Tembok rumah warga di Jalan Kramat Langon, Kecamatan Gresik, terpaksa dibongkar oleh tim Dinas Cipta Karya, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DCKPKP) Gresik pada akhir pekan lalu.
Pemicunya, tembok itu berdiri di atas saluran air. Keberadaan tembok tersebut diduga menjadi salah satu penyebab banjir di sebagian wilayah kota. Sebab, tembok itu membuat saluran menyempit. Dari awalnya berdiameter 60–80 sentimeter, kini tinggal 35 sentimeter.
”Kami ajak ngobrol pemilik rumah dan menyadari. Dan Alhamdulillah pemilik berinisiatif membongkar sendiri. Kami apresiasi atas kesadarannya,” kata Kepala DCKPKP Gresik Ida Lailatus Sa’diyah.
Selain di Kramat Langon, DCKPKP mensinyalir masih banyak saluran-saluran drainase di wilayah perkotaan yang fungsinya terganggu akibat bangunan milik warga. Situasi itulah yang membuat banjir di perkotaan sulit teratasi tuntas.
Tak hanya masalah bangunan, jaringan drainase di wilayah perkotaan juga masih terganggu problem klasik: tumpukan sampah beraneka ragam. Mulai sampah kecil hingga sampah berukuran besar seperti kasur bekas, ranjang bekas, hingga perabot yang dibuang sembarangan.
Praktik tidak bertanggung jawab itu berkali-kali ditemukan tim DCKPKP saat membersihkan saluran drainase yang mengarah ke hilir. Di antaranya di Pulopancikan hingga Lumpur.
Kualitas jaringan drainase juga menjadi pemicu utama banjir di wilayah perbatasan kota. Seperti di sepanjang jalur protokol Gresik Kota Baru (GKB), wilayah Suci (Manyar), hingga kawasan Bunder. (son/ris)



