Loading...
Minggu Kliwon, 22 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
OpiniGuru MenulisCAKJEPEJurnal Mahasiswa
Home
›Opini

Konflik Elite NU, Momen Introspeksi

Editor-Opini
27 November 2025
Konflik Elite NU, Momen Introspeksi
Klik untuk perbesar
DEDHIE RIHADI/AI/JAWA POS

(Jati Diri)

INTERNAL Nahdlatul Ulama (NU) mendadak heboh. Rapat harian syuriah memutuskan untuk memberikan deadline tiga hari kepada Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf supaya mundur.

Namun, Gus Yahya, sapaan Yahya Cholil Staquf, menolak mundur. Dia justru melakukan perlawanan. Para ketua PWNU se-Indonesia dikumpulkan. Dia juga mengundang para alim ulama untuk datang ke Kantor PBNU. Forum islah dikabarkan akan dilakukan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Sampai di situ, kemelut dikabarkan mulai reda.

Tetapi, saat tenggat tiga hari berakhir, jajaran Syuriah mengeluarkan surat pemberhentian Gus Yahya. Dalam surat bertanggal 25 November itu, Gus Yahya diberhentikan sejak 26 November. Konflik pun memanas lagi.

Gonjang-ganjing menjelang muktamar memang sering terjadi di elite NU. Namun, sebenarnya kehebohan itu hanya ada di tataran struktural. Warga NU atau nahdliyin di arus bawah tetap berjalan dengan ritual masing-masing. Yasinan, kenduri, ziarah kubur, ziarah wali, dan forum-forum pengajian tetap berjalan seperti biasa. Ritual kultural itu tak akan terpengaruh oleh ontran-ontran perebutan kekuasaan di lingkaran elite.

Siapa pun ketua umumnya, siapa pun rais aam-nya, tak akan banyak berpengaruh pada akar rumput. Jamaah nahdliyin biasanya lebih taat pada ulama kampung, kiai di desa, serta tokoh-tokoh lokal. Mengapa demikian? Bisa jadi karena program-program di tataran elite kurang menyentuh nahdliyin di bawah secara merata.

Baca Juga

Memuliakan Guru, Memajukan Bangsa

Perseteruan di tingkat elite sebaiknya dimanfaatkan untuk introspeksi. Apakah benar program-program kerakyatan di tingkat pusat sudah sampai ke bawah?

Nahdliyin percaya bahwa al-ulama waratsatul anbya'. Ulama adalah penerus para nabi. Karena itu, para elite harus menjadi teladan bagi nahdliyin di akar rumput.

Tunjukkan akhlak yang bisa menjadi panutan sebagaimana akhlak para nabi. Jangan tunjukkan drama perebutan kekuasaan yang cenderung dikuasai nafsu duniawi. (oni)

Bagikan artikel ini

Most Read

1

Banjir Kecaman Karena Komentar Banjir Sumatera

CAKJEPE
2

Banjir Sumatera Bukan Bencana Nasional

CAKJEPE

Berita Terbaru

Banjir Kecaman Karena Komentar Banjir Sumatera

Banjir Kecaman Karena Komentar Banjir Sumatera

CAKJEPE•2 Desember 2025
Banjir Sumatera Bukan Bencana Nasional

Banjir Sumatera Bukan Bencana Nasional

CAKJEPE•1 Desember 2025
Home
›Opini
›Konflik Elite NU, Momen Introspeksi
Konflik Elite NU, Momen Introspeksi
Opini

Konflik Elite NU, Momen Introspeksi

Editor-27 November 2025
Klik untuk perbesar

DEDHIE RIHADI/AI/JAWA POS

Bagikan artikel ini

(Jati Diri)

INTERNAL Nahdlatul Ulama (NU) mendadak heboh. Rapat harian syuriah memutuskan untuk memberikan deadline tiga hari kepada Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf supaya mundur.

Namun, Gus Yahya, sapaan Yahya Cholil Staquf, menolak mundur. Dia justru melakukan perlawanan. Para ketua PWNU se-Indonesia dikumpulkan. Dia juga mengundang para alim ulama untuk datang ke Kantor PBNU. Forum islah dikabarkan akan dilakukan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Sampai di situ, kemelut dikabarkan mulai reda.

Tetapi, saat tenggat tiga hari berakhir, jajaran Syuriah mengeluarkan surat pemberhentian Gus Yahya. Dalam surat bertanggal 25 November itu, Gus Yahya diberhentikan sejak 26 November. Konflik pun memanas lagi.

Gonjang-ganjing menjelang muktamar memang sering terjadi di elite NU. Namun, sebenarnya kehebohan itu hanya ada di tataran struktural. Warga NU atau nahdliyin di arus bawah tetap berjalan dengan ritual masing-masing. Yasinan, kenduri, ziarah kubur, ziarah wali, dan forum-forum pengajian tetap berjalan seperti biasa. Ritual kultural itu tak akan terpengaruh oleh ontran-ontran perebutan kekuasaan di lingkaran elite.

Siapa pun ketua umumnya, siapa pun rais aam-nya, tak akan banyak berpengaruh pada akar rumput. Jamaah nahdliyin biasanya lebih taat pada ulama kampung, kiai di desa, serta tokoh-tokoh lokal. Mengapa demikian? Bisa jadi karena program-program di tataran elite kurang menyentuh nahdliyin di bawah secara merata.

Baca Juga

Memuliakan Guru, Memajukan Bangsa

Perseteruan di tingkat elite sebaiknya dimanfaatkan untuk introspeksi. Apakah benar program-program kerakyatan di tingkat pusat sudah sampai ke bawah?

Nahdliyin percaya bahwa al-ulama waratsatul anbya'. Ulama adalah penerus para nabi. Karena itu, para elite harus menjadi teladan bagi nahdliyin di akar rumput.

Tunjukkan akhlak yang bisa menjadi panutan sebagaimana akhlak para nabi. Jangan tunjukkan drama perebutan kekuasaan yang cenderung dikuasai nafsu duniawi. (oni)

Most Read

1

Banjir Kecaman Karena Komentar Banjir Sumatera

CAKJEPE
2

Banjir Sumatera Bukan Bencana Nasional

CAKJEPE

Berita Terbaru

Banjir Kecaman Karena Komentar Banjir Sumatera

Banjir Kecaman Karena Komentar Banjir Sumatera

CAKJEPE•2 Desember 2025
Banjir Sumatera Bukan Bencana Nasional

Banjir Sumatera Bukan Bencana Nasional

CAKJEPE•1 Desember 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001