Apakah yang membuat seseorang berlama-lama menyelami suatu karya seni? Ruang serasa senyap, hanya degup jantung yang mengalir bersama waktu, karya itu menjangkau bagian-bagian terdalam, hingga semua pikiran mencuat dan redam di saat yang bersamaan.
Pengalaman estetis adalah keberkahan manusia dalam menjumpai dunia, menggunakan pencahayaan yang berbeda, ia mampu merasakan pengalaman yang istimewa. Pemahaman itu tidak saja terpaut kalkulasi rasional tentang dunia objektif, tetapi menyangkut sisi rapuh dan lembutnya, bagaimana ia merasakan dunia dengan segenap emosinya.
Bagi Martin Heidegger, seorang filsuf asal Jerman, seni bahkan tidak semata-mata berada dalam ranah estetika yang berurusan dengan keindahan dan ekspresi manusia saja. Melampaui itu, seni berada pada bagian ontologi yang berhubungan dengan penyingkapan keberadaan manusia itu sendiri. Ia mengajukan pertanyaan yang menarik, mana yang terlebih dahulu, karya seni atau seniman? Mungkin orang akan tergelak dengan pertanyaan ini, sebab harusnya jawabannya jelas, yang terlebih dahulu adalah senimannya karena dia yang menciptakan karya tersebut. Namun, Heidegger ingin memantik permenungan filosofis bahwa ada interrelasi antara seniman dengan karya seni yang ia ciptakan. Jawaban ini memang tidak mudah dan menimbulkan perdebatan, tetapi baginya, seniman dan karya seni muncul bersama dari asal mula yang sama, yakni esensi dari Seni.
Penyingkapan Kebenaran
Jika seniman menjadi sumber dari karya seni, karya itu seolah-olah hasil keinginan dan kehendak subjektif seniman semata. Sebaliknya, jika karya seni yang mendahului, seniman seperti perantara saja. Padahal bagi Heidegger, antara seniman dan karya seni terjadi proses penyingkapan kebenaran. Gagasan tentang penyibakan (aletheia) ini adalah kritik Heidegger terhadap teori korespondensi, yang mencukupkan bahwa kebenaran itu terletak pada korespondensi atau kesesuaian antara pikiran dan realitas. Ia membantah dengan mengatakan bahwa realitas tidak gamblang semacam itu, justru ada lapisan-lapisan yang tidak tampak, yang tidak langsung disadari kehadirannya. Hakikat dari seni adalah menguak yang tersembunyi dari realitas itu.
Heidegger memberikan pandangan filosofis tentang salah satu karya seniman pos impresionis bernama Vincent van Gogh. Lukisan yang berjudul Sepasang Sepatu (1886) menggambarkan sepatu yang lusuh dan kesenduan warnanya mengajak para pengamatnya masuk merasakan ke dalam dunia lukisan itu. Gambar tersebut membuat kita bertanya-tanya pemilik dari sepatu tua itu, kita membayangkan bagaimana sepatu itu digunakan menapaki ladang, lahan yang berlumpur, dan beban yang dipikulnya. Lukisan itu sebagai kesatuan gambaran objek dan warna, menggugah pengamatnya, mengundang imajinasi serta kreasi pengamatnya ke dalam multiplisitas dunia kemungkinan. Gambar sepatu itu tidak lagi berada pada makna sepatu sebagai peralatan, yang berfungsi sebagai alas kaki saja, tetapi juga ia menyeruak sebagai petanda dari kehidupan seseorang, duka lara maupun suka cita ayunan langkah seseorang.
Dalam karyanya Asal Usul dari Karya Seni (1950), Heidegger mengatakan: ”Oleh karena itu, seni adalah pelestarian kreatif atas kebenaran dalam karya; seni dengan demikian adalah proses menjadi, dan terjadinya kebenaran.” Bila pernyataan Heidegger ini kita maknai dalam praktik seni yang berkelindan dengan masyarakat, kita dapat mengungkap pengertian yang lebih holistik. Maksudnya, bayangkan seni yang dimaknai dalam laku sehari-hari yang dilakukan oleh berbagai komunitas lokal dan masyarakat adat. Bukan saja karya seni dalam pengertian yang ditempatkan di galeri, museum maupun panggung, auditorium.
Seluruh aktivitas seni seperti tari, wastra, musik serta bebunyian, sastra, dan bangunan tradisional sejatinya menciptakan spasialitas yang unik, yang mengeratkan relasi manusia dengan alam dan Tuhan. Berbagai contoh dapat disimak dari berbagai budaya di Indonesia, bunyi yang dihasilkan dari angklung, kain tenun yang bercerita tentang kosmologi di Sumba, rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo, gendingan pemujaan, tari-tari kerasukan yang disakralkan, hingga sastra kuno yang berbicara mengenai keselarasan alam.
Dunia dan Bumi
Menilik kembali tulisan Heidegger, ia menguraikan tentang Dunia (die Welt) dan Bumi (die Erde). Baginya dunia sebagai ruang manusia hidup, terdiri atas keseluruhan hubungan, pemaknaan, juga kepercayaannya. Sedangkan bumi berarti yang mengendapkan zat primordial dari kehidupan ini. Meski manusia mengerti tekstur, warna, serta bunyinya, kita tidak dapat sepenuhnya menyibak ketersembunyian dari alam. Bumi senantiasa menjadi yang misterius dan mustahil dimengerti secara total oleh akal manusia. Karya seni seperti candi contohnya, dalam bangunan itu memiliki fungsi yang terkait secara fisikal, namun juga metafisis, secara material terbuat dari batu yang merupakan unsur bumi yang padat dari kedalaman alam itu. Namun, candi tersebut juga menopang dunia spiritual yang melingkupi simbol, mantra, juga harapan agar dapat terhubung dengan yang transenden.
Sebagai penutup, seni tidak semata perkara bentuk, bukan hanya soal benda-benda yang sarat akan keindahan, atau hasil keterampilan artistik, tetapi lebih mendalam seni adalah momen yang dapat menyingkap yang tersembunyi dan terlupakan dari dunia. Seni pula dapat memintal kesadaran kita untuk kembali menatap kepada alam. (*)
Saras Dewi
Dosen Filsafat Universitas Indonesia



