Telah hidup selama 66 tahun, Sanggarbambu sebagai sebuah paguyuban seni yang didirikan pada 1 April 1959 di Jogjakarta telah menunjukkan ketahanan dan resiliensinya di tengah zaman.
Muncul di periode pertarungan politik, ideologi, dan pencarian identitas kebangsaan, Sanggarbambu seolah menjadi alternatif sekaligus penyeimbang di antara bermacam komunitas seni dan perkumpulan seniman di berbagai daerah, seperti Seniman Indonesia Muda/SIM (1946), Sanggar Pelukis Rakyat (1947), Sanggar Seniman (1952) di Bandung, Sanggar Bumi Tarung (1961) yang underbow Lekra, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia/Lesbumi (1962), Sanggar Dewata Indonesia (1970), serta banyak lainnya.
Ketika sanggar-sanggar seusianya sudah raib dan terkubur oleh waktu, Sanggarbambu berhasil meski tertatih-tatih melewati setengah abad. Publik kini dapat menyaksikan sebagian jejak karya dan arsipnya di pameran bertajuk Di Sini Aku Temukan Kau yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara sejak 3 Oktober hingga 7 Desember 2025. Mengingat rekam sejarah dan peran panjangnya dalam gerakan kesenian, penting kiranya bagi generasi sekarang untuk menengok Sanggarbambu sebagai bagian dari warisan kekayaan peradaban seni di Indonesia.
Karya 13 Seniman
Pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan dan Suwarno Wisetrotomo itu menampilkan anak karya dari 13 seniman Sanggarbambu, antara lain Soenarto Prawirohardjono atau lebih dikenal Soenarto Pr., beserta adik-adiknya: Soeharto Pr. dan Supono Pr., bersama dengan Syahwil, Mulyadi W., Sudarmadji, Handogo Soekarno, Danarto, Irsam, Kuswandi, Suwartono, Muryoto Hartoyo, dan Titis Jabaruddin. Karya-karya tersebut sebagian besar merupakan koleksi pribadi, sedangkan sebagian lain disimpan di Galeri Nasional Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta.
Dari belasan tokoh seniman tersebut, Soenarto Pr. adalah figur kunci demi memahami mengapa dan bagaimana Sanggarbambu ini berdiri dan berorganisasi. Ia merupakan pendiri, ketua paling abadi, sosok mpu yang paling mengayomi di balik eksistensi Sanggarbambu. Nasirun, perupa dan kolektor karya seniman-seniman Sanggarbambu, pernah menyatakan dalam salah satu wawancara dengan penulis bahwa ”Sanggarbambu tidak dimungkiri memiliki kemelekatan dengan Soenarto Pr. Sanggarbambu adalah Soenarto Pr.; Soenarto Pr. adalah Sanggarbambu.” Dialah yang selama ini menghidupi komunitas, senantiasa berjuang mempertahankan fungsi organisasi, serta mendamaikan konflik antar anggota Sanggarbambu.
Dengan kata lain, Soenarto Pr. adalah jiwa dari Sanggarbambu itu sendiri. Nama Sanggarbambu diambil Soenarto Pr. dari inspirasi Rumah Bambu, hasil dekorasinya untuk pagelaran Teater Indonesia milik Kirdjomulyo tahun 1950-an. Kirdjomulyo pula yang melontarkan celetukan ”To, mau jadi pelukis kok tidak punya sanggar?” sehingga membakar semangat Soenarto Pr. untuk mendirikan sebuah sanggar seni. Kalimat inilah bersamaan dengan potret diri Soenarto Pr. (1972) berlatar oranye yang menyambut segenap penonton di dinding sisi kiri pintu masuk ruang pameran. Seolah menegaskan kebermulaan Sanggarbambu berasal dari pertanyaan sederhana, namun mendasar tersebut.
Kemanusiaan sebagai Prinsip
Bambu bagi komunitas Sanggarbambu mengandung filosofi mendalam mengenai persatuan, kelenturan, daya tahan, dan kebermanfaatan yang besar bagi umat manusia. Kirdjomulyo lalu menggubah Puisi Rumah Bambu sebagai Himne Sanggarbambu. ”Di sini aku temukan kau//Di sini aku temukan daku//Di sini aku temukan hati//Terasa tiada sendiri//Pandanglah aku/pandanglah aku//Aku di sana dengan hatiku//Dan taruh hati padamu//Di sini aku temukan hati//Terasa tiada sendiri//”. Dalam puisi itu tergambarkan bahwa ”kau” lebih didahulukan dan diutamakan ketimbang ”daku”, bahwa kebersamaan memupuk cinta, dan dari cinta itulah karya-karya tercipta.
Sanggarbambu dari awal terbentuk bukan semata sanggar pelukis, walaupun diinisiasi oleh seorang pelukis, melainkan rumah bagi para seniman teater, tari, pematung, pemusik, penyair, bahkan kritikus seni. Mereka berkumpul, beraktivitas, dan berkarya di sana. Melebur tanpa ada sekat antarseni. Rasa kekeluargaan dan persaudaraan menjadi konsep sekaligus metode kerja dalam keorganisasian Sanggarbambu. Nilai-nilai itu yang terus ditanamkan oleh Soenarto Pr. di masa kepemimpinannya, dan berupaya dirawat oleh generasi-generasi sesudahnya.
Pada April 2018, tepat tiga bulan sebelum Soenarto Pr. wafat, penulis sempat melakukan wawancara dengan almarhum. Terduduk di kursi roda usai berjemur pagi, ia masih dengan keteguhan seorang maestro menyatakan, ”Sanggarbambu sejak diresmikan itu nonpolitik, nonafiliasi partai. Sikap itu individu sekaligus sebagai bangsa, bukan sebagai golongan-golongan.” Prinsip tersebut dijabarkan secara terperinci dalam AD/ART organisasi yang disahkan pada 5 Agustus 1964. Bahwasanya asas dasar Sanggarbambu ialah Pancasila, serta terdiri atas Komisariat Jiwa (Jogjakarta), Komisariat Nafas (Jakarta), dan Komisariat Tubuh (Indonesia).
Secara bergotong royong seniman Sanggarbambu melaksanakan pementasan dan pameran keliling di sepanjang kota-kota kecil Pulau Jawa hingga Madura. Sanggarbambu menjelma, sebagaimana Totok Buchari (mantan ketua Sanggarbambu) mengistilahkan, ”jembatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian”. Kegiatan pameran keliling ini, selain sebagai wujud dedikasi seni untuk semangat nasionalisme, juga sebagai strategi mengatasi perebutan hegemoni dan kooptasi lembaga-lembaga kesenian ideologis masa itu.
Baca Juga
Setelah Pidato Usai
Setidaknya sampai hari ini Sanggarbambu dan Soenarto Pr. secara khusus sudah meneladankan bahwa seni bukanlah sekadar gincu untuk mempercantik diri, namun mengemban tanggung jawab moral untuk membela kemanusiaan. Konsekuensi pilihan peran dan karakter komunalnya, Sanggarbambu tak pernah melenggang di gerakan kesenian arus utama, tapi senantiasa menyisir arus tepian demi bertahan menggapai keabadian. (*)
Sarah Monica
Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya, Bangkitnya Kemurungan, memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.



