Berdasarkan hasil PISA tahun 2022, 99 persen siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal pada level 1–3.
Berangkat dari data tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencanangkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Saat ini, guru seni mulai memadukan deep learning dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk menumbuhkan kreativitas siswa. Penerapan pembelajaran mendalam menjadikan pembelajaran seni lebih hidup, bermakna, dan penuh eksplorasi ide.
Dalam mata pelajaran Seni Budaya, seni lukis merupakan wadah ekspresi dan imajinasi berbentuk visual. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit siswa yang kesulitan menemukan ide. Di sinilah AI hadir sebagai teman berkreasi.
AI dapat mewujudkan visual awal dari deskripsi kata, seperti “Suasana senja di antariksa” atau “Kota masa depan di dasar laut”. Gambar-gambar ini menjadi sumber inspirasi, bukan hasil akhir sebuah karya.
Pendekatan deep learning mengarahkan siswa memahami proses, bukan sekadar meniru hasil. Siswa diajak bereksperimen, menafsirkan, dan mengekspresikan ide dengan gaya mereka sendiri berdasarkan kehidupan sehari-hari.
Melalui tahap memahami, mengaplikasikan, dan merefleksi, siswa mendapatkan pengalaman belajar secara holistik dengan kegiatan belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Penerapan deep learning dalam seni lukis dengan bantuan AI membawa banyak manfaat bagi siswa. Teknologi ini membantu mereka lebih kreatif karena dapat mencoba berbagai ide tanpa batas. Rasa percaya diri pun tumbuh, terutama saat terbantu di tahap awal membuat karya.
Siswa juga belajar berpikir kritis ketika menilai dan mengubah hasil gambar dari AI agar sesuai dengan selera dan imajinasi mereka sendiri. Selain itu, penggunaan AI meningkatkan literasi digital siswa karena mereka belajar mengenal teknologi dengan cara yang bijak dan bertanggung jawab.
Guru dapat menanamkan nilai penting bahwa AI bukan pengganti kreativitas, melainkan alat bantu untuk memperluas wawasan visual dan berpikir imajinatif. Pembelajaran mendalam menekankan peran guru sebagai fasilitator yang mampu memandu kreativitas di era digital. Dalam pembelajaran berbasis AI, guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan.
Guru berperan sebagai fasilitator kreativitas, membantu siswa berdialog dengan teknologi dan mengarahkan eksplorasi seni. Dengan pendekatan yang tepat, guru dapat menjadikan teknologi sebagai sahabat dalam menumbuhkan kreativitas.
Penerapan pembelajaran mendalam yang terintegrasi AI dalam pelajaran seni lukis merupakan langkah nyata menuju pendidikan yang kreatif dan relevan dengan zaman.
Dengan sentuhan guru, siswa, dan kecerdasan buatan yang berpadu harmonis, kelas seni di masa depan akan menjadi ruang di mana imajinasi dan teknologi berjalan beriringan, menumbuhkan karakter kreatif yang terus berkembang. (*/ris)



