Loading...
Jumat Pon, 20 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Kementerian
Home
›Kementerian

Gelondongan Kayu Terbawa di Bencana Sumatera, Momentum Perbaikan Tata Kelola Hutan

Editor-Kementerian
29 November 2025
PEDULI: Menhut Raja Juli Antoni meninjau lokasi gajah di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau (29/11).
Klik untuk perbesar
Dok. Kemenhut

PEDULI: Menhut Raja Juli Antoni meninjau lokasi gajah di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau (29/11).

JAKARTA - Banjir bandang besar terjadi di tiga provinsi di Sumatera dalam waktu hampir bersamaan. Yaitu di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Banjir bandang membawa gelondongan kayu besar. Mengindikasikan adanya kerusakan hutan di daerah resapan air hujan.

Banjir bandang tersebut menjadi perhatian Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Dia menyampaikan duka mendalam atas bencana yang merenggut cukup banyak korban jiwa itu. Raja menegaskan bahwa kejadian itu harus menjadi titik balik untuk memperbaiki tata kelola hutan dan lingkungan hidup di Indonesia.

Raja menilai perhatian publik yang kini tertuju pada bencana tersebut merupakan momentum penting untuk melakukan introspeksi. Menurutnya, kejadian ini memperlihatkan adanya kesalahan mendasar dalam pengelolaan lingkungan. "Semua telinga mendengar, semua kita merasakan apa yang terjadi. Mudah-mudahan tidak melebar ke wilayah lain,” kata Raja saat kunjungan di Taman Nasional Tesso Nilo Riau (29/11).

Dia menceritakan, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya mengatakan, penebangan hutan liar yang tidak terkontrol berkontribusi besar terhadap bencana. Raja menegaskan, pemerintah segera melakukan evaluasi kebijakan terkait pengelolaan hutan.

"Karena pendulum ekonomi dan ekologi ini cenderung ke ekonomi, harus ditarik ke tengah lagi. Buktinya nyata kan untuk saudara-saudara kita. Itu fakta yang kita rasakan," sambungnya. Pengelolaan hutan tidak boleh lagi terlalu condong berlebihan ke sisi ekonomi atau komersial. Sampai kemudian melupakan sisi kelestarian lingkungan hidup.

Baca Juga

Capek di Perjalanan, Pemudik Nataru Boleh Istirahat di Masjid dan Musala

Dalam kunjungannya ke Riau selama dua hari, Raja menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berhenti pada evaluasi. Tetapi langsung mengambil langkah konkret. Salah satunya di Kuantan Singingi, ia menyerahkan Surat Keputusan (SK) Hutan Adat sebagai bentuk penguatan hak masyarakat adat.

“Masyarakat adat selama ini tersisihkan, padahal mereka adalah kelompok yang paling mampu menjaga hutan," jelasnya. Legalisasi itu memberi mereka ruang untuk berkontribusi. Raja titip pesan supaya hutan terus dijaga dan dikelola dengan baik.

Raja menegaskan, pemerintah berkomitmen memperbaiki pengelolaan hutan secara menyeluruh sebagai respons atas bencana yang terjadi. Di Taman Nasional Tesso Nilo itu, Raja meninjau proses restorasi hutan untuk memastikan habitat Gajah Sumatera Domang dan keluarganya berjalan baik dan tidak terganggu. Dia memastikan langkah-langkah penyelesaian yang dilakukan di Riau akan diterapkan juga di wilayah lain yang terdampak. (wan/oni)

Bagikan artikel ini

Most Read

1

Kementerian Pertanian Alokasikan Anggaran Rp 1 Triliun untuk Peningkatan Produksi Kopi Nasional

Kementerian
2

Kemen-LH Periksa Perusahaan Tambang dan Sawit Terkait Bencana Sumatera

Kementerian

Berita Terbaru

Kementerian Pertanian Alokasikan Anggaran Rp 1 Triliun untuk Peningkatan Produksi Kopi Nasional

Kementerian Pertanian Alokasikan Anggaran Rp 1 Triliun untuk Peningkatan Produksi Kopi Nasional

Kementerian•3 Desember 2025
Kemen-LH Periksa Perusahaan Tambang dan Sawit Terkait Bencana Sumatera

Kemen-LH Periksa Perusahaan Tambang dan Sawit Terkait Bencana Sumatera

Kementerian•2 Desember 2025
Home
›Kementerian
›Gelondongan Kayu Terbawa di Bencana Sumatera, Momentum Perbaikan Tata Kelola Hutan
PEDULI: Menhut Raja Juli Antoni meninjau lokasi gajah di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau (29/11).
Kementerian

Gelondongan Kayu Terbawa di Bencana Sumatera, Momentum Perbaikan Tata Kelola Hutan

Editor-29 November 2025
Klik untuk perbesar

PEDULI: Menhut Raja Juli Antoni meninjau lokasi gajah di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau (29/11).

Dok. Kemenhut

Bagikan artikel ini

JAKARTA - Banjir bandang besar terjadi di tiga provinsi di Sumatera dalam waktu hampir bersamaan. Yaitu di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Banjir bandang membawa gelondongan kayu besar. Mengindikasikan adanya kerusakan hutan di daerah resapan air hujan.

Banjir bandang tersebut menjadi perhatian Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Dia menyampaikan duka mendalam atas bencana yang merenggut cukup banyak korban jiwa itu. Raja menegaskan bahwa kejadian itu harus menjadi titik balik untuk memperbaiki tata kelola hutan dan lingkungan hidup di Indonesia.

Raja menilai perhatian publik yang kini tertuju pada bencana tersebut merupakan momentum penting untuk melakukan introspeksi. Menurutnya, kejadian ini memperlihatkan adanya kesalahan mendasar dalam pengelolaan lingkungan. "Semua telinga mendengar, semua kita merasakan apa yang terjadi. Mudah-mudahan tidak melebar ke wilayah lain,” kata Raja saat kunjungan di Taman Nasional Tesso Nilo Riau (29/11).

Dia menceritakan, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya mengatakan, penebangan hutan liar yang tidak terkontrol berkontribusi besar terhadap bencana. Raja menegaskan, pemerintah segera melakukan evaluasi kebijakan terkait pengelolaan hutan.

"Karena pendulum ekonomi dan ekologi ini cenderung ke ekonomi, harus ditarik ke tengah lagi. Buktinya nyata kan untuk saudara-saudara kita. Itu fakta yang kita rasakan," sambungnya. Pengelolaan hutan tidak boleh lagi terlalu condong berlebihan ke sisi ekonomi atau komersial. Sampai kemudian melupakan sisi kelestarian lingkungan hidup.

Baca Juga

Capek di Perjalanan, Pemudik Nataru Boleh Istirahat di Masjid dan Musala

Dalam kunjungannya ke Riau selama dua hari, Raja menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berhenti pada evaluasi. Tetapi langsung mengambil langkah konkret. Salah satunya di Kuantan Singingi, ia menyerahkan Surat Keputusan (SK) Hutan Adat sebagai bentuk penguatan hak masyarakat adat.

“Masyarakat adat selama ini tersisihkan, padahal mereka adalah kelompok yang paling mampu menjaga hutan," jelasnya. Legalisasi itu memberi mereka ruang untuk berkontribusi. Raja titip pesan supaya hutan terus dijaga dan dikelola dengan baik.

Raja menegaskan, pemerintah berkomitmen memperbaiki pengelolaan hutan secara menyeluruh sebagai respons atas bencana yang terjadi. Di Taman Nasional Tesso Nilo itu, Raja meninjau proses restorasi hutan untuk memastikan habitat Gajah Sumatera Domang dan keluarganya berjalan baik dan tidak terganggu. Dia memastikan langkah-langkah penyelesaian yang dilakukan di Riau akan diterapkan juga di wilayah lain yang terdampak. (wan/oni)

Most Read

1

Kementerian Pertanian Alokasikan Anggaran Rp 1 Triliun untuk Peningkatan Produksi Kopi Nasional

Kementerian
2

Kemen-LH Periksa Perusahaan Tambang dan Sawit Terkait Bencana Sumatera

Kementerian

Berita Terbaru

Kementerian Pertanian Alokasikan Anggaran Rp 1 Triliun untuk Peningkatan Produksi Kopi Nasional

Kementerian Pertanian Alokasikan Anggaran Rp 1 Triliun untuk Peningkatan Produksi Kopi Nasional

Kementerian•3 Desember 2025
Kemen-LH Periksa Perusahaan Tambang dan Sawit Terkait Bencana Sumatera

Kemen-LH Periksa Perusahaan Tambang dan Sawit Terkait Bencana Sumatera

Kementerian•2 Desember 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001