Loading...
Minggu Kliwon, 22 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Halte
Home
›Halte

Martin Aleida dan Sastra Berpihak

Editor-Halte
26 Oktober 2025
Martin Aleida dan Sastra Berpihak
Klik untuk perbesar
Ilustrasi Nina/Jawa Pos

Oleh Imam Muhtarom

Martin Aleida baru saja menerima penghargaan dari Akademi Jakarta. Penghargaan yang sudah tua dan bergengsi di tanah air ini menunjukkan Martin Aleida adalah sastrawan yang telah berkontribusi penting bagi sastra Indonesia.

Martin Aleida menulis sastra sepanjang hayat semenjak ia mengenal pena untuk menulis saat masih pelajar SMA di Tanjung Balai, Sumatera Utara, awal tahun 1960-an. Martin Aleida menulis sastra lantaran ingin ikut membebaskan penderitaan kehidupan manusia dari ketidakadilan dalam sistem masyarakat di Indonesia. Untuk itu, Martin Aleida menulis sastra sebagai wujud keberpihakan kepada masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih tertindas.

Sastra berpihak Martin Aleida muncul sejak awal kepenulisan sastranya dan tetap diyakininya hingga sekarang ini di usia 82 tahun. Sastra berpihak ini Martin pilih lantaran ketertarikan pada gagasan pembelaan kepada kaum tertindas di lingkungan tanah kelahirannya. Ia tumbuh besar di masa Bung Karno dengan semangat melawan gagasan dan praktik kapitalisme bangsa Barat yang mengisap kaum pribumi. Sebagai bangsa yang baru merdeka, rakyat Indonesia masih berkubang dalam kemelaratan. Namun, kini setelah merayakan 80 tahun kemerdekaan, sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam kemelaratan dan ketidakadilan.

Sementara itu, gagasan kiri yang tumbuh subur sebelum Indonesia merdeka hingga 1965 menjadi gagasan dan gerakan populer dalam rangka membebaskan rakyat Indonesia dari ketidakadilan dan kemelaratan. Sebagai pemuda yang peduli terhadap kehidupan rakyat yang menderita, Martin tertarik kemudian terlibat dalam gagasan dan gerakan pembebasan rakyat kelas bawah yang tertindas.

Baca Juga

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Dari sinilah Martin Aleida kemudian meninggalkan tanah kelahirannya di Tanjung Balai, Sumatera Utara, ke Jakarta. Satu-satunya alasan kepergian ke tanah seberang ini untuk menggali lebih dalam mengenai gagasan pembebasan rakyat tertindas melalui jalan penulisan sastra dari sumbernya langsung. Di tanah kelahirannya Martin hanya menerima gagasan pembebasan itu dari koran atau orang-orang tangan kedua, bukan sumber gagasan tersebut secara langsung. Maka, ditinggalkanlah kehidupan damai sepanjang tahun bersama orang tuanya. Mulailah Martin meniti gelombang ombak kehidupan seorang diri. Di sinilah pilihan dan sikap hidup Martin yang akan menentukan karya-karya sastra berpihak yang dituliskannya sepanjang hayat.

Awal Kepenulisan

Cerpen-cerpen awal kepenulisan Martin yang terbit di Harian Rakyat dan Zaman Baru merupakan sastra berpihak. Dalam cerpen-cerpen tersebut Martin secara terang dan jelas berpihak golongan tertindas, yaitu para buruh pabrik, orang-orang miskin, dan rakyat kecil. Dalam karya-karya tersebut Martin dengan jelas meletakkan orang-orang tertindas itu bangun dari ketertindasannya dengan cara menuntut haknya. Para buruh pabrik menuntut hak yang semestinya kepada pihak pemilik pabrik atau perlawanan terhadap bangsa Barat yang kapitalis.

Sastra berpihak Martin ini menjadi konkret setelah ia menginjakkan kakinya di Jakarta. Pertama-tama ia masuk sebagai mahasiswa di Akademi Multatuli tempat ia digembleng sastra oleh Pramoedya Ananta Toer dan Bakrie Siregar. Lalu ia menjadi bagian dari majalah Zaman Baru yang dipimpin Njoto, lalu menjadi wartawan Harian Rakyat, yang bersamaan dengan itu ia terlibat di Lekra. Dari semuanya itu yang membekas tentu saja adalah Lekra. Di sana Martin mengenal lebih mendalam gagasan keberpihakan kepada rakyat tertindas. Di lembaga itu pula Martin terlibat secara intens gagasan pembebasan rakyat dalam seni khususnya sastra, antara lain bersama Putu Oka Sukanta, HR Bandaharo, dan tentu saja Njoto.

Baca Juga

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Sastra berpihak Martin Aleida dalam karya-karya masa ini kukuh akan posisi pembelaannya. Karya sastra Martin dengan jelas menempatkan yang tertindas tidak selamanya bungkam dan menyerah. Yang tertindas bangkit dan dengan mulutnya sendiri, dengan tubuhnya sendiri bangkit menuntut hak-haknya yang selama ini dirampas oleh para juragan, tuan tanah, dan para kapitalis.

Periode Orde Baru

Sastra berpihak ini tetap Martin pertahankan di masa kemudian ketika ia hidup melata di rezim politik Orde Baru. Ia memang terbebas dari tuduhan sebagai PKI setelah 9 bulan di penjara, tetapi seluruh teman di perantauan Jakarta lenyap tak berbekas lantaran ditangkap, hilang, atau mati. Martin di Jakarta berada di kelompok kiri sehingga ketika red drive 1965 tiada kawan yang ia bisa temui lagi. Dalam kondisi itulah Martin tetap menulis sastra berpihak di tengah-tengah periode dan situasi sosial dan politik anti-kiri. Di sela-sela menjaga toko kelontong milik kawannya ia menulis di atas kertas cerpen ”Malam Kelabu” sebelum kemudian ia pindah ke mesin ketik hasil pinjaman cerpenis Hamsad Rangkuti.

Keberpihakan ”Malam Kelabu” (Horison, 1970) menghadirkan korban yang kalah dalam red drive 1965. Tokoh utamanya tidak saja kehilangan calon istri beserta keluarganya lantaran dituduh menyembunyikan salah satu keluarganya yang anggota BTI –calon ayah mertua tokoh utama sendiri ketua BTI tingkat wilayah yang tertangkap dan mati dibunuh. Si tokoh utama cerpen ini akhirnya mati bunuh diri sesaat setelah mendapati rumah calon istrinya beserta seluruh penghuninya mati dibakar. Tokoh utama bunuh diri dengan memutus urat nadi pergelangan tangan di atas jembatan lalu jatuh ke dalam sungai. Sungai itu tempat para korban red drive, termasuk calon mertuanya, dibuang.

Baca Juga

Setelah Pidato Usai

Tokoh utama memang kalah dan memutuskan bunuh diri. Posisi itu penting bagi cerpen ini sebagai hasil konsekuensi sikap yang dipilihnya untuk menikahi perempuan anak tokoh BTI setempat yang telah dibantai. Tokoh ini tidak peduli keterlibatan sang calon mertua sebagai figur penting BTI yang terafiliasi dengan PKI. Padahal, di masa Orde Baru dua lembaga ini dinyatakan berbahaya dan dibubarkan. Namun, tokoh utama mengambil sikap menerima dengan konsekuensi yang tidak terduga sebelumnya bahwa ia memutuskan bunuh diri. Tindakan bunuh diri merupakan konsekuensi kesungguhan tokoh utama untuk menikahi calon istrinya yang berlatar belakang keluarga korban red drive 1965. Tanpa kesungguhan niat menikahi mustahil tokoh utama memilih bunuh diri. Ia mungkin balik ke Jakarta dan kawin dengan gadis lain.

Dengan cara inilah cerpen ”Malam Kelabu” mempraktikkan sastra berpihak. Ia berpihak pada yang tertindas dan tidak sekadar bersimpati, tapi ikut mati bersama golongan yang tertindas itu. Lebih sebatas alasan ideologis, ia berpihak dengan segenap diri dan nyawanya mengenai pengorbanan pada kemanusiaan.

Karya Terkini

Sastra berpihak Martin tetap hidup dalam karya-karya sastra paling terkininya, ”Lelakiku” (Kompas, 8 Juni 2025). Cerpen ini memakai pencerita perempuan yang berkisah mengenai kehidupan bersama suaminya. Keberpihakan Martin diwujudkan dalam sikapnya yang konsisten berpihak kepada korban pembantaian 1965. Melalui cerpen ini tokoh suami mengingatkan istrinya untuk tidak dendam kepada bapaknya yang pada masa anak-anak telah memukuli lantaran kenakalannya. Ayahnya yang pelaku aksi sepihak pengambilan tanah akhirnya dibantai setelah peristiwa 1965. Suaminya mengingatkan bahwa peristiwa itu seharusnya tidak terjadi bilamana ada penegakan hukum yang baik. Para pelaku aksi sepihak dihadapkan di depan hukum, lantas diadili dan diberi hukuman setimpal. Bukan dengan cara membantai secara biadap lantas mayatnya dibuang ke Kali Bacem sehingga keluarga tidak bisa membuat kuburannya.

Baca Juga

Membatalkan Gelar

Dengan demikian, Martin Aleida secara konsisten menulis karya-karya sastra berpihak sepanjang karier kepenulisannya. Sastra berpihak bagi mereka yang tertindas oleh kemiskinan dan ketidakadilan. Sastra berpihak yang berfungsi turut menciptakan kesadaran kritis di kalangan pembaca. Membaca lebih dari sekadar memperluas pengetahuan, tetapi menjadi bagian dari praksis untuk melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan secara terstruktur kepada rakyat kecil, lemah, dan kalah. Selamat, Martin Aleida! (*)

Imam Muhtarom, kandidat doktor ilmu sastra di Universitas Indonesia

Bagikan artikel ini

Most Read

1

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte
2

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Halte

Berita Terbaru

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte•22 November 2025
Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Halte•22 November 2025
Home
›Halte
›Martin Aleida dan Sastra Berpihak
Martin Aleida dan Sastra Berpihak
Halte

Martin Aleida dan Sastra Berpihak

Editor-26 Oktober 2025
Klik untuk perbesar

Ilustrasi Nina/Jawa Pos

Bagikan artikel ini

Oleh Imam Muhtarom

Martin Aleida baru saja menerima penghargaan dari Akademi Jakarta. Penghargaan yang sudah tua dan bergengsi di tanah air ini menunjukkan Martin Aleida adalah sastrawan yang telah berkontribusi penting bagi sastra Indonesia.

Martin Aleida menulis sastra sepanjang hayat semenjak ia mengenal pena untuk menulis saat masih pelajar SMA di Tanjung Balai, Sumatera Utara, awal tahun 1960-an. Martin Aleida menulis sastra lantaran ingin ikut membebaskan penderitaan kehidupan manusia dari ketidakadilan dalam sistem masyarakat di Indonesia. Untuk itu, Martin Aleida menulis sastra sebagai wujud keberpihakan kepada masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih tertindas.

Sastra berpihak Martin Aleida muncul sejak awal kepenulisan sastranya dan tetap diyakininya hingga sekarang ini di usia 82 tahun. Sastra berpihak ini Martin pilih lantaran ketertarikan pada gagasan pembelaan kepada kaum tertindas di lingkungan tanah kelahirannya. Ia tumbuh besar di masa Bung Karno dengan semangat melawan gagasan dan praktik kapitalisme bangsa Barat yang mengisap kaum pribumi. Sebagai bangsa yang baru merdeka, rakyat Indonesia masih berkubang dalam kemelaratan. Namun, kini setelah merayakan 80 tahun kemerdekaan, sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam kemelaratan dan ketidakadilan.

Sementara itu, gagasan kiri yang tumbuh subur sebelum Indonesia merdeka hingga 1965 menjadi gagasan dan gerakan populer dalam rangka membebaskan rakyat Indonesia dari ketidakadilan dan kemelaratan. Sebagai pemuda yang peduli terhadap kehidupan rakyat yang menderita, Martin tertarik kemudian terlibat dalam gagasan dan gerakan pembebasan rakyat kelas bawah yang tertindas.

Baca Juga

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Dari sinilah Martin Aleida kemudian meninggalkan tanah kelahirannya di Tanjung Balai, Sumatera Utara, ke Jakarta. Satu-satunya alasan kepergian ke tanah seberang ini untuk menggali lebih dalam mengenai gagasan pembebasan rakyat tertindas melalui jalan penulisan sastra dari sumbernya langsung. Di tanah kelahirannya Martin hanya menerima gagasan pembebasan itu dari koran atau orang-orang tangan kedua, bukan sumber gagasan tersebut secara langsung. Maka, ditinggalkanlah kehidupan damai sepanjang tahun bersama orang tuanya. Mulailah Martin meniti gelombang ombak kehidupan seorang diri. Di sinilah pilihan dan sikap hidup Martin yang akan menentukan karya-karya sastra berpihak yang dituliskannya sepanjang hayat.

Awal Kepenulisan

Cerpen-cerpen awal kepenulisan Martin yang terbit di Harian Rakyat dan Zaman Baru merupakan sastra berpihak. Dalam cerpen-cerpen tersebut Martin secara terang dan jelas berpihak golongan tertindas, yaitu para buruh pabrik, orang-orang miskin, dan rakyat kecil. Dalam karya-karya tersebut Martin dengan jelas meletakkan orang-orang tertindas itu bangun dari ketertindasannya dengan cara menuntut haknya. Para buruh pabrik menuntut hak yang semestinya kepada pihak pemilik pabrik atau perlawanan terhadap bangsa Barat yang kapitalis.

Sastra berpihak Martin ini menjadi konkret setelah ia menginjakkan kakinya di Jakarta. Pertama-tama ia masuk sebagai mahasiswa di Akademi Multatuli tempat ia digembleng sastra oleh Pramoedya Ananta Toer dan Bakrie Siregar. Lalu ia menjadi bagian dari majalah Zaman Baru yang dipimpin Njoto, lalu menjadi wartawan Harian Rakyat, yang bersamaan dengan itu ia terlibat di Lekra. Dari semuanya itu yang membekas tentu saja adalah Lekra. Di sana Martin mengenal lebih mendalam gagasan keberpihakan kepada rakyat tertindas. Di lembaga itu pula Martin terlibat secara intens gagasan pembebasan rakyat dalam seni khususnya sastra, antara lain bersama Putu Oka Sukanta, HR Bandaharo, dan tentu saja Njoto.

Baca Juga

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Sastra berpihak Martin Aleida dalam karya-karya masa ini kukuh akan posisi pembelaannya. Karya sastra Martin dengan jelas menempatkan yang tertindas tidak selamanya bungkam dan menyerah. Yang tertindas bangkit dan dengan mulutnya sendiri, dengan tubuhnya sendiri bangkit menuntut hak-haknya yang selama ini dirampas oleh para juragan, tuan tanah, dan para kapitalis.

Periode Orde Baru

Sastra berpihak ini tetap Martin pertahankan di masa kemudian ketika ia hidup melata di rezim politik Orde Baru. Ia memang terbebas dari tuduhan sebagai PKI setelah 9 bulan di penjara, tetapi seluruh teman di perantauan Jakarta lenyap tak berbekas lantaran ditangkap, hilang, atau mati. Martin di Jakarta berada di kelompok kiri sehingga ketika red drive 1965 tiada kawan yang ia bisa temui lagi. Dalam kondisi itulah Martin tetap menulis sastra berpihak di tengah-tengah periode dan situasi sosial dan politik anti-kiri. Di sela-sela menjaga toko kelontong milik kawannya ia menulis di atas kertas cerpen ”Malam Kelabu” sebelum kemudian ia pindah ke mesin ketik hasil pinjaman cerpenis Hamsad Rangkuti.

Keberpihakan ”Malam Kelabu” (Horison, 1970) menghadirkan korban yang kalah dalam red drive 1965. Tokoh utamanya tidak saja kehilangan calon istri beserta keluarganya lantaran dituduh menyembunyikan salah satu keluarganya yang anggota BTI –calon ayah mertua tokoh utama sendiri ketua BTI tingkat wilayah yang tertangkap dan mati dibunuh. Si tokoh utama cerpen ini akhirnya mati bunuh diri sesaat setelah mendapati rumah calon istrinya beserta seluruh penghuninya mati dibakar. Tokoh utama bunuh diri dengan memutus urat nadi pergelangan tangan di atas jembatan lalu jatuh ke dalam sungai. Sungai itu tempat para korban red drive, termasuk calon mertuanya, dibuang.

Baca Juga

Setelah Pidato Usai

Tokoh utama memang kalah dan memutuskan bunuh diri. Posisi itu penting bagi cerpen ini sebagai hasil konsekuensi sikap yang dipilihnya untuk menikahi perempuan anak tokoh BTI setempat yang telah dibantai. Tokoh ini tidak peduli keterlibatan sang calon mertua sebagai figur penting BTI yang terafiliasi dengan PKI. Padahal, di masa Orde Baru dua lembaga ini dinyatakan berbahaya dan dibubarkan. Namun, tokoh utama mengambil sikap menerima dengan konsekuensi yang tidak terduga sebelumnya bahwa ia memutuskan bunuh diri. Tindakan bunuh diri merupakan konsekuensi kesungguhan tokoh utama untuk menikahi calon istrinya yang berlatar belakang keluarga korban red drive 1965. Tanpa kesungguhan niat menikahi mustahil tokoh utama memilih bunuh diri. Ia mungkin balik ke Jakarta dan kawin dengan gadis lain.

Dengan cara inilah cerpen ”Malam Kelabu” mempraktikkan sastra berpihak. Ia berpihak pada yang tertindas dan tidak sekadar bersimpati, tapi ikut mati bersama golongan yang tertindas itu. Lebih sebatas alasan ideologis, ia berpihak dengan segenap diri dan nyawanya mengenai pengorbanan pada kemanusiaan.

Karya Terkini

Sastra berpihak Martin tetap hidup dalam karya-karya sastra paling terkininya, ”Lelakiku” (Kompas, 8 Juni 2025). Cerpen ini memakai pencerita perempuan yang berkisah mengenai kehidupan bersama suaminya. Keberpihakan Martin diwujudkan dalam sikapnya yang konsisten berpihak kepada korban pembantaian 1965. Melalui cerpen ini tokoh suami mengingatkan istrinya untuk tidak dendam kepada bapaknya yang pada masa anak-anak telah memukuli lantaran kenakalannya. Ayahnya yang pelaku aksi sepihak pengambilan tanah akhirnya dibantai setelah peristiwa 1965. Suaminya mengingatkan bahwa peristiwa itu seharusnya tidak terjadi bilamana ada penegakan hukum yang baik. Para pelaku aksi sepihak dihadapkan di depan hukum, lantas diadili dan diberi hukuman setimpal. Bukan dengan cara membantai secara biadap lantas mayatnya dibuang ke Kali Bacem sehingga keluarga tidak bisa membuat kuburannya.

Baca Juga

Membatalkan Gelar

Dengan demikian, Martin Aleida secara konsisten menulis karya-karya sastra berpihak sepanjang karier kepenulisannya. Sastra berpihak bagi mereka yang tertindas oleh kemiskinan dan ketidakadilan. Sastra berpihak yang berfungsi turut menciptakan kesadaran kritis di kalangan pembaca. Membaca lebih dari sekadar memperluas pengetahuan, tetapi menjadi bagian dari praksis untuk melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan secara terstruktur kepada rakyat kecil, lemah, dan kalah. Selamat, Martin Aleida! (*)

Imam Muhtarom, kandidat doktor ilmu sastra di Universitas Indonesia

Most Read

1

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte
2

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Halte

Berita Terbaru

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte•22 November 2025
Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Halte•22 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001