JAKARTA – Penetrasi modernisasi di semua lini kehidupan semakin kencang. Fenomena tersebut berpotensi menghadirkan dampak negatif. Kementerian Kebudayaan berupaya menangkis pengaruh negatif penetrasi digitalisasi tersebut.
Upaya itu dilakukan lewat Jambore Pemuda Adat yang diselenggarakan di Bali. Lewat forum tersebut, Kementerian Kebudayaan menekankan pentingnya peran pemuda dalam menghadapi kencangnya arus teknologi dan modernisasi di tengah masyarakat.
Secara resmi, kegiatan Jambore Pemuda Adat ditutup oleh Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, kemarin (24/11). Dia mengatakan bahwa Kementerian Kebudayaan berupaya memperkuat pemuda dalam menjaga pelestarian budaya dan ketahanan bangsa, khususnya dalam menghadapi tantangan dan ancaman perubahan.
“Pemuda adat berperan penting dalam keberlanjutan denyut nadi kehidupan budaya bangsa,” kata Restu. Menurut dia, sejak dulu para pemuda telah banyak berkiprah dalam sejarah perjuangan dan berbagai momentum perubahan di negara ini.
Restu mengatakan bonus demografi dengan struktur piramida penduduk yang lebih banyak diisi oleh populasi pemuda menjadi anugerah untuk menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Namun di sisi lain juga menjadi tantangan dalam menghadapi perubahan zaman akibat disrupsi teknologi informasi dan komunikasi. “Perubahan (zaman) ini perlu disikapi secara strategis oleh generasi muda adat selaku pewaris nilai budaya dan tradisi,” tuturnya.
Dia menekankan bahwa pemuda adat harus mampu bertransformasi di tengah perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada identitas dan karakteristik budayanya.
Restu mengatakan bahwa melalui kegiatan Jambore Pemuda Adat, dapat berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas SDM kebudayaan. Selain membendung dampak negatif modernisasi, kegiatan ini dapat membentuk insan budaya yang kreatif, inovatif, dan produktif dalam berkarya.
Restu juga berharap ke depan terbangun sinergi antarpihak dalam pemberdayaan pemuda adat agar dapat menjalankan peran sebagai agent of continuity, agent of cultural innovation, dan digital actor. Peran tersebut diharapkan dapat terus berlangsung dalam menjaga budaya dan lanskap Geopark Gunung Batur.
Salah satu peserta jambore adalah Rangga Adi Prasrya dari perwakilan Desa Kintamani. Dia mengaku senang dengan diadakannya jambore tersebut. Selain mendapatkan teman baru, ia juga memperoleh wawasan tentang kebudayaan dan cara menghadapi perkembangan teknologi.
“Bagi kita anak muda, kegiatan seperti ini penting karena menambah wawasan dan pengetahuan tentang budaya,” jelasnya. Apalagi tantangannya makin besar di era modern digital. Ilmu yang dia dapat akan ditularkan kepada kawan-kawannya di desa. (wan/ali)



