Loading...
Kamis Pahing, 19 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Sosok & Sisi Lain
Home
›Sosok & Sisi Lain

Mengikuti Jejak Remy Sylado

Editor-Sosok & Sisi Lain
25 November 2025
BERGENGSI: Cicilia Oday setelah menghadiri Malam Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.
Klik untuk perbesar
Dok Cicilia Oday

BERGENGSI: Cicilia Oday setelah menghadiri Malam Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Di tengah perayaan Hari Guru Nasional, ada satu nama yang layak disorot. Dia adalah Cicilia Oday, guru honorer SMK Yadika di pelosok Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Novelnya yang berjudulDuri dan Kutuk baru saja meraih anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, salah satu penghargaan sastra bergengsi tanah air.

Cicilia memilih profesi guru bukan hanya karena kebutuhan, tapi kedekatannya dengan dunia membaca dan menulis. ”Saya memilih pekerjaan ini karena guru dekat dengan literasi. Selain mengajar, saya dituntut banyak membaca,” ujarnya. Bagi Cicilia, profesi guru menjadi landasan yang memperkaya proses kreatifnya. Sebab, mengajar dan menulis bisa saling mendukung.

Sehari-hari, Cicilia mengampu mata pelajaran sejarah dan bahasa daerah. Dua bidang ajar itu dinilainya sarat interpretasi dan narasi sekaligus relevan dengan dunia kepenulisan.

Tapi, Cicilia kerap menghadapi dilema dalam mengajar, terutama saat harus memilih antara materi sejarah yang konservatif atau menyisipkan sudut pandang kritis. ”Kalau hanya mengikuti buku, anak-anak tidak mendapat gambaran utuh. Tapi, kalau terlalu kritis, bisa juga dipertanyakan,” ungkapnya.

Cicilia merupakan penulis kedua dari Sulawesi Utara yang berhasil meraih Kusala Sastra Khatulistiwa. Sebelumnya ada sastrawan Remy Sylado yang meraih penghargaan serupa pada 2002 berkat Kerudung Merah Kirmizi. Penghargaan itu turut memantik Cicilia untuk berbagi proses kreatif ke sekolah-sekolah di Manado.

Pesan untuk Para Guru

Baca Juga

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Pada momen Hari Guru Nasional ini, Cicilia berpesan agar setiap guru, baik honorer maupun ASN, berani mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah. Sebab, kata dia, guru sering dipandang profesi yang bersahaja. ”Tapi, kita jangan berhenti di situ. Banyak hal yang bisa digali, entah menulis, berkarya, atau bahkan membuat konten edukasi,” katanya.

Di tengah dinamika pendidikan dan perubahan kurikulum, Cicilia berharap literasi tetap menjadi tonggak penting dalam pembelajaran. Dia percaya membaca dan menulis bukan hanya tentang mengumpulkan data, tetapi juga membangun karakter.

Bagi dia, menjadi guru berarti menjadi pembelajar seumur hidup dan menulis adalah salah satu cara untuk memberi makna lebih pada pengabdian itu. Seperti diungkapkan Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. ”Menjadi guru dan menulis itu seperti dua kaki. Keduanya harus seimbang agar bisa berjalan lebih jauh,” ujarnya. (zam/mad)

Galeri Foto

DEKAT DENGAN LITERASI: Profesi guru
menjadi landasan yang memperkaya
proses kreatif Cicilia Oday
Klik untuk perbesar
Dok Cicilia Oday

DEKAT DENGAN LITERASI: Profesi guru menjadi landasan yang memperkaya proses kreatif Cicilia Oday

Bagikan artikel ini

Most Read

1

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Sosok & Sisi Lain
2

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Sosok & Sisi Lain

Berita Terbaru

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Sosok & Sisi Lain•1 Desember 2025
Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Sosok & Sisi Lain•26 November 2025
Home
›Sosok & Sisi Lain
›Mengikuti Jejak Remy Sylado
BERGENGSI: Cicilia Oday setelah menghadiri Malam Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.
Sosok & Sisi Lain

Mengikuti Jejak Remy Sylado

Editor-25 November 2025
Klik untuk perbesar

BERGENGSI: Cicilia Oday setelah menghadiri Malam Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Dok Cicilia Oday

Bagikan artikel ini

Di tengah perayaan Hari Guru Nasional, ada satu nama yang layak disorot. Dia adalah Cicilia Oday, guru honorer SMK Yadika di pelosok Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Novelnya yang berjudulDuri dan Kutuk baru saja meraih anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, salah satu penghargaan sastra bergengsi tanah air.

Cicilia memilih profesi guru bukan hanya karena kebutuhan, tapi kedekatannya dengan dunia membaca dan menulis. ”Saya memilih pekerjaan ini karena guru dekat dengan literasi. Selain mengajar, saya dituntut banyak membaca,” ujarnya. Bagi Cicilia, profesi guru menjadi landasan yang memperkaya proses kreatifnya. Sebab, mengajar dan menulis bisa saling mendukung.

Sehari-hari, Cicilia mengampu mata pelajaran sejarah dan bahasa daerah. Dua bidang ajar itu dinilainya sarat interpretasi dan narasi sekaligus relevan dengan dunia kepenulisan.

Tapi, Cicilia kerap menghadapi dilema dalam mengajar, terutama saat harus memilih antara materi sejarah yang konservatif atau menyisipkan sudut pandang kritis. ”Kalau hanya mengikuti buku, anak-anak tidak mendapat gambaran utuh. Tapi, kalau terlalu kritis, bisa juga dipertanyakan,” ungkapnya.

Cicilia merupakan penulis kedua dari Sulawesi Utara yang berhasil meraih Kusala Sastra Khatulistiwa. Sebelumnya ada sastrawan Remy Sylado yang meraih penghargaan serupa pada 2002 berkat Kerudung Merah Kirmizi. Penghargaan itu turut memantik Cicilia untuk berbagi proses kreatif ke sekolah-sekolah di Manado.

Pesan untuk Para Guru

Baca Juga

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Pada momen Hari Guru Nasional ini, Cicilia berpesan agar setiap guru, baik honorer maupun ASN, berani mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah. Sebab, kata dia, guru sering dipandang profesi yang bersahaja. ”Tapi, kita jangan berhenti di situ. Banyak hal yang bisa digali, entah menulis, berkarya, atau bahkan membuat konten edukasi,” katanya.

Di tengah dinamika pendidikan dan perubahan kurikulum, Cicilia berharap literasi tetap menjadi tonggak penting dalam pembelajaran. Dia percaya membaca dan menulis bukan hanya tentang mengumpulkan data, tetapi juga membangun karakter.

Bagi dia, menjadi guru berarti menjadi pembelajar seumur hidup dan menulis adalah salah satu cara untuk memberi makna lebih pada pengabdian itu. Seperti diungkapkan Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. ”Menjadi guru dan menulis itu seperti dua kaki. Keduanya harus seimbang agar bisa berjalan lebih jauh,” ujarnya. (zam/mad)

Galeri Foto

DEKAT DENGAN LITERASI: Profesi guru
menjadi landasan yang memperkaya
proses kreatif Cicilia Oday
Klik untuk perbesar
Dok Cicilia Oday

DEKAT DENGAN LITERASI: Profesi guru menjadi landasan yang memperkaya proses kreatif Cicilia Oday

Most Read

1

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Sosok & Sisi Lain
2

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Sosok & Sisi Lain

Berita Terbaru

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Menhut Dukung Penyelamatan Gajah Domang

Sosok & Sisi Lain•1 Desember 2025
Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Nunuk Mengajar dengan Jajan Pasar

Sosok & Sisi Lain•26 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001