Purnatugas TNI Angkatan Udara Iswantiyo menemukan babak baru dalam hidupnya melalui aktivitas yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Yakni, baking bolu pisang. Dengan semangat belajar yang tak pernah padam, dia memaknai pensiun sebagai fase untuk tetap produktif.
Saat ini, pesanan bolu pisang datang hampir setiap hari. Kini, Iswantiyo dibantu tiga baker lain untuk memenuhi permintaan. Produksinya kini mencapai 80–90 loyang per hari. ’’Kegiatan baking bukan sekadar usaha, tapi sumber semangat baru,’’ katanya.
Pesanan meningkat setelah videonya membuat bolu pisang viral. Laki-laki 65 tahun itu mengatakan, video viral tersebut hasil rekaman anaknya. Saat itu, Iswantiyo membuat bolu pisang saat anaknya pulang ke rumah. ’’Saya ini nggak punya media sosial, jadi nggak tahu viral itu apa. Tahu-tahu anak saya, Yusfa bilang banyak yang nonton dan minta dibuatkan (bolu pisang, Red),’’ ujarnya.
Ide dari Teman yang Datang ke Rumah
Perkenalannya dengan bolu pisang dimulai dari kedatangan teman sesama pensiunan ke rumahnya. Saat itu, dia meelihat banyaknya pisang ambun matang di kebunnya. Dari sana, dia mendapat ide membuat bolu pisang. ’’Teman saya bilang, kalau punya pisang banyak jangan cuma dimakan, bisa dibuat bolu pisang. Dari situ saya cari-cari resep dan mulai bereksperimen,’’ ceritanya.
Eksperimen tersebut tidak langsung berhasil. Dia mengaku mencoba hingga tujuh kali sebelum akhirnya menemukan komposisi yang pas. ’’Saya hampir putus asa. Saya bilang ke istri, kayaknya saya nggak bakat bikin roti, sudah beli saja kalau pengin. Tapi saya masih coba lagi,’’ katanya.
Belajar Otodidak
Iswantiyo tak pernah menyangka masa pensiunnya justru dipenuhi dengan aktivitas baking. Setiap hari, dapurnya di kawasan Jogjakarta tak pernah sepi dari suara mixer dan aroma pisang ambon yang dipanggang. ’’Saya itu sebenarnya tidak punya latar belakang hobi baking. Mulainya betul-betul setelah pensiun, dari nol,’’ ujarnya saat dihubungi Jawa Pos dari Surabaya. ’’Motivasi awalnya hanya untuk mencari kegiatan agar istri bisa berhenti berdagang di pasar dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah,’’ lanjutnya.
Iswantiyo belajar baking secara otodidak. Dia mencoba berbagai macam kue, mulai dari bolu marmer hingga bika ambon. ’’Berkali-kali gagal. Bolunya keras, bantat. Tapi saya terus coba,’’ kenangnya lantas tertawa. Setiap ada saudara datang, justru menjadikan momen untuk trial, meskipun hasilnya belum sempurna.
Sempat Jadi Satpam hingga Driver Online
Sebelum memulai baking, Iswantiyo sempat mencoba berbagai pekerjaan pascapensiun. Mulai satpam hingga driver online. Namun semuanya membuatnya merasa kembali tertekan dan terbebani target. ’’Sekarang hidup lebih menyenangkan, lebih santai, lebih bermanfaat juga. Saya jadi bisa memberi pekerjaan untuk orang lain,’’ tuturnya.
Dia juga merasakan manfaat pada kesehatan fisik dn mentalnya. ’’Dulu, sebelum ada aktivitas ini (baking), semangat hidup sempat turun. Badan mudah meriang, pikiran kemana-mana. Setelah sibuk baking, badan lebih sehat dan pikiran lebih segar,’’ ungkapnya.
Menurut Iswantiyo, tetap aktif di usia pensiun sangatlah penting. ’’Pensiun itu bukan berhenti. Pikiran itu seperti pisau, kalau sering dipakai malah makin tajam. Tubuh juga lebih sehat kalau terus bergerak,’’ katanya.
Dia berpesan kepada para pensiunan yang masih ragu memulai hal baru. ’’Tidak ada kata terlambat. Pensiun justru awal babak baru untuk hidup yang lebih bermakna. Teruslah bergerak dan berkarya. Tenaga mungkin berkurang, tapi hikmah dan pengalaman bertambah,’’ paparnya. (lai/ai)



