Di tengah perayaan Hari Guru Nasional, ada satu nama yang layak disorot. Dia adalah Cicilia Oday, guru honorer SMK Yadika di pelosok Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Novelnya yang berjudulDuri dan Kutuk baru saja meraih anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, salah satu penghargaan sastra bergengsi tanah air.
Cicilia memilih profesi guru bukan hanya karena kebutuhan, tapi kedekatannya dengan dunia membaca dan menulis. ”Saya memilih pekerjaan ini karena guru dekat dengan literasi. Selain mengajar, saya dituntut banyak membaca,” ujarnya. Bagi Cicilia, profesi guru menjadi landasan yang memperkaya proses kreatifnya. Sebab, mengajar dan menulis bisa saling mendukung.
Sehari-hari, Cicilia mengampu mata pelajaran sejarah dan bahasa daerah. Dua bidang ajar itu dinilainya sarat interpretasi dan narasi sekaligus relevan dengan dunia kepenulisan.
Tapi, Cicilia kerap menghadapi dilema dalam mengajar, terutama saat harus memilih antara materi sejarah yang konservatif atau menyisipkan sudut pandang kritis. ”Kalau hanya mengikuti buku, anak-anak tidak mendapat gambaran utuh. Tapi, kalau terlalu kritis, bisa juga dipertanyakan,” ungkapnya.
Cicilia merupakan penulis kedua dari Sulawesi Utara yang berhasil meraih Kusala Sastra Khatulistiwa. Sebelumnya ada sastrawan Remy Sylado yang meraih penghargaan serupa pada 2002 berkat Kerudung Merah Kirmizi. Penghargaan itu turut memantik Cicilia untuk berbagi proses kreatif ke sekolah-sekolah di Manado.
Pesan untuk Para Guru
Pada momen Hari Guru Nasional ini, Cicilia berpesan agar setiap guru, baik honorer maupun ASN, berani mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah. Sebab, kata dia, guru sering dipandang profesi yang bersahaja. ”Tapi, kita jangan berhenti di situ. Banyak hal yang bisa digali, entah menulis, berkarya, atau bahkan membuat konten edukasi,” katanya.
Di tengah dinamika pendidikan dan perubahan kurikulum, Cicilia berharap literasi tetap menjadi tonggak penting dalam pembelajaran. Dia percaya membaca dan menulis bukan hanya tentang mengumpulkan data, tetapi juga membangun karakter.
Bagi dia, menjadi guru berarti menjadi pembelajar seumur hidup dan menulis adalah salah satu cara untuk memberi makna lebih pada pengabdian itu. Seperti diungkapkan Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. ”Menjadi guru dan menulis itu seperti dua kaki. Keduanya harus seimbang agar bisa berjalan lebih jauh,” ujarnya. (zam/mad)




