’’Guru mengajarkan bukan hanya matematika, melainkan kejujuran saat ujian. Bukan hanya sejarah, melainkan empati pada penderitaan masa lalu...’’
SETIAP 25 November, kita menyisihkan waktu dari hiruk-pikuk masalah ekonomi dan politik untuk menghormati profesi yang kerap disebut paling mulia, tetapi sering pula terabaikan: guru. Media sosial dipenuhi ucapan terima kasih. Lagu Hymne Guru bergema di upacara sekolah.
Namun, di balik seremoni itu, ada pertanyaan mendasar yang menggelitik: Siapakah yang layak disebut ’’guru’’ di era sekarang?
Apakah guru hanya mereka yang berdiri di depan kelas, memindahkan isi buku ke papan tulis? Atau sekadar status administratif yang penuh tuntutan pada pemerintah?
Saya rasa tidak. Secara filosofis, guru bukan sekadar pengajar, melainkan panggilan peradaban. Dalam bahasa Sanskerta, guru berarti penghancur kegelapan –bukan hanya ketidaktahuan fakta seperti satu tambah satu sama dengan dua, melainkan kegelapan yang lebih dalam: kebodohan sistemik, ketidakmampuan bernalar, dan kegagalan membedakan benar-salah, adil-zalim. Guru adalah penerang jiwa.
Dalam sistem pendidikan, guru di jenjang SD hingga dosen di perguruan tinggi memiliki mandat yang sama: memanusiakan manusia. Guru SD membangun fondasi dasar seperti membaca dan berhitung. Sementara dosen mengasah pikiran kritis, logika, dan etika. Keduanya adalah arsitek peradaban, bukan sekadar penyampai informasi.
Sayang, banyak yang terjebak dalam persepsi sempit bahwa guru hanya mendidik dari tidak tahu menjadi tahu. Padahal, peran mereka jauh lebih luas.
Baca Juga
Memuliakan Guru, Memajukan Bangsa
Era AI
Di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tantangan baru muncul. Jika guru hanya dianggap penyampai pengetahuan, profesi itu terancam punah. AI seperti mesin pencari atau ChatGPT mampu memberikan informasi lebih cepat dan akurat.
Lantas, apa yang membuat guru tetap relevan? Jawabannya adalah humanitas. Mesin tak bisa menggantikan hubungan emosional, kedekatan personal, atau pembentukan nilai dan karakter. Guru tidak hanya menunjukkan arah, tetapi berjalan bersama murid dalam proses kehidupan.
Ketika seorang guru mengusap kepala murid yang menangis atau mendengar curhat remaja yang mencari jati diri, di situlah pendidikan sejati terjadi. Ini adalah momen kemanusiaan yang tak bisa digantikan teknologi.
Guru juga bertugas mencerdaskan bangsa. Kecerdasan bukan sekadar nilai tinggi atau IQ, melainkan kemampuan memecahkan masalah dengan bijaksana. Guru mengajarkan cara berpikir kritis, memilah hoaks dari fakta, serta melihat dunia dengan perspektif yang seimbang. Mereka menuntun murid menuju kebenaran dengan cara yang benar.
Dalam konteks ini, guru adalah penjaga moralitas. Di tengah politik yang kacau, korupsi yang merajalela, ekonomi yang goyah, dan hukum yang tumpul, ruang kelas harus tetap menjadi oase kewarasan. Guru adalah pembentuk logika yang sehat.
Namun, peran guru tidak selalu mudah. Seorang guru yang salah mengajar sejarah bisa melahirkan generasi pendendam. Guru yang abai menanamkan toleransi berisiko menciptakan radikalisme. Sebaliknya, guru yang menanamkan kebajikan dan integritas akan melahirkan pemimpin besar.
Baca Juga
Konflik Elite NU, Momen Introspeksi
Guru bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah –meski kesejahteraan mereka harus diperjuangkan negara. Guru adalah postur batin, rela diinjak agar anak didiknya melangkah ke masa depan yang lebih baik.
Penghormatan
Pada Hari Guru Nasional ini, kita harus sadar bahwa peradaban bangsa tidak ditentukan oleh gedung pencakar langit atau kekuatan politik, melainkan oleh kualitas dan penghormatan terhadap guru. Mereka bukan hanya pengajar kurikulum, melainkan pembentuk peradaban dan pejuang humanitas.
Ilmu bisa usang, tetapi karakter, nilai kemanusiaan, dan keteladanan yang ditanamkan guru akan abadi. Guru mengajarkan bukan hanya matematika, melainkan kejujuran saat ujian. Bukan hanya sejarah, melainkan empati pada penderitaan masa lalu. Bukan hanya agama, melainkan toleransi pada sesama.
Semoga guru di segala jenjang terus menjadi cahaya bagi bangsa, menuntun generasi muda menjadi pemimpin dan arsitek Indonesia Emas. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Sudah saatnya slogan itu ditinggalkan.
Saatnya kita menempatkan guru sebagai pusat pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang profesional. Mereka sejahtera bukan karena lelah berdemo dan menuntut hak, melainkan karena pemerintah menghargai dan menghormati peran mereka dengan tindakan nyata, bukan sekadar seremoni atau perkataan kosong dari mulut pejabat. Selamat Hari Guru Nasional. (*)




