PRESIDEN Prabowo Subianto menggulirkan wacana mengembalikan pelajaran menulis halus di sekolah dasar. Hal tersebut mendapatkan respons positif dari berbagai kalangan. Keterampilan tersebut berperan penting dalam melatih motorik halus, fokus, hingga regulasi diri anak.
Menulis halus maupun sambung adalah aktivitas kompleks yang menggabungkan gerakan motorik halus, kemampuan kognitif, dan pengendalian diri. ’’Saat menulis sambung, anak jadi terlatih untuk koordinasi antara gerakan tangan, fokus, dan memori pola huruf yang berkelanjutan,’’ ujar Sakinah Hasimiyah Al Hinduan MPsi Psikolog.
Tumbuhkan Karakter Positif
Latihan ini juga membantu meluweskan gerakan tangan sekaligus meningkatkan ketelitian. Selain itu, juga menumbuhkan karakter positif sejak dini. Anak belajar mengikuti pola huruf dan ritme tulisan yang stabil sehingga otomatis dituntut untuk sabar, teliti, dan konsisten. ’’Menulis sambung memiliki pola dan ritme yang harus diikuti. Dari situ anak belajar disiplin,’’ imbuh psikolog pendidikan itu.
Manfaat terbesar dari menulis tegak bersambung pada penguatan motorik halus. Sakinah menerangkan bahwa saat menulis sambung, anak mengontrol otot jari untuk mengatur tekanan pensil, ukuran lengkungan, hingga ketebalan garis. ’’Ini latihan lengkap karena melibatkan jari, pergelangan, lengan, bahkan bahu untuk menjaga stabilitas,’’ ujarnya.
Tingkatkan Koordinasi Mata-Tangan
Dia juga menyoroti koordinasi antara mata dan tangan selama proses menulis. Anak harus memperhatikan ukuran huruf, jarak antarhuruf, hingga kemiringan tulisan. ’’Misalnya saat menulis huruf m lalu disambungkan dengan huruf e, anak harus bisa menyesuaikan arah gerakan agar sambungan hurufnya halus,’’ kata Sakinah.
Kebiasaan mengikuti urutan gerak, pola huruf, serta ritme yang stabil membuat anak belajar menikmati proses, bukan sekadar cepat selesai. Hal tersebut membuat anak sadar dan teliti. ’’Kalau tidak teliti, hurufnya tidak terbentuk. Selain itu, juga melatih anak untuk memperhatikan detail,’’ ujarnya.
Semua itu tidak didapatkan dari menulis di gawai. Menurut Sakinah, menulis di gawai atau stylus tidak melatih tekanan, kontrol pergelangan, maupun sensasi propriosepsi yang dibutuhkan untuk perkembangan otak kecil.
Latihan Mulai Kelas II SD
Kapan menulis sambung mulai diajarkan ke anak? Latihan ini idealnya mulai diajarkan pada usia 7–9 tahun atau saat anak berada di kelas II atau III SD. ’’Di usia ini motorik halus lebih kuat dan fokus anak lebih stabil, sangat mendukung proses belajar menulis sambung,’’ jelas Sakinah.
Dia mengatakan wajar jika anak butuh waktu lama untuk menguasai tulisan sambung karena keterampilan ini lebih kompleks dibanding menulis huruf terputus. Ketika tulisan anak sulit terbaca, garis sering melenceng, atau mereka cepat lelah, itu bisa menjadi tanda perlunya dukungan tambahan. ’’Perhatikan jika anak frustrasi atau sering mengeluh sakit tangan. Itu berarti ia masih perlu latihan bertahap,’’ paparnya.
Belajar Menyenangkan dengan Media Beragam
Agar proses belajar lebih menyenangkan, orang tua dan guru disarankan memberikan latihan bertahap. Mulai dari mengenalkan garis dan pola lengkung, lalu huruf kecil, huruf besar, hingga kata sederhana. ’’Gunakan media variatif seperti papan tulis, warna-warni, atau menulis kata dari karakter favorit anak,’’ sarannya.
Durasi latihan pun tidak harus panjang. Cukup 5–10 menit sehari dengan target kecil. Misalnya, dua huruf per sesi. Yang terpenting, jangan memaksa anak. Orang tua juga dapat mendukung dari rumah lewat kegiatan yang memperkuat otot jari dan koordinasi tangan-mata. ’’Aktivitas seperti meremas spons, menggunting pola, meronce, hingga memasukkan koin ke lubang bisa menjadi latihan sederhana yang efektif,’’ lanjutnya.
Selain itu, latihan seperti menelusuri garis lengkung atau menebalkan pola huruf juga membantu anak memahami ritme dan bentuk huruf. ’’Gerakan repetitif ini akan membuat tangan lebih luwes dan siap untuk tulisan sambung,’’ imbuhnya. (lai/ai)



