SIDOARJO – Banjir sudah melanda kawasan Tanggulangin selama sepekan. Hingga hari ini, masih ada tujuh desa di kecamatan tersebut yang terendam air. Sebanyak 49 rukun tetangga (RT) juga masih terdampak bencana alam.
Adapun tujuh desa yang saat ini digenangi air yakni Penatarsewu, Banjarpanji, Banjarasri, Kedungbanteng, Kalidawir, Gempolsari, dan Sentul. Ketinggian air di masing-masing desa beragam. ”Banjir selalu terjadi pada akhir November hingga Desember,” kata Plt Kalaksa BPBD Sidoarjo Sabino Mariano.
Pria yang juga Camat Tanggulangin itu mengatakan bahwa seluruh rumah pompa di Tanggulangin telah beroperasi penuh sebagai langkah awal pengendalian bencana. ”Banjir tertinggi di Kedungbanteng. Ketinggiannya sampai 40 sentimeter dan terjadi di hampir seluruh RT,” tambah Sabino
Pertimbangkan Status Darurat
Dia mengatakan jika penanganan masih terus dilakukan di lapangan. Jika intensitas hujan meningkat, pihaknya akan mengusulkan langkah lanjutan kepada pemkab. Termasuk kemungkinan penetapan status siaga hingga darurat. ”Posko banjir juga bisa kami buka seperti tahun sebelumnya. Tergantung skala kejadiannya,” paparnya.
Rumah Pompa Ditambah
Banjir yang tahunan terjadi di wilayah timur Tanggulangin dikeluhkann warga. Salah satu warga Desa Banjarasri, Irul, mengatakan bahwa wilayah Banjarasri dan Kedungbanteng memiliki kontur cekung sehingga rawan tergenang saat hujan deras turun. ”Pompanya di Banjarasri hanya satu dan sering mati, ini saja harus pakai swadaya warga buat nyalakan,” katanya.
Irul menilai penanganan harus lebih serius, mulai penambahan kapasitas pompa hingga pembenahan aliran sungai. ”Tentunya perlu ditambah pompa, apalagi pompa yang ada di Desa Banjarsari,” ungkapanya.
Irul juga meminta agar sungai di Banjarasri diperlebar dan ditinggikan lantaran kondisinya sudah tidak mampu menampung debit air. Ia berharap solusi jangka panjang segera disiapkan agar warga tidak terus menjadi korban setiap memasuki musim hujan. (eza/hen)



