Loading...
Minggu Kliwon, 22 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Halte
Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte•22 November 2025

Update

Sejarah Filsafat dan Status Quo

Sejarah Filsafat dan Status Quo

Halte•9 November 2025
Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Halte•4 November 2025
Asal Usul Seni

Asal Usul Seni

Halte•4 November 2025
Martin Aleida dan Sastra Berpihak

Martin Aleida dan Sastra Berpihak

Halte•26 Oktober 2025
Yang Menatap dari Cermin

Yang Menatap dari Cermin

Halte•26 Oktober 2025

Most Read

1

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte
2

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Halte
3

Setelah Pidato Usai

Halte
4

Membatalkan Gelar

Halte
5

Primbon Politik

Halte

Most Read

1

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte
2

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Halte
3

Setelah Pidato Usai

Halte
4

Membatalkan Gelar

Halte
5

Primbon Politik

Halte
Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025
Ilustrasi Nina/Jawa Pos
Halte

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Mengusung tema Aham Brahmasmi atau I am the Universe (Aku Adalah Semesta), UWRF 2025 menghamparkan ragam karya artistik, di antaranya sastra, film, musik, hingga wayang. Pertanyaannya, apa/siapakah ”aku” dalam semesta yang dimaksud? Semesta apa dan bagaimanakah ”aku” terjelma dalam ”semesta” di festival yang digelar sejak 2004 itu? Helatan pada 29 Oktober–2 November 2025 itu menghadirkan lebih dari 150 pembicara dari berbagai negara, mulai peraih International Booker Prize hingga yang masih disebut Emerging Writers. Ratusan peserta datang dari beragam latar profesi: penulis, penerbit, jurnalis, peneliti, dari dalam dan luar negeri. Semua dapat bertukar gagasan dalam sesi-sesi diskusi yang tampak terkurasi rapi. Audiens dapat menyimak Deconstructing Colonialism, sementara di sesi berikutnya terdapat diskusi soal Writing in the Coloniser’s Tongue. Setelah membayangkan kondisi Gaza dalam sesi Israel and Palestine: Pathways to Peace, audiens dapat menyimak keelokan lanskap Bali di sesi Timeless Bali. Terkesan paradoks, mungkin. Namun, bukankah kadang demikian semesta menjelma? Subjek Justru dalam kondisi kebertentangan semesta itulah sang ”aku” benar-benar diuji dan ditempa kesadarannya sebagai subjek: diam, beradaptasi, melawan, atau bahkan menciptakan ruang-ruang alternatif. Panel Young and Bright: Queerness in Adolescent Fiction, misalnya, membincang betapa perubahan identitas gender dan orientasi seksual adalah pilihan sadar sekaligus proses menantang dan penuh risiko –setidaknya dalam...

22 November 2025

Update

Sejarah Filsafat dan Status Quo
Ilustrasi Nina/Jawa Pos
Halte

Sejarah Filsafat dan Status Quo

Sejarah filsafat adalah sejarah bongkar pasang ide. Ide-ide lama dibongkar, atau bahkan dihancurkan, lalu ide-ide baru coba dibangun, antara lain dengan menggunakan elemen-elemen dari ide yang sebelumnya sudah dibongkar. Dalam melakukan kerja bongkar pasang ide ini, para filsuf terbagi dua. Ada yang menjadi filsuf palu dan ada juga yang menjadi filsuf obeng. Dua Kerja Filsuf Filsuf palu adalah jenis filsuf yang bekerja dengan cara menghancurkan ide-ide dominan dan mencoba menawarkan ide alternatif. Filsuf obeng, sebaliknya, adalah jenis filsuf yang bekerja dalam detail. Alih-alih menghancurkan ide lama, filsuf obeng memilih memeriksa secara cermat semua elemen dari sebuah ide, lalu mengupayakan perbaikan atau bahkan penggantian untuk elemen yang ditemukan sudah aus. Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, kita bisa ambil contoh dari diskursus tentang teori pengetahuan. Ide tentang pengetahuan sudah muncul sejak zaman Yunani Kuno. Platon mendefinisikan pengetahuan sebagai ”keyakinan yang benar dan terjustifikasi”. Untuk dapat disebut tahu, kita harus (1) meyakini sesuatu, (2) yang benar, dan (3) disertai justifikasi. Misalnya, saya meyakini bahwa sekarang pukul 10 malam; dan itu benar. Saya tidak dapat disebut tahu bahwa sekarang pukul 10 malam jika saya tidak memiliki justifikasi mengapa saya meyakini demikian. Saya bisa saja meyakini demikian karena menebak saja. Saya baru disebut tahu...

9 November 2025
Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu
Ilustrasi Nina/Jawa Pos - Foto Sarah Monica
Halte

Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Telah hidup selama 66 tahun, Sanggarbambu sebagai sebuah paguyuban seni yang didirikan pada 1 April 1959 di Jogjakarta telah menunjukkan ketahanan dan resiliensinya di tengah zaman. Muncul di periode pertarungan politik, ideologi, dan pencarian identitas kebangsaan, Sanggarbambu seolah menjadi alternatif sekaligus penyeimbang di antara bermacam komunitas seni dan perkumpulan seniman di berbagai daerah, seperti Seniman Indonesia Muda/SIM (1946), Sanggar Pelukis Rakyat (1947), Sanggar Seniman (1952) di Bandung, Sanggar Bumi Tarung (1961) yang underbow Lekra, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia/Lesbumi (1962), Sanggar Dewata Indonesia (1970), serta banyak lainnya. Ketika sanggar-sanggar seusianya sudah raib dan terkubur oleh waktu, Sanggarbambu berhasil meski tertatih-tatih melewati setengah abad. Publik kini dapat menyaksikan sebagian jejak karya dan arsipnya di pameran bertajuk Di Sini Aku Temukan Kau yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara sejak 3 Oktober hingga 7 Desember 2025. Mengingat rekam sejarah dan peran panjangnya dalam gerakan kesenian, penting kiranya bagi generasi sekarang untuk menengok Sanggarbambu sebagai bagian dari warisan kekayaan peradaban seni di Indonesia. #### Karya 13 Seniman Pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan dan Suwarno Wisetrotomo itu menampilkan anak karya dari 13 seniman Sanggarbambu, antara lain Soenarto Prawirohardjono atau lebih dikenal Soenarto Pr., beserta adik-adiknya: Soeharto Pr. dan Supono Pr., bersama dengan Syahwil, Mulyadi W.,...

4 November 2025
Asal Usul Seni
Ilustrasi Nina/Jawa Pos
Halte

Asal Usul Seni

Apakah yang membuat seseorang berlama-lama menyelami suatu karya seni? Ruang serasa senyap, hanya degup jantung yang mengalir bersama waktu, karya itu menjangkau bagian-bagian terdalam, hingga semua pikiran mencuat dan redam di saat yang bersamaan. Pengalaman estetis adalah keberkahan manusia dalam menjumpai dunia, menggunakan pencahayaan yang berbeda, ia mampu merasakan pengalaman yang istimewa. Pemahaman itu tidak saja terpaut kalkulasi rasional tentang dunia objektif, tetapi menyangkut sisi rapuh dan lembutnya, bagaimana ia merasakan dunia dengan segenap emosinya. Bagi Martin Heidegger, seorang filsuf asal Jerman, seni bahkan tidak semata-mata berada dalam ranah estetika yang berurusan dengan keindahan dan ekspresi manusia saja. Melampaui itu, seni berada pada bagian ontologi yang berhubungan dengan penyingkapan keberadaan manusia itu sendiri. Ia mengajukan pertanyaan yang menarik, mana yang terlebih dahulu, karya seni atau seniman? Mungkin orang akan tergelak dengan pertanyaan ini, sebab harusnya jawabannya jelas, yang terlebih dahulu adalah senimannya karena dia yang menciptakan karya tersebut. Namun, Heidegger ingin memantik permenungan filosofis bahwa ada interrelasi antara seniman dengan karya seni yang ia ciptakan. Jawaban ini memang tidak mudah dan menimbulkan perdebatan, tetapi baginya, seniman dan karya seni muncul bersama dari asal mula yang sama, yakni esensi dari Seni. #### Penyingkapan Kebenaran Jika seniman menjadi sumber dari karya seni,...

4 November 2025
Martin Aleida dan Sastra Berpihak
Ilustrasi Nina/Jawa Pos
Halte

Martin Aleida dan Sastra Berpihak

Martin Aleida baru saja menerima penghargaan dari Akademi Jakarta. Penghargaan yang sudah tua dan bergengsi di tanah air ini menunjukkan Martin Aleida adalah sastrawan yang telah berkontribusi penting bagi sastra Indonesia. Martin Aleida menulis sastra sepanjang hayat semenjak ia mengenal pena untuk menulis saat masih pelajar SMA di Tanjung Balai, Sumatera Utara, awal tahun 1960-an. Martin Aleida menulis sastra lantaran ingin ikut membebaskan penderitaan kehidupan manusia dari ketidakadilan dalam sistem masyarakat di Indonesia. Untuk itu, Martin Aleida menulis sastra sebagai wujud keberpihakan kepada masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih tertindas. Sastra berpihak Martin Aleida muncul sejak awal kepenulisan sastranya dan tetap diyakininya hingga sekarang ini di usia 82 tahun. Sastra berpihak ini Martin pilih lantaran ketertarikan pada gagasan pembelaan kepada kaum tertindas di lingkungan tanah kelahirannya. Ia tumbuh besar di masa Bung Karno dengan semangat melawan gagasan dan praktik kapitalisme bangsa Barat yang mengisap kaum pribumi. Sebagai bangsa yang baru merdeka, rakyat Indonesia masih berkubang dalam kemelaratan. Namun, kini setelah merayakan 80 tahun kemerdekaan, sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam kemelaratan dan ketidakadilan. Sementara itu, gagasan kiri yang tumbuh subur sebelum Indonesia merdeka hingga 1965 menjadi gagasan dan gerakan populer dalam rangka membebaskan rakyat Indonesia dari ketidakadilan dan kemelaratan....

26 Oktober 2025
Yang Menatap dari Cermin
Ilustrasi Nina/Jawa Pos
Halte

Yang Menatap dari Cermin

Sebuah retakan di cermin mestinya sudah cukup mengisyaratkan pertanda buruk. Namun, Lorraine Warren tak beranjak. Ia terpaku di hadapan bayangannya sendiri. Di balik kilau kaca tua itu, sesuatu menatap balik. Bukan dirinya, melainkan sesuatu yang menyerupai dia dengan seringai jahat. Bukankah sepotong adegan film The Conjuring: Last Rites itu terasa familier? Lebih-lebih pada masa kini. Tatkala dunia menuntut kesempurnaan, pantulan diri di muka cermin –atau layar gawai– terlihat menyeramkan. Sampai-sampai, ponsel dan platform digital kekinian wajib dibekali fitur filter kamera. Akan tetapi, keengganan manusia menatap dirinya sendiri boleh jadi bukan lantaran disharmoni antara tampilan fisik dan standar belaka. Orang Barat punya ungkapan populer yang acap muncul dalam lirik lagu mereka: save me from myself. Ada sesuatu dalam diri yang membuat kita ngeri, yang berasal dari sudut kelam sukma: iblis. Personifikasi iblis dalam bentuk refleksi si pelihat kerap muncul dalam budaya pop. Dalam film If Cats Disappeared from the World, misalnya, sang entitas jahat muncul sebagai kembaran gaib si tukang pos. Norman Osborn, sang vilain dalam sekuel pertama Spider-Man, sering dihantui bayangannya sendiri sebelum ia menjelma Green Goblin dan mengacaukan kota. Gambaran macam itu tentu mengingatkan kita pada pemikiran Carl Jung perihal bayang-bayang. #### Dua Wajah Manusia Dalam psikologi analitik, manusia...

26 Oktober 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001