Loading...
Jumat Legi, 13 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Finansial
Home
›Finansial

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Editor-Finansial
24 November 2025
IHSG melemah tipis 0,07 persen ke level 8.414,3 pada penutupan perdagangan Jumat (21/11). Pelaku pasar pesimis terkait kemungkinan rate cut The Fed pada akhir tahun ini.
Klik untuk perbesar
Salman Toyibi/Jawa Pos

IHSG melemah tipis 0,07 persen ke level 8.414,3 pada penutupan perdagangan Jumat (21/11). Pelaku pasar pesimis terkait kemungkinan rate cut The Fed pada akhir tahun ini.

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidatif pada pekan ini. Hal itu sejalan dengan tekanan di pasar global dan regional yang membuat penutupan Jumat (21/11), IHSG melemah tipis 0,07 persen ke level 8.414,3.

Phintraco Sekuritas mencatat pelemahan tersebut sejalan dengan tekanan jual yang melanda saham-saham teknologi dunia serta meredupnya ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) pada Desember 2025. “Diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi di kisaran 8.350–8.450 dalam jangka pendek, selama belum mampu ditutup di atas level 8.450 dengan didukung volume besar,” tulis Phintraco dalam risetnya Minggu (23/11).

Pada akhir pekan lalu, mayoritas bursa Asia juga bergerak melemah jelang akhir pekan, sementara bursa Eropa dibuka negatif dan indeks futures Wall Street hanya menguat moderat. Dari sisi makro domestik, Bank Indonesia melaporkan pertumbuhan uang beredar (M2) yang melambat menjadi 7,7 persen YoY pada Oktober 2025, sejalan dengan perlambatan penyaluran kredit. Sementara itu, Jepang mencatat inflasi 3 persen YoY, tertinggi sejak Juli 2025, yang direspons pemerintah dengan paket stimulus 21,3 triliun yen.

Dari perspektif lain, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai bahwa pergerakan IHSG sepanjang pekan cenderung sideways dengan kecenderungan melemah ringan. Kondisi itu disebabkan oleh kewaspadaan pelaku pasar terhadap semakin kecilnya peluang pemangkasan suku bunga The Fed.

Baca Juga

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

“Pekan ini memang cenderung melemah tipis karena pelaku pasar memfaktorkan peluang penurunan suku bunga The Fed yang semakin kecil. Ini memunculkan pesimisme terkait kemungkinan rate cut Desember atau bahkan September tahun depan,” ujarnya.

Dia menambahkan, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI rate sempat menjadi pendorong IHSG, namun efeknya tidak bertahan lama. ”IHSG sempat menguat setelah pengumuman BI, tapi itu sifatnya hanya sementara karena pada hari Jumat terjadi aksi profit taking,” urainya.

Meskipun demikian, Nafan menilai struktur teknikal IHSG masih menunjukkan pola positif. ”Fase bullish consolidation masih berlaku. Selama pola ini terbentuk, harapannya IHSG bisa kembali membangun fase uptrend,” ucapnya. (agf/dio)

Bagikan artikel ini

Most Read

1

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial
2

Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Finansial

Berita Terbaru

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial•25 November 2025
Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Finansial•22 November 2025
Home
›Finansial
›IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed
IHSG melemah tipis 0,07 persen ke level 8.414,3 pada penutupan perdagangan Jumat (21/11). Pelaku pasar pesimis terkait kemungkinan rate cut The Fed pada akhir tahun ini.
Finansial

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Editor-24 November 2025
Klik untuk perbesar

IHSG melemah tipis 0,07 persen ke level 8.414,3 pada penutupan perdagangan Jumat (21/11). Pelaku pasar pesimis terkait kemungkinan rate cut The Fed pada akhir tahun ini.

Salman Toyibi/Jawa Pos

Bagikan artikel ini

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidatif pada pekan ini. Hal itu sejalan dengan tekanan di pasar global dan regional yang membuat penutupan Jumat (21/11), IHSG melemah tipis 0,07 persen ke level 8.414,3.

Phintraco Sekuritas mencatat pelemahan tersebut sejalan dengan tekanan jual yang melanda saham-saham teknologi dunia serta meredupnya ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) pada Desember 2025. “Diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi di kisaran 8.350–8.450 dalam jangka pendek, selama belum mampu ditutup di atas level 8.450 dengan didukung volume besar,” tulis Phintraco dalam risetnya Minggu (23/11).

Pada akhir pekan lalu, mayoritas bursa Asia juga bergerak melemah jelang akhir pekan, sementara bursa Eropa dibuka negatif dan indeks futures Wall Street hanya menguat moderat. Dari sisi makro domestik, Bank Indonesia melaporkan pertumbuhan uang beredar (M2) yang melambat menjadi 7,7 persen YoY pada Oktober 2025, sejalan dengan perlambatan penyaluran kredit. Sementara itu, Jepang mencatat inflasi 3 persen YoY, tertinggi sejak Juli 2025, yang direspons pemerintah dengan paket stimulus 21,3 triliun yen.

Dari perspektif lain, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai bahwa pergerakan IHSG sepanjang pekan cenderung sideways dengan kecenderungan melemah ringan. Kondisi itu disebabkan oleh kewaspadaan pelaku pasar terhadap semakin kecilnya peluang pemangkasan suku bunga The Fed.

Baca Juga

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

“Pekan ini memang cenderung melemah tipis karena pelaku pasar memfaktorkan peluang penurunan suku bunga The Fed yang semakin kecil. Ini memunculkan pesimisme terkait kemungkinan rate cut Desember atau bahkan September tahun depan,” ujarnya.

Dia menambahkan, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI rate sempat menjadi pendorong IHSG, namun efeknya tidak bertahan lama. ”IHSG sempat menguat setelah pengumuman BI, tapi itu sifatnya hanya sementara karena pada hari Jumat terjadi aksi profit taking,” urainya.

Meskipun demikian, Nafan menilai struktur teknikal IHSG masih menunjukkan pola positif. ”Fase bullish consolidation masih berlaku. Selama pola ini terbentuk, harapannya IHSG bisa kembali membangun fase uptrend,” ucapnya. (agf/dio)

Most Read

1

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial
2

Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Finansial

Berita Terbaru

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial•25 November 2025
Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Cetak Pertumbuhan di Atas 5 Persen, RI Harus Dorong Sektor Jasa dan Investasi

Finansial•22 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001