Loading...
Kamis Pahing, 19 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Sosok & Sisi Lain
Home
›Sosok & Sisi Lain

Mengajar agar Tetap Membumi, Menulis supaya Terus Bermimpi

Editor-Sosok & Sisi Lain
25 November 2025
BERBAKAT: Yohan Fikri (kanan) menerima Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2025
dari Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq di Jakarta (29/10).
Klik untuk perbesar
Dok Yohan Fikri

BERBAKAT: Yohan Fikri (kanan) menerima Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2025 dari Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq di Jakarta (29/10).

Di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang, pria bernama lengkap Yohan Fikri Mu’tashim itu menjalani hari-hari sebagai guru bahasa Indonesia. Tapi, bagi murid dan rekan yang mengenalnya, Yohan bukan sekadar pengajar. Dia juga seorang penyair, esais, editor, dan pembaca tekun yang membawa semangat literasi ke ruang-ruang kelas tanpa banyak bicara.

Tahun ini Yohan memetik buah dari perjalanan panjangnya di dunia kepenulisan. Pada 15 Oktober lalu, dia menerima Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur kategori karya sastra Indonesia lewat buku puisinya, Anjing-Anjing Lepas Amarah. Karya yang sama juga memperoleh Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2025 kategori kumpulan puisi pada 29 Oktober. Masih di bulan yang sama, esainya berjudul Kecamuk Citra, Kiamat Bentuk: Telisik Puitika ”Paus Merah Jambu” Zen Hae dinobatkan sebagai Naskah Terbaik IV Lomba Kritik Sastra Piala H.B. Jassin pada 19 Oktober.

Mengalir seperti Air

Menariknya, perjalanan Yohan menjadi guru tidak dimulai dari rencana panjang atau cita-cita masa kecil. ”Tidak ada keinginan. Kalau kata orang Jawa, urip sakmiline banyu (hidup mengalir seperti air, Red),” katanya.

Setelah lulus kuliah dan bersiap melanjutkan S-2, dia merasa satu tahun tanpa aktivitas justru akan melelahkan. Mengajar menjadi keputusan sederhana yang belakangan justru membentuk identitasnya. ”Tidak semua hal yang menjadi jalan hidup harus berangkat dari alasan dan kesadaran untuk memilih itu sejak awal,” imbuh lulusan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang itu.

Baca Juga

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Menurun dari Ayah

Sebelum mengajar, Yohan lebih dulu akrab dengan dunia membaca dan menulis. Dia menelusuri akar kegemarannya itu dari keluarga. Ayahnya adalah seorang pembaca tekun, terutama kitab kuning dan koleksi buku-buku yang dimilikinya. ”Saya kira, seorang anak ialah seorang peniru ulung,” ujarnya.

Di pesantren, kebiasaan menulisnya semakin kuat karena tidak diperbolehkan memakai gawai. ”Menulis menjadi cara bertualang sekaligus cara mengatasi sepi yang sehat,” tuturnya. Dia menulis apa saja, dari catatan kecil hingga kalimat-kalimat yang bahkan dia sendiri belum tahu akan menjadi apa.

Ketika mulai mengajar, kebiasaan literasinya tidak pudar meski ritme hidup cukup padat. Yohan hampir setiap pekan melakukan perjalanan Malang–Blitar. Dia mengajar dari Senin sampai Jumat, kemudian pulang setelah sekolah. Di antara pekerjaan mengoreksi tumpukan tugas dan administrasi, dia tetap menyempatkan membaca atau menulis. ”Misalkan saya hanya punya waktu 15 menit setelah mengoreksi tumpukan tugas, 15 menit itu cukup untuk membaca barang beberapa paragraf, menulis barang beberapa baris, atau sekadar mencatat selintas ide di catatan ponsel,” katanya. Baginya, menjaga ritme lebih penting daripada memiliki waktu panjang.

Dicontoh Murid

Yohan sebenarnya tidak memasang target atau ambisi besar untuk meraih prestasi. Yang dia lakukan hanya mengerjakan sesuatu sebaik mungkin dan memberi ruang bagi disiplin untuk bekerja perlahan. Tapi, kebiasaan itu dilihat murid-muridnya. ”Sejujurnya, saya tidak pernah bermaksud menjadi contoh,” ujar Yohan.

Baca Juga

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Meski begitu, dia percaya bahwa tindakan lebih kuat dibanding nasihat. Dia melihat beberapa anak mulai tertarik menulis karena melihat kegiatannya.

Prestasinya di dunia literasi memang tidak serta-merta berdampak pada karier formalnya sebagai guru. Tapi, membuka peluang berbeda. ”Yang jelas, menulis memberi saya ruang untuk dipercaya,” katanya. Kepercayaan itu datang dalam bentuk kesempatan berbagi ilmu, kesempatan menulis lebih luas, hingga peluang menjadi editor dan juri.

Ke depan, Yohan tidak ingin memilih salah satu jalur. Dia ingin tetap berada di dua jalur itu selama mungkin. ”Mengajar menjaga agar tetap membumi, menulis menjaga saya tetap bermimpi,” ujarnya. (lyn/mad)

Galeri Foto

PRODUKTIF: Karya Yohan Fikri ditetapkan sebagai Naskah Terbaik IV Lomba Kritik Sastra Piala H.B. Jassin 2025.
Klik untuk perbesar
Dok Yohan Fikri

PRODUKTIF: Karya Yohan Fikri ditetapkan sebagai Naskah Terbaik IV Lomba Kritik Sastra Piala H.B. Jassin 2025.

Bagikan artikel ini

Most Read

1

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Sosok & Sisi Lain
2

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Sosok & Sisi Lain

Berita Terbaru

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Sosok & Sisi Lain•1 Desember 2025
Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Sosok & Sisi Lain•26 November 2025
Home
›Sosok & Sisi Lain
›Mengajar agar Tetap Membumi, Menulis supaya Terus Bermimpi
BERBAKAT: Yohan Fikri (kanan) menerima Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2025
dari Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq di Jakarta (29/10).
Sosok & Sisi Lain

Mengajar agar Tetap Membumi, Menulis supaya Terus Bermimpi

Editor-25 November 2025
Klik untuk perbesar

BERBAKAT: Yohan Fikri (kanan) menerima Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2025 dari Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq di Jakarta (29/10).

Dok Yohan Fikri

Bagikan artikel ini

Di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang, pria bernama lengkap Yohan Fikri Mu’tashim itu menjalani hari-hari sebagai guru bahasa Indonesia. Tapi, bagi murid dan rekan yang mengenalnya, Yohan bukan sekadar pengajar. Dia juga seorang penyair, esais, editor, dan pembaca tekun yang membawa semangat literasi ke ruang-ruang kelas tanpa banyak bicara.

Tahun ini Yohan memetik buah dari perjalanan panjangnya di dunia kepenulisan. Pada 15 Oktober lalu, dia menerima Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur kategori karya sastra Indonesia lewat buku puisinya, Anjing-Anjing Lepas Amarah. Karya yang sama juga memperoleh Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2025 kategori kumpulan puisi pada 29 Oktober. Masih di bulan yang sama, esainya berjudul Kecamuk Citra, Kiamat Bentuk: Telisik Puitika ”Paus Merah Jambu” Zen Hae dinobatkan sebagai Naskah Terbaik IV Lomba Kritik Sastra Piala H.B. Jassin pada 19 Oktober.

Mengalir seperti Air

Menariknya, perjalanan Yohan menjadi guru tidak dimulai dari rencana panjang atau cita-cita masa kecil. ”Tidak ada keinginan. Kalau kata orang Jawa, urip sakmiline banyu (hidup mengalir seperti air, Red),” katanya.

Setelah lulus kuliah dan bersiap melanjutkan S-2, dia merasa satu tahun tanpa aktivitas justru akan melelahkan. Mengajar menjadi keputusan sederhana yang belakangan justru membentuk identitasnya. ”Tidak semua hal yang menjadi jalan hidup harus berangkat dari alasan dan kesadaran untuk memilih itu sejak awal,” imbuh lulusan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang itu.

Baca Juga

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Menurun dari Ayah

Sebelum mengajar, Yohan lebih dulu akrab dengan dunia membaca dan menulis. Dia menelusuri akar kegemarannya itu dari keluarga. Ayahnya adalah seorang pembaca tekun, terutama kitab kuning dan koleksi buku-buku yang dimilikinya. ”Saya kira, seorang anak ialah seorang peniru ulung,” ujarnya.

Di pesantren, kebiasaan menulisnya semakin kuat karena tidak diperbolehkan memakai gawai. ”Menulis menjadi cara bertualang sekaligus cara mengatasi sepi yang sehat,” tuturnya. Dia menulis apa saja, dari catatan kecil hingga kalimat-kalimat yang bahkan dia sendiri belum tahu akan menjadi apa.

Ketika mulai mengajar, kebiasaan literasinya tidak pudar meski ritme hidup cukup padat. Yohan hampir setiap pekan melakukan perjalanan Malang–Blitar. Dia mengajar dari Senin sampai Jumat, kemudian pulang setelah sekolah. Di antara pekerjaan mengoreksi tumpukan tugas dan administrasi, dia tetap menyempatkan membaca atau menulis. ”Misalkan saya hanya punya waktu 15 menit setelah mengoreksi tumpukan tugas, 15 menit itu cukup untuk membaca barang beberapa paragraf, menulis barang beberapa baris, atau sekadar mencatat selintas ide di catatan ponsel,” katanya. Baginya, menjaga ritme lebih penting daripada memiliki waktu panjang.

Dicontoh Murid

Yohan sebenarnya tidak memasang target atau ambisi besar untuk meraih prestasi. Yang dia lakukan hanya mengerjakan sesuatu sebaik mungkin dan memberi ruang bagi disiplin untuk bekerja perlahan. Tapi, kebiasaan itu dilihat murid-muridnya. ”Sejujurnya, saya tidak pernah bermaksud menjadi contoh,” ujar Yohan.

Baca Juga

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Meski begitu, dia percaya bahwa tindakan lebih kuat dibanding nasihat. Dia melihat beberapa anak mulai tertarik menulis karena melihat kegiatannya.

Prestasinya di dunia literasi memang tidak serta-merta berdampak pada karier formalnya sebagai guru. Tapi, membuka peluang berbeda. ”Yang jelas, menulis memberi saya ruang untuk dipercaya,” katanya. Kepercayaan itu datang dalam bentuk kesempatan berbagi ilmu, kesempatan menulis lebih luas, hingga peluang menjadi editor dan juri.

Ke depan, Yohan tidak ingin memilih salah satu jalur. Dia ingin tetap berada di dua jalur itu selama mungkin. ”Mengajar menjaga agar tetap membumi, menulis menjaga saya tetap bermimpi,” ujarnya. (lyn/mad)

Galeri Foto

PRODUKTIF: Karya Yohan Fikri ditetapkan sebagai Naskah Terbaik IV Lomba Kritik Sastra Piala H.B. Jassin 2025.
Klik untuk perbesar
Dok Yohan Fikri

PRODUKTIF: Karya Yohan Fikri ditetapkan sebagai Naskah Terbaik IV Lomba Kritik Sastra Piala H.B. Jassin 2025.

Most Read

1

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Sosok & Sisi Lain
2

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Sosok & Sisi Lain

Berita Terbaru

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Sosok & Sisi Lain•1 Desember 2025
Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Sosok & Sisi Lain•26 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001