Masalah kesehatan mental juga bisa dialami tenaga kesehatan (nakes). Bahkan, masih banyak nakes yang belum mendapatkan akses bantuan profesional. Hal itu mendorong dr Mohammad Agung Marzah SpMK bersama teman-teman sejawatnya mendirikan Jiwa Untukmu.
Retno Dyah Agustina, Surabaya
”Kamu kan dokter, kamu kan tahu obatnya, masa sih kamu bisa sakit?” Ucapan semacam itu bukan sekali dua kali saja terdengar. Bahkan, stigma itu juga turut membayangi para nakes dalam mencari pertolongan profesional. Hal itu diungkapkan dr Windy Tiandini SpKJ, salah satu relawan psikiater Jiwa Untukmu.
”Seringkali nakes itu sudah punya label, dia kuat, dia bisa segalanya,” ucap Windy. Label tersebut, maupun label-label lainnya, turut memberatkan langkah kaki para nakes mencari pertolongan. Mereka malu mengakui butuh pertolongan. Bisa juga, mereka merasa harus siaga setiap saat menjaga peran di rumah sakit atau klinik. Akibatnya, mereka mengesampingkan kebutuhan mental mereka sendiri.
”Padahal, sehat itu bukan hanya fisik. Ada kesehatan mental dan kesehatan sosial yang juga berpengaruh,” ucap Windy. Ia mengakui, cukup banyak curhatan yang masuk dari sesama nakes. Ia tak hanya menangani dokter yang sedang menjalani pendidikan spesialisasi, tetapi juga para dokter, perawat, hingga apoteker yang sedang aktif bekerja.
Pemicu yang dilaporkan beragam. Mulai dari stres psikososial, tuntutan bekerja, hingga tekanan pendidikan profesi. ”Adanya stressor baru, karena harus pindah tempat kerja, domisili, harus adaptasi juga ada,” jelasnya.
Beberapa nakes juga melaporkan perubahan, seperti melahirkan dan menikah sebagai stressor. Ada pula mereka yang berkisah tentang kesalahan pola asuh di masa lalu. ”Jadi muncul trauma dan hubungan yang tidak terselesaikan dengan baik. Akhirnya memengaruhi pikiran sekarang,” imbuhnya.
Terus Berkembang
Sejak beroperasi di tahun 2024, Jiwa Untukmu sudah menampung banyak keluhan. Ia bermula dari kegelisahan atas munculnya isu dugaan bunuh diri salah satu rekan sejawat nakes. ”Kami akhirnya menggandeng beberapa volunteer dokter spesialis jiwa untuk menginisiasi gerakan ini,” tutur inisiator Jiwa Untukmu dr. Mohammad Agung Marzah, SpMK.
Para pendiri ingin menghadirkan konsultasi psikiater gratis via daring. Bermula dari Surabaya, Jiwa Untukmu kini sudah merambah banyak wilayah. ”Relawan kami kebanyakan memang dari Jatim, tapi juga sudah ada yang dari Jawa Barat dan Kalimantan,” tutur Agung.
Tak hanya melakukan pendampingan, Jiwa Untukmu juga menggelar kampanye dan webinar daring. Harapannya, momen tersebut membuka komunikasi dengan para penyintas yang membutuhkan. Sejawat yang membutuhkan juga tak lagi malu-malu menghubungi call center Jiwa Untukmu. ”Sekarang volunteer kami juga sudah mencapai 18 orang. Ada yang dari penyintas juga,” jelasnya.
Di Penghujung Kesadaran
Agung tak hanya berperan sebagai inisator. Ia bahkan masih menjadi garda terdepan gatekeeper. Nomornya tercantum sebagai call center di laman resmi Jiwa Untukmu. Meski bukan lulusan dokter spesialis kejiwaan, ia juga harus menguasai pertolongan pertama pada masa kritis.
”Kami pernah menerima pesan dari rekan sejawat yang sudah urgent ingin mengakhiri hidup,” katanya. Untungnya, pesan itu segera terbaca oleh Agung. Ia langsung menemani dan berupaya menenangkan si pengirim pesan. Pengalihan perhatian dan perbincangan yang lembut menjadi salah satu upaya menjaga si pengirim pesan tak melakukan hal buruk. ”Selanjutnya kami mendorong agar rekan sejawat mau berkonsultasi ke psikiater, atau malah datang ke IGD,” jelasnya. (*/jun)



