RUMAH Santhree menjadi oase kecil bagi penghuninya. Pemilik menginginkan hunian yang aman dan tenang, namun tetap memiliki ruang untuk menerima tamu dan keluarga tanpa mengorbankan privasi. Karena itu, diusunglah konsep open–closed house, permainan kontras antara keterbukaan dan ketertutupan. ’’Kami buat tampak luarnya sederhana dan privat, namun begitu melewati batas, terdapat ruang-ruang yang diselingi pocket gardens yang menghadirkan cahaya alami,’’ ujar prinsipal arsitek Ruangan ASA Jiwangga Putra.
Area Tangga Jadi Ruang Transisi
Desain tersebut bukan sekadar permainan visual, tetapi upaya menciptakan pengalaman ruang yang dinamis. Dengan kondisi tapak yang sempit dan berdekatan dengan tetangga, tim arsitek menitikberatkan pada sirkulasi udara dan pencahayaan alami agar setiap ruang tetap terasa lega.
Salah satu strateginya adalah penempatan tangga. Tidak seperti rumah pada umumnya, tangga di Rumah Santhree justru berada di area depan. ’’Desain ini menjadikan tangga berfungsi sebagai ruang transisi,’’ ucapnya.
Keputusan itu melahirkan area semi-terbuka yang berperan ganda sebagai teras sekaligus ruang tamu. ’’Ruang di sekitar tangga menjadi semacam penyaring antara dunia luar dan dalam rumah. Tamu bisa diterima di sini tanpa mengganggu aktivitas keluarga di area pribadi,’’ sambung Jiwangga.
Dari titik ini, alur sirkulasi dibuat fleksibel. Tamu dapat langsung naik ke lantai atas atau menuju ruang keluarga di lantai dasar. Lantai dasar dirancang terbuka tanpa sekat antara ruang keluarga, ruang makan, dan dapur.
Ventilasi dan Cahaya Optimal
Void di tengah bangunan menjadi elemen penting. Bukaan vertikal ini menghadirkan cahaya alami, memfasilitasi ventilasi silang, sekaligus menyatukan lantai satu dan dua. Dari sisi estetika ruang, void diperkuat bentuk atap pelana yang tinggi.
Elemen lengkung pada koridor lantai dua yang menghadap void, memberi kualitas visual yang lebih lembut, menyeimbangkan kesan monumental atap dengan nuansa ruang yang tetap hangat. Secara keseluruhan, Rumah Santhree menempatkan void sebagai pusat pengolahan ruang dalam. ’’Fungsinya tidak hanya untuk pencahayaan dan ventilasi, tetapi juga berperan sebagai pengikat antar-ruang. Ini yang membuat rumah terasa lega, sehat, dan berkarakter meskipun berdiri di atas lahan terbatas,’’ jelas Jiwangga.
Keberadaan tiga pocket garden turut menghadirkan penghawaan dan pencahayaan alami. Masing-masing tersebar di zona publik, semi-publik, dan privat. Dengan atap terbuka, taman-taman kecil ini menjadi sumber udara segar sekaligus penyeimbang visual di antara massa bangunan yang padat. (lai/ai)




