Loading...
Jumat Pon, 20 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Sudut Pengarang
Home
›Sudut Pengarang

Duri dan Kutuk, Simbol Hukuman dan Konsekuensi Perbuatan

Editor-Sudut Pengarang
4 November 2025
Duri dan Kutuk, Simbol Hukuman dan Konsekuensi Perbuatan
Klik untuk perbesar
Cicilia Oday/Jawa Pos

Novel Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday berhasil memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Salah satu kekuatan karya bergenre realisme magis itu terletak pada konflik yang kompleks.

Cicilia mengangkat isu pengasuhan, kekerasan seksual, perundungan, hingga kelestarian lingkungan. Meski sarat tema berat, ia tetap memperhatikan porsi ketegangan di setiap bab agar tidak terkesan berlebihan atau mengada-ngada.

Semula, novel tersebut ditulis untuk diikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis. Tapi, sebelum itu memang sudah terbentuk fragmen-fragmen visual di benaknya tentang pohon-pohon berwujud manusia serta figur perempuan mistis yang punya hubungan istimewa dengan seekor ular besar.

Cicilia juga mengungkap cerita menarik di balik pemilihan judul tersebut. Menurut dia, nama Duri dan Kutuk sebenarnya muncul belakangan. ”Semula judulnya Wanita yang Selingkuh dengan Ular. Lalu, editorku menyarankan untuk menggantinya menjadi Perempuan yang Selingkuh dengan Ular,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Judul itu dipertahankan cukup lama. Tapi, seiring penulisan ulang, isi cerita dirasa tak lagi cocok dengan judul tersebut. Ia sempat mempertimbangkan Jenggala, yang secara harfiah berarti hutan, sebelum akhirnya menetapkan dua kata yang dianggap kuat dan padu: duri dan kutuk.

Menurut Cicilia, dua kata itu memiliki makna yang beririsan dalam konteks kisah. ”Duri adalah simbol hukuman, sedangkan kutuk adalah konsekuensi dari perbuatan Adam yang tercela. Pada dasarnya, keduanya sama-sama ’hukuman’ dan saya menyukai kedua kata ini ketika dipadankan,” paparnya.

Baca Juga

Cara Kerja Kritik Sastra

Cicilia menjelaskan, benang merah dari berbagai isu yang diangkat adalah hipokrisi atau kemunafikan manusia. Dalam cerita, Adam diasuh orang tuanya, terutama sang ibu, yang beranggapan bahwa ia anak baik. Meski sesekali merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada diri sang anak, ibunya memilih menepis kecurigaan itu dan tetap membelanya sepenuh hati, bahkan ketika yang dibela adalah kesalahan.

Soal gaya penceritaan, Duri dan Kutuk tidak jauh berbeda dengan novel sebelumnya, Keluarga Lego, yang menggunakan sudut pandang berganti antara orang pertama dan orang ketiga. Kalaupun ada perbedaan, itu terletak pada nuansa dan suasana kedua cerita yang memang amat berbeda. ”Duri dan Kutuk adalah bayi yang dilahirkan di tengah malam, sedangkan Keluarga Lego dilahirkan saat siang hari,” ujarnya mengibaratkan.

Bagi Cicilia, tema-tema sosial tetap menarik dieksplorasi dalam sastra. Meski begitu, dia berharap tidak mendominasi keseluruhan kisah. ”Mungkin ada pembaca yang menyukai kisah-kisah berat dengan kritik sosial yang lantang. Tapi, saya lebih suka menaruh perhatian pada konflik dan alur cerita daripada gagasan besar di baliknya,” ucapnya.

Contohnya dalam novelnya sendiri. Cicilia memang menyusupkan isu lingkungan dan feminisme (ekofeminisme). ”Tapi, toh penyimpangan perilaku Adam dan alienasi Eva-lah (dua titik dari mana kisah ini dirajut) yang lebih ditonjolkan,” katanya. (mad)

Bagikan artikel ini

Most Read

1

Cara Kerja Kritik Sastra

Sudut Pengarang
2

Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Sudut Pengarang

Berita Terbaru

Cara Kerja Kritik Sastra

Cara Kerja Kritik Sastra

Sudut Pengarang•22 November 2025
Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Sudut Pengarang•15 November 2025
Home
›Sudut Pengarang
›Duri dan Kutuk, Simbol Hukuman dan Konsekuensi Perbuatan
Duri dan Kutuk, Simbol Hukuman dan Konsekuensi Perbuatan
Sudut Pengarang

Duri dan Kutuk, Simbol Hukuman dan Konsekuensi Perbuatan

Editor-4 November 2025
Klik untuk perbesar

Cicilia Oday/Jawa Pos

Bagikan artikel ini

Novel Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday berhasil memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Salah satu kekuatan karya bergenre realisme magis itu terletak pada konflik yang kompleks.

Cicilia mengangkat isu pengasuhan, kekerasan seksual, perundungan, hingga kelestarian lingkungan. Meski sarat tema berat, ia tetap memperhatikan porsi ketegangan di setiap bab agar tidak terkesan berlebihan atau mengada-ngada.

Semula, novel tersebut ditulis untuk diikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis. Tapi, sebelum itu memang sudah terbentuk fragmen-fragmen visual di benaknya tentang pohon-pohon berwujud manusia serta figur perempuan mistis yang punya hubungan istimewa dengan seekor ular besar.

Cicilia juga mengungkap cerita menarik di balik pemilihan judul tersebut. Menurut dia, nama Duri dan Kutuk sebenarnya muncul belakangan. ”Semula judulnya Wanita yang Selingkuh dengan Ular. Lalu, editorku menyarankan untuk menggantinya menjadi Perempuan yang Selingkuh dengan Ular,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Judul itu dipertahankan cukup lama. Tapi, seiring penulisan ulang, isi cerita dirasa tak lagi cocok dengan judul tersebut. Ia sempat mempertimbangkan Jenggala, yang secara harfiah berarti hutan, sebelum akhirnya menetapkan dua kata yang dianggap kuat dan padu: duri dan kutuk.

Menurut Cicilia, dua kata itu memiliki makna yang beririsan dalam konteks kisah. ”Duri adalah simbol hukuman, sedangkan kutuk adalah konsekuensi dari perbuatan Adam yang tercela. Pada dasarnya, keduanya sama-sama ’hukuman’ dan saya menyukai kedua kata ini ketika dipadankan,” paparnya.

Baca Juga

Cara Kerja Kritik Sastra

Cicilia menjelaskan, benang merah dari berbagai isu yang diangkat adalah hipokrisi atau kemunafikan manusia. Dalam cerita, Adam diasuh orang tuanya, terutama sang ibu, yang beranggapan bahwa ia anak baik. Meski sesekali merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada diri sang anak, ibunya memilih menepis kecurigaan itu dan tetap membelanya sepenuh hati, bahkan ketika yang dibela adalah kesalahan.

Soal gaya penceritaan, Duri dan Kutuk tidak jauh berbeda dengan novel sebelumnya, Keluarga Lego, yang menggunakan sudut pandang berganti antara orang pertama dan orang ketiga. Kalaupun ada perbedaan, itu terletak pada nuansa dan suasana kedua cerita yang memang amat berbeda. ”Duri dan Kutuk adalah bayi yang dilahirkan di tengah malam, sedangkan Keluarga Lego dilahirkan saat siang hari,” ujarnya mengibaratkan.

Bagi Cicilia, tema-tema sosial tetap menarik dieksplorasi dalam sastra. Meski begitu, dia berharap tidak mendominasi keseluruhan kisah. ”Mungkin ada pembaca yang menyukai kisah-kisah berat dengan kritik sosial yang lantang. Tapi, saya lebih suka menaruh perhatian pada konflik dan alur cerita daripada gagasan besar di baliknya,” ucapnya.

Contohnya dalam novelnya sendiri. Cicilia memang menyusupkan isu lingkungan dan feminisme (ekofeminisme). ”Tapi, toh penyimpangan perilaku Adam dan alienasi Eva-lah (dua titik dari mana kisah ini dirajut) yang lebih ditonjolkan,” katanya. (mad)

Most Read

1

Cara Kerja Kritik Sastra

Sudut Pengarang
2

Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Sudut Pengarang

Berita Terbaru

Cara Kerja Kritik Sastra

Cara Kerja Kritik Sastra

Sudut Pengarang•22 November 2025
Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Sudut Pengarang•15 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001