Para penggila mobil Volkswagen seolah menolak tunduk pada zaman. Mereka adalah penjaga sejarah otomotif yang masih setia merawat mobil kolonial di era kendaraan modern.
Spirit itu pula yang dipegang anggota Volkswagen (VW) Wijaya Jawa Timur. Komunitas yang lahir 28 tahun lalu tersebut menjadi tempat bernaung bagi ratusan pemilik jenis mobil VW, mulai kodok, safari, Karmann Ghia, hingga kombi. Mereka tidak hanya berbagi pengetahuan soal perawatan mobil, tapi juga membangun semangat persaudaraan lintas daerah.
Bendahara VW Wijaya Jatim Trisnadi Marjan menyatakan, ide mendirikan komunitas muncul dari obrolan ringan dan nongkrong bareng sesama pengguna VW. Tujuannya, menambah teman dan jaringan penggemar mobil kuno buatan Jerman tersebut.
”Kini anggota aktif komunitas ini sebanyak 500 orang. Mereka tersebar di berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, hingga Banyuwangi,” katanya, Kamis (30/10).
Pria yang akrab disapa Tris itu menjelaskan, jenis mobil yang tergabung beragam. Ada VW Kodok yang legendaris, VW Kombi yang ikonik, hingga Karmann Ghia yang kini harganya menembus Rp 2,2 miliar karena sangat langka di Indonesia.
Begitu pula VW Kodok. Dulu harganya hanya puluhan juta, kini sudah naik berkali lipat hingga di atas Rp 150 juta. Menurut Tris, besaran harga bergantung tahun dan kondisi mobil. Meski begitu, bagi pencinta mobil klasik, hal itu bukan masalah besar. Sebab, ada ikatan emosional yang sulit dijelaskan.
”Kalau orang sudah punya VW satu, pasti ingin punya lagi. VW itu bukan cuma kendaraan, tapi bagian dari hidup,” ujarnya.
Touring Lintas Daerah
Setiap tahun, VW Wijaya Jatim rutin menggelar touring lintas kota dan provinsi. Rutenya berganti-ganti, mulai Malang, Jogjakarta, Semarang, Bandung, hingga Jakarta. Selain itu, anggota VW Wijaya Jatim kerap menghadiri acara VW internasional yang mempertemukan komunitas luar negeri seperti Malaysia dan Thailand.
Misalnya, acara kopdar di Malang beberapa bulan lalu. Komunitas asal Malaysia datang langsung dan kagum melihat antusiasme anggota VW di Jatim. Mereka bilang komunitas ini sangat guyub dan terorganisasi. Sementara di Malaysia, antaranggota masih bersikap individualis.
”Hubungan antarkomunitas membuka peluang tukar pikiran hingga tukar suku cadang. Kalau mau cari spare part yang langka, biasanya ke Thailand. Di sana koleksi spare part-nya lebih lengkap,” terangnya.
Kegiatan Sosial
Meski dikenal sebagai komunitas otomotif, aktivitas VW Wijaya Jatim tak melulu berpusat pada kendaraan. Mereka juga aktif dalam kegiatan sosial. Saat terjadi bencana, misalnya, komunitas tersebut menggalang donasi untuk membantu korban. Dana terkumpul dari hasil patungan anggota.
”Bagi kami, kebersamaan bukan hanya ketika konvoi di jalan, tapi juga saat berbagi dengan sesama. Sebab, VW merupakan simbol solidaritas sehingga harus saling menolong antarsesama,” tuturnya.
Sensasi Berkendara
Tris dan kolega merasa ada kepuasan tersendiri saat melajukan mobil tua di tengah lalu lintas. Setiap berhenti di lampu merah, banyak pengendara lain yang melihat mobil klasik dengan bentuk unik tersebut. Tris pun mengaku sangat bangga.
”Pemilik VW biasanya orang yang setia. Mobil aja dirawat, apalagi istri,” katanya, lantas tertawa.
Menurut dia, setiap jenis VW punya karakter tersendiri. VW Kodok lebih lincah dikendarai dalam kota, sedangkan VW Kombi lebih nyaman untuk perjalanan jauh.
”Kalau buat luar kota, kombi enak banget. Ruang duduknya lega, posisi setir pas, enggak bikin capek,” ucap Tris.
Tapi, apa pun tipenya, setiap pemilik VW punya cerita dan kebanggaan sendiri. Mobil tua itu bukan sekadar alat transportasi. Lebih dari itu, ia menjadi saksi perjalanan, teman ngobrol, sekaligus simbol kesetiaan.
Mesin Kering dan Halus, Oli Jangan Sampai Bocor
Merawat mobil VW klasik butuh kesabaran ekstra. Namun, hal itu justru menjadi kesenangan tersendiri bagi anggota VW Wijaya Jatim. Bicara kondisi mobil, Tris menyebut setiap detail punya arti. Tidak hanya tampilan luar, tapi juga bagaimana mesin bekerja.
”Yang penting rajin ganti oli, cek kabel, dan perawatan ringan lainnya. Kalau mogok, biasanya cuma sepele, misalnya spuyer mampet. Tinggal ditiup, beres,” katanya.
Saat pengecekan kondisi mobil, lanjut dia, bagian dalam sering luput dari perhatian. Salah satunya mesin. Setiap komponen harus diperhatikan secara teliti. Yang paling utama, menurut Tris, mesin mobil dalam kondisi kering, oli tidak bocor, dan suara halus.
”Suara mesin yang halus dan tidak bergetar berlebihan menandakan sistem pembakaran dan pelumasan bekerja normal. Sementara kebocoran oli atau rembesan kecil bisa menjadi tanda awal masalah serius,” ujarnya. Karena itu, sekali lagi, pengecekan mesin harus dilakukan rutin.
Bagi penggemar baru yang ingin membeli VW, Tris berpesan agar mereka lebih teliti. ”Periksa nomor rangka dan nomor mesin, pastikan sesuai surat. Sebab, banyak VW yang ganti mesin tanpa update dokumen. Jangan sampai tertipu,” tegasnya. (ian/mad)




