Selalu Ada Yang Baru!
Bang Pram menolak keras Lurah Tohar bin Kohar dijadikan pahlawan Bintang Kembar. ”Pram itu tidak tahu daripada terima kasih,” kata Pak Anwar yang setahun lalu didapuk jadi lurah Bintang Kembar. ”Dia lupa siapa yang telah membangun jembatan besar di kampung kita,” tambah Lurah Anwar sambil menunjuk jembatan beton yang retak dan pernah satu kali ambrol itu. Bang Pram duduk gelisah di teras rumah batanya. Ia heran kenapa Lurah Tohar bisa digadang-gadang jadi pahlawan lokal. Dibuatkan pula patungnya di dekat simpang jalan kecamatan Beranda Kabut. Patung yang tangan kanannya mengepal meninju langit dan tangan kirinya menggenggam seikat padi. ”Aneh ...” Bang Pram berkata kesal. ”Benar-benar tak masuk akal!” Dulu, beberapa puluh tahun lalu, ketika Lurah Tohar masih hidup, Bintang Kembar selalu dirundung ketakutan. Orang-orang takut karena setiap malam pasti ada saja yang diciduk: kadang tukang parkir, kadang juga guru ngaji yang dianggap salah ceramah. Tak seorang warga pun tahu siapa yang telah menciduk mereka, sebab hanya suara truk dan langkah sepatu yang bisa ditangkap telinga warga. Saat ada beberapa warga yang memberanikan diri bertanya, Lurah Tohar akan selalu berkata, ”Saya ndak tahu daripada peristiwa semacam itu.” Namun, beberapa tahun kemudian, Bang Pram tahu persis apa arti kalimat Lurah Tohar itu karena...