JAKARTA - Profesi marbot masjid selama ini punya peran penting. Tugasnya mengurusi teknis masjid sehingga salat berjamaah berjalan lancar. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meminta publik tidak merendahkan profesi marbot masjid.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin di sela Temu Nasional Marbot Masjid Indonesia di Jakarta (25/11). Acara ini dihadiri lebih dari 200 marbot dari seluruh Indonesia. Dia mengaku senang karena baru sekarang Kemenag mengundang marbot untuk berdiskusi di Jakarta. "Enam tahun saya jadi Dirjen Bimas Islam, kemudian jadi Wamenag, tidak pernah ada kegiatan seperti ini," katanya.
Nasaruddin mengatakan, secara bahasa dia belum menemukan padanan kata marbot dalam bahasa Arab. Tetapi ada kata marbut dalam bahasa Arab yang artinya terikat atau menjaga. Dari situ kemungkinan istilah marbot atau penjaga masjid berkembang di tanah air.
Dia mengatakan, kelancaran pelaksanaan salat berjamaah di masjid ditentukan peran marbot. Mulai dari membersihkan tempat salat. Kemudian menyiapkan pengeras suara dan keperluan lainnya. "Jangan-jangan marbot masjid adalah orang yang paling besar pahalanya," tuturnya.
Apalagi, marbot di sejumlah masjid mempunyai peran ganda. Selain membersihkan masjid, mereka juga jadi imam. Bahkan sekaligus jadi khatib juga. Maka pahalanya bakal semakin berlipat.
Namun, dia menyayangkan masih ada yang meremehkan profesi marbot. Padahal, orang yang mewakafkan dirinya untuk merawat rumah Allah bakal dijamin tidak akan sengsara. Sekalipun misalnya hidupnya tidak kaya raya saat di dunia, tetapi di akherat kelak pahalanya berlimpah.
Nasaruddin mengatakan, doa orang yang tidak pernah putus salat berjamaah di masjid, punya peluang besar dikabulkan oleh Allah. Karena itu, dia titip doa kepada para marbot yang mengikuti kegiatan tersebut.
"Marbot itu profesi yang tidak populer di dunia. Tetapi para marbot ini adalah artis di langit sana," tuturnya. Kepada para marbot, dia berpesan supaya tetap semangat menjalankan tugasnya. Dia tidak bisa membayangkan jika ada sekelompok marbot yang mogok bekerja. Jemaah jadi tidak bisa salat berjamaah karena pintunya tergembok. "Saya ini juga marbot. Marbot di masjid Istiqlal. Saya ini ketuanya marbot (Istiqlal)," kata Nasaruddin disambut meriah para marbot. (wan/oni)



