Konsisten memberikan edukasi dan wawasan menjadi upaya efektif menghapus stigma negatifdown syndrome. Misi itu menjadi tema gelaran Konsultasi dan Pemeriksaan Kesehatan Penyandang Down Syndrome: Tumbuh, Berkembang, dan Bermakna. Acara tersebut diinisiasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan Pusat Informasi dan Kegiatan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (PIK POTADS) Jawa Timur.
Event itu berlangsung di Ruang Nirwana dan Kahyangan, Shangri-La Hotel, Jumat (31/10). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan Down Syndrome Awareness Month (DSAM) 2025. Melalui momentum tersebut, penyelenggara mengampanyekan kesadaran publik atas stigma negatif yang selama ini melekat pada penyandang down syndrome. Peserta yang hadir dalam acara itu sekitar 150 orang.
Seluruh peserta datang bersama orang tua dan mendapat fasilitas cek kesehatan gratis. Pemeriksaan itu turut melibatkan 11 organisasi serta praktisi kesehatan. Mulai dari dokter spesialis anak, mata, THT, gigi anak, psikiater, hingga psikolog. Pelayanan terpadu itu diharapkan membantu memonitor tumbuh kembang penyandang down syndrome sejak dini.
Dorong Potensi Anak
Ketua pelaksana acara Harry Febryanto menegaskan pentingnya membuka wawasan masyarakat mengenai down syndrome. Ia menuturkan bahwa kondisi tersebut kerap dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. ”Ini bukan kutukan dan bukan penyakit. down syndrome merupakan kondisi genetik akibat ketidakseimbangan kromosom,” ujar Harry yang merupakan dokter spesialis anak itu.
Selain pemeriksaan kesehatan, acara itu juga memamerkan kemampuan tumbuh kembang peserta. Mereka tampil dalam sesi lukis on the spot, pertunjukan tari tradisional, hingga orkestra angklung. Seluruh kegiatan itu dirancang untuk mendorong potensi seni dan motorik peserta.
Rangkaian kegiatan itu mendapat apresiasi dari para orang tua. Salah seorangnya adalah Fatma Paramytha Roostadji yang mengantarkan putranya, Mohammad Ikhtiar Razaq. Menurutnya, acara itu menjadi energi positif bagi orangtua. ”Semoga ke depan tidak ada lagi diskriminasi kepada anak down syndrome,” ungkap Myta, sapaan Fatma Paramytha Roostadji.



