Loading...
Jumat Pon, 20 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Finansial
Home
›Finansial

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Editor-Finansial
25 November 2025
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti
Klik untuk perbesar
Dokumen Bank Indonesia

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti

Penyaluran Kredit Berkelanjutan Capai 26,24 Persen dari Total Kredit Nasional

BADUNG -- Bank Indonesia (BI) menyalurkan insentif makroprudensial Rp 36,38 triliun hingga 1 November 2025 untuk bank-bank yang aktif membiayai sektor hijau. Kebijakan tersebut menjadi pendorong tambahan untuk memperluas pembiayaan berkelanjutan di sektor perbankan.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebutkan bahwa insentif ini bagian dari strategi besar otoritas moneter mendorong pembangunan berkelanjutan. “Seluruh kebijakan dan inisiatif ini kami susun untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif,” ujarnya Senin (24/11).

Beli Kredit Karbon

Sehari sebelumnya, BI menggelar penanaman 1.000 pohon mangrove di Teluk Benoa. Secara akumulasi, Bank Indonesia sudah menanam 37 ribu pohon dan membeli kredit karbon 150 ton CO₂e untuk mengompensasi emisi dari aktivitas ekonomi. Upaya pengurangan emisi juga dilakukan melalui pendampingan 159 UMKM hijau, termasuk fasilitasi business matching pembiayaan.

Kepala Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau BI Nita Anastuty menyebutkan, minat bank terhadap pembiayaan hijau terus meningkat. “Ini juga sudah dijadikan acuan oleh beberapa perbankan untuk menyalurkan hijaunya,” katanya.

Dominasi Himbara

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit hijau masih didominasi himpunan bank milik negara (Himbara). “Tren positif mulai terlihat pada bank swasta nasional dan BPD yang mulai mengembangkan portofolio hijau serta produk berorientasi environmental, social, and governance, meskipun skalanya masih terbatas,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae.

Baca Juga

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Hingga 2024, total penyaluran kredit berkelanjutan (KUBL) mencapai Rp2.074 triliun, atau 26,24 persen dari total kredit nasional. Portofolio didominasi UMKM (69,01 persen), disusul keanekaragaman hayati (16,59 persen), serta kegiatan berwawasan lingkungan (3,34 persen).

Dian menekankan bahwa perubahan iklim membawa dua konsekuensi bagi sektor keuangan. Pertama, risiko iklim, baik fisik dan transisi, dapat menekan produktivitas sektor pertanian, perikanan, hingga kehutanan, dan pada akhirnya meningkatkan risiko kredit. “Karena itu OJK mendorong bank menerapkan climate risk management and scenario analysis (CRMS),” ucapnya.

Kedua, perubahan iklim justru membuka peluang investasi. Mulai dari pertanian berkelanjutan, energi terbarukan pedesaan, hingga infrastruktur adaptasi iklim. “Sektor keuangan harus tidak hanya melindungi diri dari risiko iklim, tetapi juga berperan aktif dalam pembiayaan transisi energi,” tuturnya.

Kebijakan pendukung lain yang sedang disiapkan OJK mencakup Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) serta revisi POJK No 51/2017 tentang Keuangan Berkelanjutan. (mim/dio)

Bagikan artikel ini

Most Read

1

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial
2

Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Finansial

Berita Terbaru

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial•24 November 2025
Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Finansial•22 November 2025
Home
›Finansial
›BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti
Finansial

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Editor-25 November 2025
Klik untuk perbesar

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti

Dokumen Bank Indonesia

Bagikan artikel ini

Penyaluran Kredit Berkelanjutan Capai 26,24 Persen dari Total Kredit Nasional

BADUNG -- Bank Indonesia (BI) menyalurkan insentif makroprudensial Rp 36,38 triliun hingga 1 November 2025 untuk bank-bank yang aktif membiayai sektor hijau. Kebijakan tersebut menjadi pendorong tambahan untuk memperluas pembiayaan berkelanjutan di sektor perbankan.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebutkan bahwa insentif ini bagian dari strategi besar otoritas moneter mendorong pembangunan berkelanjutan. “Seluruh kebijakan dan inisiatif ini kami susun untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif,” ujarnya Senin (24/11).

Beli Kredit Karbon

Sehari sebelumnya, BI menggelar penanaman 1.000 pohon mangrove di Teluk Benoa. Secara akumulasi, Bank Indonesia sudah menanam 37 ribu pohon dan membeli kredit karbon 150 ton CO₂e untuk mengompensasi emisi dari aktivitas ekonomi. Upaya pengurangan emisi juga dilakukan melalui pendampingan 159 UMKM hijau, termasuk fasilitasi business matching pembiayaan.

Kepala Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau BI Nita Anastuty menyebutkan, minat bank terhadap pembiayaan hijau terus meningkat. “Ini juga sudah dijadikan acuan oleh beberapa perbankan untuk menyalurkan hijaunya,” katanya.

Dominasi Himbara

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit hijau masih didominasi himpunan bank milik negara (Himbara). “Tren positif mulai terlihat pada bank swasta nasional dan BPD yang mulai mengembangkan portofolio hijau serta produk berorientasi environmental, social, and governance, meskipun skalanya masih terbatas,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae.

Baca Juga

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Hingga 2024, total penyaluran kredit berkelanjutan (KUBL) mencapai Rp2.074 triliun, atau 26,24 persen dari total kredit nasional. Portofolio didominasi UMKM (69,01 persen), disusul keanekaragaman hayati (16,59 persen), serta kegiatan berwawasan lingkungan (3,34 persen).

Dian menekankan bahwa perubahan iklim membawa dua konsekuensi bagi sektor keuangan. Pertama, risiko iklim, baik fisik dan transisi, dapat menekan produktivitas sektor pertanian, perikanan, hingga kehutanan, dan pada akhirnya meningkatkan risiko kredit. “Karena itu OJK mendorong bank menerapkan climate risk management and scenario analysis (CRMS),” ucapnya.

Kedua, perubahan iklim justru membuka peluang investasi. Mulai dari pertanian berkelanjutan, energi terbarukan pedesaan, hingga infrastruktur adaptasi iklim. “Sektor keuangan harus tidak hanya melindungi diri dari risiko iklim, tetapi juga berperan aktif dalam pembiayaan transisi energi,” tuturnya.

Kebijakan pendukung lain yang sedang disiapkan OJK mencakup Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) serta revisi POJK No 51/2017 tentang Keuangan Berkelanjutan. (mim/dio)

Most Read

1

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial
2

Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Finansial

Berita Terbaru

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial•24 November 2025
Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Finansial•22 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001