Arsip adalah rekaman peristiwa, mungkin juga memori atau perasaan, yang terjadi di masa lalu. Dalam penulisan karya sastra, arsip kerap dijadikan sumber inspirasi maupun data yang digunakan penulisnya untuk tujuan tertentu.
Tentu saja, menjadikan arsip sebagai inspirasi bukan hal baru dalam menulis cerita. Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya, dapat dijadikan salah satu model karya yang sumber materialnya banyak berasal dari arsip. Mulai surat kabar, akta notaris, peta, hingga catatan intelijen, ramuan terhadap ragam dokumen itu teraransemen apik dalam Bumi Manusia hingga Rumah Kaca.
Tak terbayang bagaimana ketekunan dan keuletan seorang Pram melakukan proses penelusuran dan pengarsipan, ketika teknologi masih sama sekali lain dibandingkan hari ini. Barangkali itulah kenapa dalam satu wawancaranya, Pram sungguh meradang karena banyak buku, kliping, dan koleksi dokumen-dokumennya dirampas lalu raib saat dirinya dipenjara.
Jika dulu seseorang harus menyimpan dan mengkliping arsip fisik, teknologi era kiwari memungkinkan seseorang menjelajahi situs-situs arsip dalam format digital. Teramat banyak arsip dapat diakses dan diunduh –meski sebagian tidak– dari dalam maupun luar negeri, baik yang berbayar maupun cuma-cuma.
Namun, untuk memperoleh arsip yang dibutuhkan, sama sekali bukan perkara mudah. Ketepatan memilih kata kunci pada mesin pencarian, kesesuaiannya dengan ejaan bahasa yang digunakan, serta kepekaan mencari kombinasi/klasifikasi arsip bertema serupa adalah sebagian dari tantangan memperoleh arsip.
Baca Juga
Cara Kerja Kritik Sastra
Tetapi, arsip hanya merekam sepenggal peristiwa dari kenyataan yang mungkin berlapis dan teramat kompleks. Untuk merangkainya sebagai cerita, diperlukan kerja penelusuran, pembacaan, dan penafsiran terhadap arsip-arsip lain secara lebih menyeluruh.
Antara lain, memoar, surat kabar, foto, dan kesaksian. Masa lalu terhampar menyerupai labirin: rumit, pelik, enigmatik, namun menantang untuk ditelusuri, sebelum akhirnya dihadirkan kembali dalam suatu cerita.
Karena itu, proses penelusuran arsip pun serupa detektif yang bergerak dari satu petunjuk ke petunjuk lainnya. Memeriksa, memilih dan memilah, lantas mempertautkannya satu sama lain. Masing-masing arsip kadang saling menguatkan, namun tak jarang saling bertentangan.
Sampai di manakah ujung penelusuran itu, tiap penulis punya pertimbangan dan keputusan kreatif masing-masing. Yang pasti, ketekunan memperoleh dan mempelajari arsip dapat menghindarkan penulis dari anakronisme. Yakni, kekeliruan penggunaan detail elemen-elemen dalam cerita dengan konteks zaman yang melatarinya.
Sampai di sini kita tahu, proses kreatif menulis adalah aktivitas kompleks yang tak dapat dilakukan secara sembarangan dan sepintas lalu. Seperti pemeo beberapa penulis: kebenaran mungkin tidak selalu masuk akal, sedangkan fiksi harus. (*)



