JAKARTA — Banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera tak hanya menimbulkan kerusakan besar, tetapi juga menguji kemampuan lembaga-lembaga zakat untuk bergerak secara terpadu. Di tengah banyaknya tim relawan yang turun sejak hari pertama bencana, Forum Zakat (FOZ) menilai bahwa penyatuan arah kerja menjadi kebutuhan mendesak. Tujuannya agar bantuan bisa menjangkau wilayah-wilayah yang masih terisolasi.
Dalam OPZ (Organsasi Pengelola Zakat) Forum 2025 & Road to Zakat Impact Summit 2026 di Jakarta, Ketua Umum FOZ Wildhan Dewayana menjelaskan, tiap lembaga zakat sebenarnya telah memiliki tim tanggap darurat yang bergerak cepat. Namun, koordinasi tetap harus diperkuat.
“Sambil bergerak, kita menguatkan dua hal. Pertama, komunikasi dan harmonisasi aktivitas. Dari situ kita memiliki data siapa melakukan apa, di mana, dan hasilnya seperti apa,” ujar Wildhan.
Seiring masuknya laporan lapangan, FOZ mulai menyusun langkah kolaboratif agar distribusi bantuan tidak tumpang tindih. “Dengan seiring dengan masuknya data dan pemetaan yang lebih lengkap gitu ya, itu terus kita lakukan,” lanjutnya. FOZ juga turut berkoordinasi dengan Kementerian Agama, Kemenko PMK, BNPB, dan lembaga lain.
Pertemuan yang dihadiri 130 pimpinan OPZ itu sekaligus menjadi momen konsolidasi komitmen bantuan tahap pertama. Wildhan menyebut komitmen tersebut sebagai simbol persatuan gerakan zakat. “Ini adalah bukti persaudaraan, ketika satu bagian tubuh bangsa ini sakit, Gerakan Zakat adalah tangan yang pertama kali mengusap dan mengobati,” tuturnya.
Sementara itu, pemerintah menyoroti tantangan akses menuju lokasi-lokasi terdampak. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Prof Dr Waryono Abdul Ghafur mengungkapkan, sebagian LAZ sudah membuka dapur umum bahkan sebelum koordinasi penuh terbentuk.
“Meskipun belum kolab, LAZ sudah terjun langsung ke sana, membuka dapur umum dan memastikan titik-titik lokasi untuk posko,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pemetaan jangkauan posko agar bantuan tidak terhambat medan yang sulit. “Kemarin di (pertemuan, Red) zoom saya juga bilang, kalau ada posko di sini, berapa jangkauan akses posko itu, perlu dibuka di tempat lain,” jelasnya.
Salah satu titik yang paling terdampak adalah Aceh Tamiang, yang hingga kini masih sulit dijangkau. “Aksesnya betul-betul susah. Rupanya yang jauh dari pinggir jalan yang bermasalah,” kata Prof Waryono. (nad/oni)



