Banjir di wilayah-wilayah langganan masih jadi PR yang ditangani oleh pemangku kebijakan di Gresik. Tak hanya banjir akibat luapan daerah aliran sungai (DAS) yang melintasi wilayah Kota Pudak, tapi juga banjir tengah kota.
==================================================
Selama beberapa tahun terakhir, atensi pemkab terhadap penanganan banjir tahunan akibat luapan Kali Lamong sebenarnya sudah besar. Sederet proyek besar digulirkan.
Salah satunya adalah revitalisasi dan normalisasi sungai serta anak sungai di wilayah aliran. Lewat proyek ini, fungsi dan daya tampung Kali Lamong dimaksimalkan.
Tak hanya itu, pemkab juga menggulirkan metode baru, yakni mendirikan kolam retensi (penampungan). Satu sudah beroperasi, yakni di kawasan Tambakberas (Cerme). Selanjutnya, kolam ini dibangun di titik lain di wilayah lintasan Kali Lamong. Proyeksinya ada lima titik.
Hanya saja, sejauh ini banjir akibat luapan Kali Lamong masih terjadi. Bahkan, banjir sudah muncul di awal masa musim penghujan. Namun, area yang terdampak di fase awal berbeda. Biasanya hulu lebih dulu.
Tapi saat ini, yang paling terdampak adalah wilayah hilir, terutama di Menganti, sebagian Kedamean, dan Cerme. ”Dari hasil evaluasi, banjir dipicu jebolnya tanggul-tanggul sungai di wilayah tersebut. Ini yang perlu jadi atensi,” kata Wakil Ketua Komisi III DPRD Gresik Abdullah Hamdi.
Di Menganti, jebolnya tanggul di Desa Pranti membuat air meluber ke permukiman dan persawahan di sejumlah wilayah. Situasi sama terjadi di Kedamean. Jebolnya tangkis penahan air di Glindah dan Lampah juga memicu banjir.
Kasus tanggul jebol juga terjadi di wilayah Kecamatan Cerme. Dua tangkis di Desa Dadapkuning ambrol akibat tergerus aliran sungai yang deras. ”Panjang gerusan sekitar 5 meter dengan kedalaman mencapai 2,5 meter,” kata Kepala BPBD Gresik Sukardi.
Dari hasil evaluasi, tanggul-tanggul itu tidak kuat menahan kenaikan debit air dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu memang belum sampai berdampak ke permukiman warga. Namun, 70 hektare sawah dan tambak di tiga desa masih terendam. Yakni di Morowudi, Pandu, dan Dadapkuning.
Sejauh ini, tim penanggulangan bencana tengah melakukan langkah perbaikan darurat, yakni memasang penahan berupa 2 ribu karung sak berisi pasir serta penguatan titik tanggul lainnya pada wilayah hilir Kali Lamong, yakni Cerme dan Menganti.
Sementara itu, untuk banjir di wilayah hulu (yakni di Kecamatan Benjeng dan Balongpanggang) sejauh ini sudah berangsur surut. Baik di wilayah permukiman, persawahan, hingga jalan desa. ”Namun, kami tetap menyiagakan posko darurat dan dapur umum,” tandas Sukardi.
Potensi banjir juga masih rawan terjadi di wilayah lintasan sungai lain. Di wilayah Bungah dan sekitarnya masih berpotensi terkena banjir ketika Bengawan Solo meluap. Demikian pula di wilayah Driyorejo-sekitar. Jika Kali Surabaya meluap, banjir masih kerap menyapa. (yog/ris)



