekun yang membawa semangat literasi ke ruang-ruang kelas tanpa banyak bicara.
Tahun ini Yohan memetik buah dari perjalanan panjangnya di dunia kepenulisan. Pada 15 Oktober lalu, dia menerima Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur kategori karya sastra Indonesia lewat buku puisinya, Anjing-Anjing Lepas Amarah. Karya yang sama juga memperoleh Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2025 kategori kumpulan puisi pada 29 Oktober. Masih di bulan yang sama, esainya berjudul Kecamuk Citra, Kiamat Bentuk: Telisik Puitika ”Paus Merah Jambu” Zen Hae dinobatkan sebagai Naskah Terbaik IV Lomba Kritik Sastra Piala H.B. Jassin pada 19 Oktober.
Mengalir seperti Air
Menariknya, perjalanan Yohan menjadi guru tidak dimulai dari rencana panjang atau cita-cita masa kecil. ”Tidak ada keinginan. Kalau kata orang Jawa, urip sakmiline banyu (hidup mengalir seperti air, Red),” katanya.
Setelah lulus kuliah dan bersiap melanjutkan S-2, dia merasa satu tahun tanpa aktivitas justru akan melelahkan. Mengajar menjadi keputusan sederhana yang belakangan justru membentuk identitasnya. ”Tidak semua hal yang menjadi jalan hidup harus berangkat dari alasan dan kesadaran untuk memilih itu sejak awal,” imbuh lulusan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang itu.
Menurun dari Ayah
Sebelum mengajar, Yohan lebih dulu akrab dengan dunia membaca dan menulis. Dia menelusuri akar kegemarannya itu dari keluarga. Ayahnya adalah seorang pembaca tekun, terutama kitab kuning dan koleksi buku-buku yang dimilikinya. ”Saya kira, seorang anak ialah seorang peniru ulung,” ujarnya.
Di pesantren, kebiasaan menulisnya semakin kuat karena tidak diperbolehkan memakai gawai. ”Menulis menjadi cara bertualang sekaligus cara mengatasi sepi yang sehat,” tuturnya. Dia menulis apa saja, dari catatan kecil hingga kalimat-kalimat yang bahkan dia sendiri belum tahu akan menjadi apa.
Ketika mulai mengajar, kebiasaan literasinya tidak pudar meski ritme hidup cukup padat. Yohan hampir setiap pekan melakukan perjalanan Malang–Blitar. Dia mengajar dari Senin sampai Jumat, kemudian pulang setelah sekolah. Di antara pekerjaan mengoreksi tumpukan tugas dan administrasi, dia tetap menyempatkan membaca atau menulis. ”Misalkan saya hanya punya waktu 15 menit setelah mengoreksi tumpukan tugas, 15 menit itu cukup untuk membaca barang beberapa paragraf, menulis barang beberapa baris, atau sekadar mencatat selintas ide di catatan ponsel,” katanya. Baginya, menjaga ritme lebih penting daripada memiliki waktu panjang.
Dicontoh Murid
Yohan sebenarnya tidak memasang target atau ambisi besar untuk meraih prestasi. Yang dia lakukan hanya mengerjakan sesuatu sebaik mungkin dan memberi ruang bagi disiplin untuk bekerja perlahan. Tapi, kebiasaan itu dilihat murid-muridnya. ”Sejujurnya, saya tidak pernah bermaksud menjadi contoh,” ujar Yohan.
Baca Juga
Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar
Meski begitu, dia percaya bahwa tindakan lebih kuat dibanding nasihat. Dia melihat beberapa anak mulai tertarik menulis karena melihat kegiatannya.
Prestasinya di dunia literasi memang tidak serta-merta berdampak pada karier formalnya sebagai guru. Tapi, membuka peluang berbeda. ”Yang jelas, menulis memberi saya ruang untuk dipercaya,” katanya. Kepercayaan itu datang dalam bentuk kesempatan berbagi ilmu, kesempatan menulis lebih luas, hingga peluang menjadi editor dan juri.
Ke depan, Yohan tidak ingin memilih salah satu jalur. Dia ingin tetap berada di dua jalur itu selama mungkin. ”Mengajar menjaga agar tetap membumi, menulis menjaga saya tetap bermimpi,” ujarnya. (lyn/mad)




