Caption : Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Ilfi Nur Diana siap berkolaborasi untuk mengawal transformasi pesantren di Indonesia. (Dok. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
Berperan Tingkatkan Pendidikan Islam, Rektor UIN Malang Siap Kawal Transformasi Pesantren
JAKARTA - Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Ilfi Nur Diana siap mendukung transformasi pesantren di Indonesia. Sebab, pesantren mempunyai kontribusi besar dalam peningkatan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Ilfi dalam Halaqah Pesantren di kampusnya, Senin (24/11) malam. Dia mengatakan, perlu upaya bersama untuk memperkuat tata kelola pesantren yang mandiri, modern, dan berkelanjutan. Menurut dia, penguatan tata kelola pesantren menjadi bagian penting dari peningkatan kualitas pendidikan Islam.
“UIN Maliki Malang berkomitmen menjadi bagian dari transformasi pesantren agar semakin mandiri, adaptif, dan tetap menjaga nilai-nilai tradisi keilmuan Islam,” ujarnya. Karena itu, dia menyambut baik kebijakan Presiden Prabowo Subianto membentuk Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama.
Baginya, keputusan Prabowo itu merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat tata kelola dan mutu pendidikan pesantren. Apalagi, keberadaan pesantren yang selama berabad-abad telah menjadi pilar peradaban Islam di Indonesia.
Dia menjelaskan, pembentukan Ditjen Pesantren merupakan masa depan ekosistem pesantren. Khusus pesantren sebagai pusat keilmuan, moderasi beragama, pemberdayaan masyarakat, dan penjaga peradaban Islam. Selain itu, dia mendorong transformasi tata kelola pesantren di Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Menteri Agama Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Kerukunan Umat Beragama Prof. Andi Salman Manggalatung mengatakan, pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren merupakan langkah strategis negara dalam memperkuat peran pesantren sebagai pilar peradaban Islam Indonesia.
Andi Salman menyatakan bahwa pesantren telah menjadi basis pendidikan dan pemberdayaan masyarakat selama berabad-abad. Untuk itu diperlukan tata kelola yang lebih terstruktur, modern, dan responsif terhadap dinamika zaman.
“Pembentukan Ditjen Pesantren bukan sekadar perubahan struktur birokrasi," tegasnya. Tetapi tonggak penting yang mengakui peran historis dan masa depan pesantren. Menurut dia, negara ingin hadir lebih kuat untuk memastikan pesantren semakin mandiri, berkualitas, dan mampu beradaptasi dengan tantangan global tanpa kehilangan jati diri keilmuan Islam. (wan/oni)



