SURABAYA – Pengunjung Museum Sepuluh Nopember terlihat antusias melihat tampilan teknologi visual imersif Minggu (23/11). Tampilan itu bagian dari pameran Cross Musea Bajawara yang berlangsung hingga akhir November. Dengan teknologi imersif, pengunjung seolah dibawa ke masa lalu.
Di lantai dua, pengunjung dapat menikmati visualisasi yang berisi narasi sejarah Surabaya melalui proyeksi cahaya dan audio. Ruangan itu menjadi salah satu titik favorit karena banyak pengunjung memilih menonton hingga selesai.
Menurut Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya Saidatul Ma'munah, teknologi imersif untuk penyajian museum menjadi lebih hidup sudah pernah pula diperlihatkan di Museum Dr Soetomo di Bubutan. Dia menyebut pameran Cross Musea Bajawara melibatkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Museum Pers Solo, Museum Islam Nusantara Jombang, serta Museum Sepuluh Nopember sebagai tuan rumah.
”Format kolaboratif seperti ini penting untuk memperkaya pengetahuan publik mengenai sejarah,” ungkapnya.
Berdasar pantauan Jawa Pos, konten pameran disajikan dalam bentuk panel informasi, foto dokumentasi, dan benda koleksi yang dibawa langsung oleh museum peserta. Misalnya manuskrip kuno dari Museum Islam Nusantara Jombang. Sementara Museum Pers Solo menghadirkan kamera, pemancar radio, dan perjalanan museum pers.
”Ada kegiatan lain ya, ada seperti seminar Bu Dar Mortir, final lomba deklamasi puisi, dan lainnya,” ungkapnya. (zam/jun)




