MENGGULIR gawai menjelang tidur menjadi rutinitas banyak orang. Tak sedikit yang melakukannya sambil rebahan miring, bahkan HP masih menyala hingga tertidur. Kebiasaan tersebut tidak hanya menyebabkan gangguan tidur, tapi juga mengganggu kesehatan mata.
Menurut dr Rozalina Loebis SpM(K), menggulir gawai sambil tiduran tidak secara langsung menyebabkan mata juling permanen. Namun, kebiasaan tersebut bisa memicu sejumlah keluhan yang memengaruhi kerja otot mata. ’’Posisi melihat yang tidak ideal membuat juling tersembunyi menjadi tampak nyata. Artinya, bukan HP yang menyebabkan mata juling. Tapi, posisi yang tidak benar saat menggunakan HP, bisa memicu timbulnya mata juling,’’ ujar Kepala Divisi Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus, Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Picu Digital Eye Strain
Kebiasaan tersebut juga memicu digital eye strain (computer vision syndrome), gejala dry eye, gangguan tidur akibat paparan cahaya biru, hingga peningkatan risiko bertambahnya minus, terutama pada anak dan remaja. Sebelum menjadi kelainan yang menetap, lanjut Rozalia, biasanya tubuh sudah memberi sinyal terlebih dulu. Mata cepat lelah, sakit kepala, kesulitan mengalihkan fokus dari dekat ke jauh, hingga sering menutup satu mata adalah gejala awal yang patut diwaspadai. ’’Kalau gejala ini muncul berulang, apalagi pada anak, jangan menunggu sampai benar-benar juling. Segera periksakan ke dokter mata,’’ tegas dokter spesialis mata Surabaya Eye Clinic itu.
Posisi Miring, Mata Tidak Simetris
Saat seseorang rebahan miring sambil melihat HP, kata Rozalina, posisi kedua mata tidak simetris. Satu mata lebih dekat ke layar, sedangkan mata lainnya lebih jauh. ’’Otot mata dipaksa bekerja tidak seimbang. Saraf-saraf penggerak bola mata pun harus mengompensasi posisi kepala dan layar yang tidak ideal,’’ jelasnya.
Kondisi tersebut membuat mata lebih cepat lelah. Beberapa orang bahkan merasakan sensasi mata seperti tertarik atau tidak sinkron sesaat setelah meletakkan HP. ’’Pada individu yang sejak kecil memiliki kelainan keseimbangan otot mata, kondisi ini dapat membuat strabismus (juling) yang tadinya tersembunyi menjadi semakin terlihat,’’ katanya.
Gawai Bukan Penyebab Utama
Namun, Rozalina menjelaskan bahwa akar utama strabismus jarang berasal dari kebiasaan menatap layar saja. Mata juling merupakan kondisi yang kompleks. Bisa disebabkan oleh kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, gangguan perkembangan penglihatan di otak, kelumpuhan saraf mata, kelainan struktur bola mata, hingga faktor genetik. ’’Dalam konteks ini, HP lebih tepat disebut faktor pencetus, bukan satu-satunya sumber masalah,’’ lanjutnya.
Anak dan remaja menjadi kelompok yang lebih rentan mengalami dampak dari kebiasaan ini. Sistem penglihatan kelompok usia tersebut masih berkembang hingga usia 8–10 tahun. ’’Pada anak yang sudah memiliki masalah keseimbangan otot mata atau kelainan refraksi, kebiasaan buruk ini bisa memperburuk kekompakan kerja kedua mata dan memperparah ambliopia (mata malas),’’ paparnya.
Perhatikan Jarak, Durasi, dan Posisi
Alih-alih melarang total, Rozalina menyarankan menggunakan gawai secara bijak. Orang tua perlu membimbing anak untuk memakai perangkat digital dengan jarak aman, posisi duduk tegak, serta pencahayaan memadai. Tiga faktor utama yang harus diperhatikan adalah jarak, durasi, dan posisi. Idealnya, gawai dipegang 30–40 cm dari mata. Aturan 20–20–20 juga penting diterapkan: setiap 20 menit menatap layar, istirahat 20 detik dengan melihat objek berjarak 6 meter. ’’Posisi rebahan miring jangan menjadi kebiasaan. Kalau terpaksa, usahakan jarak kedua mata ke layar sama dan penerangan tetap cukup,’’ sarannya.
Pemeriksaan mata rutin menjadi langkah pencegahan yang sangat penting, terutama bagi anak-anak. ’’Pemeriksaan mata pada anak bukan hanya soal berapa minusnya, tapi apakah otot matanya seimbang dan apakah kedua mata bekerja sama dengan baik,’’ ujarnya. (lai/ai)



