Mendekati Tes Kemampuan Akademik (TKA), suasana rumah terasa tegang. Siswa SMA yang bersiap menghadapi ujian ini sering kali tampak cemas, mudah tersinggung, bahkan kehilangan semangat belajar. Orang tua pun was-was akan kemampuan akademis buah hatinya.
’’Tekanan yang muncul bukan hanya soal nilai, tetapi juga soal makna eksistensial: apakah saya cukup pintar dan layak,’’ ujar Nur Ainy Fardana MPsi Psikolog. Kecemasan akademik bisa berdampak pada fisik dan mental. Anak mungkin mengalami sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau merasa tidak percaya diri. Dalam kondisi seperti ini, dukungan emosional dari orang tua sangat menentukan. ’’Ketika anak merasa seluruh masa depannya ditentukan oleh satu ujian, kecemasan akan meningkat. Karena itu, kehadiran orang tua yang menenangkan menjadi sangat penting,’’ jelasnya.
Orang Tua Bantu Kelola Stres
Orang tua berperan sebagai penyeimbang emosi atau co-regulator, yang membantu anak mengelola stres. Remaja memang sudah lebih mandiri, tetapi belum sepenuhnya mampu menenangkan diri. Ainy menyarankan agar orang tua mengganti kalimat yang menekan dengan kalimat yang memvalidasi. Misalnya, daripada berkata, ’’Kamu harus belajar lebih keras’’ lebih baik ucapkan ’’Mama tahu kamu sudah berusaha. Istirahat juga penting supaya otakmu segar lagi.’’ Validasi sederhana seperti itu bisa membuat anak merasa dipahami dan diterima.
Anak yang merasa aman secara emosional akan lebih mudah fokus belajar. ’’Kalau anak merasa dicintai tanpa syarat, dia berani berjuang tanpa takut gagal,’’ ujar Ainy. Rasa aman ini menjadi dasar dari ketahanan mental, terutama menjelang ujian penting seperti TKA.
Fokus pada Usaha, Bukan Nilai
Banyak orang tua bermaksud memotivasi anak, tetapi tanpa sadar justru memberi tekanan. Kalimat seperti ’’Kamu harus masuk universitas negeri’’ bisa menimbulkan kecemasan baru. Menurut Ainy, orang tua sebaiknya menekankan pada proses, bukan hasil. Fokus pada usaha dan perkembangan anak, bukan pada nilai semata. Dengan begitu, motivasi anak muncul dari dalam dirinya, bukan karena rasa takut mengecewakan orang tua.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Beberapa kesalahan umum sering terjadi menjelang ujian besar seperti TKA. Misalnya, terlalu menekankan hasil belajar, membuat jadwal belajar yang berlebihan tanpa waktu istirahat, atau sering membandingkan anak dengan teman lain. Ada pula orang tua yang langsung memberi solusi tanpa mendengarkan keluhan anak. ’’Suasana hati orang tua yang stabil menular ke anak, begitu juga sebaliknya. Karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa menjaga ketenangan diri adalah bentuk dukungan yang paling nyata,’’ kata dosen Psikolog Pendidikan dan Perkembangan Anak Fakultas Psikologi Unair itu. (ana/ai)



