Loading...
Sabtu Wage, 21 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Finansial
Home
›Finansial

BI Tahan Suku Bunga, Fokus Jaga Rupiah

Editor-Finansial
21 November 2025
BI Tahan Suku Bunga, Fokus Jaga Rupiah
Klik untuk perbesar
Herlambang/Jawa Pos

Perkuat Local Currency Transaction dengan Tiongkok-Jepang

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen. Langkah itu menjadi sinyal kuat bahwa otoritas moneter masih mengutamakan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan jangka pendek dalam menstabilkan rupiah dan menarik aliran portofolio asing, dengan tetap menjaga efektivitas transmisi pelonggaran moneter yang sudah ditempuh,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta Kamis (20/11).

BI menyatakan ruang penurunan suku bunga tetap terbuka. Hal itu seiring proyeksi inflasi 2025–2026 yang berada dalam kisaran 2,5±1 persen. Namun, penyesuaian akan dilakukan secara hati-hati agar tetap menopang pertumbuhan ekonomi.

Intervensi Ganda

Untuk menjaga rupiah, BI terus melakukan intervensi ganda lewat transaksi NDF di pasar luar negeri serta spot dan DNDF di dalam negeri. Instrumen SRBI dan pembelian SBN di pasar sekunder juga dioptimalkan guna menjaga likuiditas pasar uang. “Pendalaman pasar valas turut diperkuat dengan memperluas instrumen transaksi dalam yuan Tiongkok dan yen Jepang sebagai bagian dari pengembangan local currency transaction (LCT),” katanya.

Instrumen Valas Baru

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, pihaknya menyiapkan perluasan instrumen operasi moneter dalam yuan dan yen, baik untuk transaksi spot maupun swap. Langkah itu bertujuan memperdalam pasar valas domestik dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Baca Juga

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

“Intervensi di pasar off-shore dan triple intervention belum cukup. Penguatan struktural pasar valas domestik menjadi kunci,” ujar Destry .

Transaksi LCT terus menunjukkan perkembangan pesat. Dengan Tiongkok saja, nilainya kini mencapai sekitar USD 1 miliar per bulan, namun pasokan yuan di pasar domestik masih terbatas. Perluasan instrumen ini diharapkan mempermudah pelaku pasar bertransaksi langsung dalam yuan—tanpa harus membeli USD terlebih dahulu.

Mata Uang Garuda Tertekan

Destry mengingatkan kondisi global masih rentan. Indeks dolar AS (DXY) yang terus menguat dan tingginya imbal hasil US Treasury menekan aliran modal ke emerging market. Rupiah pun ikut terdampak.

Sejak awal Oktober, rupiah melemah 0,48 persen, sejalan dengan mata uang regional lain seperti peso Filipina (-1,34 persen), won Korea Selatan (-4,25 persen), dan baht Thailand (-0,21 persen). (mim/dio)

Bagikan artikel ini

Most Read

1

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial
2

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial

Berita Terbaru

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial•25 November 2025
IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial•24 November 2025
Home
›Finansial
›BI Tahan Suku Bunga, Fokus Jaga Rupiah
BI Tahan Suku Bunga, Fokus Jaga Rupiah
Finansial

BI Tahan Suku Bunga, Fokus Jaga Rupiah

Editor-21 November 2025
Klik untuk perbesar

Herlambang/Jawa Pos

Bagikan artikel ini

Perkuat Local Currency Transaction dengan Tiongkok-Jepang

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen. Langkah itu menjadi sinyal kuat bahwa otoritas moneter masih mengutamakan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan jangka pendek dalam menstabilkan rupiah dan menarik aliran portofolio asing, dengan tetap menjaga efektivitas transmisi pelonggaran moneter yang sudah ditempuh,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta Kamis (20/11).

BI menyatakan ruang penurunan suku bunga tetap terbuka. Hal itu seiring proyeksi inflasi 2025–2026 yang berada dalam kisaran 2,5±1 persen. Namun, penyesuaian akan dilakukan secara hati-hati agar tetap menopang pertumbuhan ekonomi.

Intervensi Ganda

Untuk menjaga rupiah, BI terus melakukan intervensi ganda lewat transaksi NDF di pasar luar negeri serta spot dan DNDF di dalam negeri. Instrumen SRBI dan pembelian SBN di pasar sekunder juga dioptimalkan guna menjaga likuiditas pasar uang. “Pendalaman pasar valas turut diperkuat dengan memperluas instrumen transaksi dalam yuan Tiongkok dan yen Jepang sebagai bagian dari pengembangan local currency transaction (LCT),” katanya.

Instrumen Valas Baru

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, pihaknya menyiapkan perluasan instrumen operasi moneter dalam yuan dan yen, baik untuk transaksi spot maupun swap. Langkah itu bertujuan memperdalam pasar valas domestik dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Baca Juga

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

“Intervensi di pasar off-shore dan triple intervention belum cukup. Penguatan struktural pasar valas domestik menjadi kunci,” ujar Destry .

Transaksi LCT terus menunjukkan perkembangan pesat. Dengan Tiongkok saja, nilainya kini mencapai sekitar USD 1 miliar per bulan, namun pasokan yuan di pasar domestik masih terbatas. Perluasan instrumen ini diharapkan mempermudah pelaku pasar bertransaksi langsung dalam yuan—tanpa harus membeli USD terlebih dahulu.

Mata Uang Garuda Tertekan

Destry mengingatkan kondisi global masih rentan. Indeks dolar AS (DXY) yang terus menguat dan tingginya imbal hasil US Treasury menekan aliran modal ke emerging market. Rupiah pun ikut terdampak.

Sejak awal Oktober, rupiah melemah 0,48 persen, sejalan dengan mata uang regional lain seperti peso Filipina (-1,34 persen), won Korea Selatan (-4,25 persen), dan baht Thailand (-0,21 persen). (mim/dio)

Most Read

1

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial
2

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial

Berita Terbaru

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial•25 November 2025
IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial•24 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001