KETERBATASAN lahan bukan halangan untuk berkebun. Ruang sempit seperti balkon rumah pun bisa disulap jadi kebun mini yang rimbun dan produktif. Kuncinya penataan yang efisien, pemilihan tanaman yang tepat, serta pemahaman karakter tiap tanaman.
Keinginan Dewi Mayasari untuk berkebun bermula dari masalah sederhana. Yakni, balkon rumahnya terlalu panas dan menyilaukan saat siang. Ruang kecil berukuran 3x6 meter yang awalnya hanya digunakan untuk menjemur itu akhirnya bertransformasi menjadi kebun mini yang rimbun. ’’Terlintas kenapa tidak berkebun sayuran yang mudah tumbuh dan dibutuhkan sehari-hari,’’ tutur kreator kebun yang kerap membagikan aktivitasnya lewat akun @dewimayasari0214 itu.
Dewi mulai berkebun sekitar dua tahun lalu. Dengan memanfaatkan sudut balkon yang terbatas, dia berusaha menciptakan ruang hijau yang nyaman sekaligus produktif. Keterbatasan lahan justru mendorongnya lebih kreatif dalam penataan. Dia menata kebunnya berdasarkan jenis tanaman dan ukuran. ’’Saya menyediakan rak penyimpanan, menggantung pot di pagar balkon, dan menyusun sesuai kelompok,’’ jelasnya.
Daun Bawang Tanaman Perdana
Tanaman pertama yang dia tanam adalah daun bawang. Hingga kini pun masih menjadi tanaman wajib. Ada pula seledri yang selalu tersedia. ’’Kita perlu sedikit, tapi kalau stok di kulkas cepat kering. Jadi mending tanam sendiri, sewaktu butuh langsung ambil yang fresh,’’ ujar Dewi.
Kini kebun mini itu berisi beragam tanaman sayur seperti bayam, bayam Brasil, kangkung, kale, kembang kol, cabe, buncis, pare, dan kacang panjang. Ada pula tanaman buah seperti murbei, apel futsa, hingga melon. Namun, untuk tanaman yang membutuhkan ruang, Dewi menanamnya bergantian. ’’Melon khusus ditanam saat kemarau. Kacang panjang dan buncis juga gantian karena tempat terbatas,’’ katanya.
Untuk pemula, Dewi menyarankan memulai dari tanaman yang cepat panen. ’’Kangkung, bayam, pakcoy itu paling mudah. Setelah itu baru coba bawang daun, seledri, dan cabai. Untuk buah, murbei dan apel futsa cocok banget karena tidak manja di kebun balkon,’’ sarannya.
Angin dan Hujan Jadi Tantangan
Masalah utama berkebun di balkon adalah paparan panas ekstrem dan hujan deras. Dewi punya strategi sendiri. ’’Saat kemarau, saya stop tanam beberapa sayuran dan ganti dengan melon yang butuh sinar matahari dari pagi sampai sore. Jadi kebun tetap produktif,’’ ungkapnya. Saat musim hujan, dia berhenti menanam melon dan kembali menanam sayuran konsumsi.
Angin besar juga kerap menjadi tantangan. ’’Biasanya kami turunkan beberapa pot yang digantung di pagar. Selebihnya masih aman,’’ kata Dewi. Hal ini sekaligus menjawab rasa penasaran orang yang menyangka kebunnya luas karena terlihat sangat rimbun di foto dan video.
Gunakan Media Tanam Kaya Unsur Hara
Untuk mengoptimalkan ruang, Dewi menggunakan rak bertingkat, planter bag, dan konsep vertical garden. ’’Rak bertingkat cocok untuk meletakkan banyak pot. Planter bag dipakai untuk tanaman berakar luas seperti anggur dan apel futsa. Sedangkan vertical garden diganti dengan dudukan besi yang ditempel pagar,’’ bebernya.
Media tanam menjadi bagian yang tak bisa ditawar. Dia membuat campuran tanah, kohe, sekam bakar, dan humus berkualitas. ’’Karena semua ditanam di pot, nutrisi terbatas. Di sinilah perlunya media tanam yang kaya unsur hara,’’ tegasnya.
Dewi menekankan pentingnya memahami karakter tiap tanaman. Beda tanaman, beda juga perawatannya. ’’Bawang daun cukup disiram saat media tanam kering. Tapi kale sedikit panas saja sudah terlihat layu,’’ jelasnya.
Pemupukan dan pruning dilakukan sepekan sekali pada Minggu. Selain itu, dia rutin menggemburkan media tanam agar oksigen terserap akar. Untuk mengusir hama, Dewi menggunakan pestisida nabati sepekan sekali. ’’Organik ya, jadi tidak membunuh tapi menjauhkan hama dari tanaman. Makanya harus rutin,’’ tambahnya. Dia juga menerapkan rotasi tanaman untuk mencegah hama berkembang di satu jenis tanaman saja. (lai/ai)




