’’Guru yang merasa dihargai orang tua murid cenderung menunjukkan performa pengajaran lebih baik dan lebih sabar menghadapi perbedaan karakter murid.’’
SETIAP 25 November, kita merayakan Hari Guru. Perayaan itu sesungguhnya bukan hanya tentang guru, melainkan hubungan mendalam antara guru, orang tua, dan masa depan generasi kita. Di ruang kelas, guru membangun fondasi. Di rumah, orang tua menumbuhkan fondasi itu agar tidak retak.
Sayang, dalam beberapa tahun terakhir, hubungan itu sering tampak renggang. Guru digugat karena nilai rapor yang dianggap tidak memuaskan. Orang tua dipersalahkan karena anak tidak disiplin. Sekolah dan rumah berjalan seakan dua dunia yang tidak pernah saling menyapa. Padahal, tanpa sinergi keduanya, pendidikan mudah limbung seperti perahu yang hanya dikayuh dari satu sisi.
Di era teknologi, kesenjangan itu terasa semakin mencolok. Guru dituntut menyesuaikan diri dengan kurikulum baru dan kecerdasan buatan, sementara orang tua bergulat dengan kesibukan kerja dan tekanan ekonomi. Di antara semua itu, anak-anak berada di titik tengah, berusaha memahami dunia yang berubah lebih cepat daripada kemampuan mereka bertanya.
Kerja Kolektif
Dalam perjalanan panjang sebagai pendidik, saya sering bertemu kisah yang mengingatkan bahwa pendidikan adalah kerja kolektif. Beberapa waktu lalu, di sebuah sekolah dasar, saya bertemu dengan seorang guru kelas satu yang bercerita tentang seorang murid yang selalu datang terlambat dan tampak lesu di kelas. Ketika sang guru mencoba bertanya dengan halus, anak itu hanya menunduk. Tanda-tanda itu sering dianggap sepele. Namun, guru yang peka tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Baca Juga
Memuliakan Guru, Memajukan Bangsa
Guru itu kemudian mengunjungi rumah si murid. Di sana dia menemukan bahwa orang tua anak bekerja hingga larut malam sebagai petugas kebersihan sehingga anak itu tidur sendirian dan bangun tanpa pendampingan. Rumah sederhana tersebut menyimpan kelelahan yang tidak tercatat di rapor sekolah.
Sejak kunjungan itu, guru dan orang tua menyepakati rutinitas sederhana –mengatur jam tidur, menyiapkan bekal ringan di meja makan, dan memberikan sedikit waktu untuk berbicara saat malam. Tidak ada seminar parenting, tidak ada aplikasi digital, tidak ada modul rumit. Yang ada hanyalah kolaborasi dua pihak yang saling percaya.
Hasilnya mengejutkan. Anak yang dulu lesu kini aktif menjawab pertanyaan, tertawa bersama teman, dan menunjukkan grafik kemajuan yang jauh melampaui yang pernah dibayangkan sekolah. Di situ saya belajar lagi bahwa guru menyalakan cahaya, tetapi orang tualah yang menjaga agar cahaya itu tidak padam saat anak kembali ke rumah.
Hubungan Harmonis
Dari sudut pandang penelitian, hubungan harmonis antara guru dan orang tua bukan hanya romantisasi. Sejumlah studi terbaru menunjukkan, keterlibatan orang tua dalam pendidikan, meski sederhana, berpengaruh signifikan pada motivasi belajar, perkembangan emosi, serta resiliensi anak. Sementara penelitian lain menegaskan, guru yang merasa dihargai oleh orang tua cenderung menunjukkan performa pengajaran lebih baik dan lebih sabar menghadapi perbedaan karakter murid.
Namun, kita juga perlu jujur: hubungan sekolah-rumah sering penuh miskomunikasi. Ada orang tua yang menganggap sekolah bertanggung jawab penuh atas kualitas anak. Sebaliknya, ada guru yang berharap orang tua mengurus semua masalah perilaku sebelum sampai ke sekolah. Perubahan zaman menuntut keduanya beranjak dari cara pikir lama. Pendidikan hari ini tidak lagi bisa disandarkan hanya pada satu pihak.
Baca Juga
Konflik Elite NU, Momen Introspeksi
Guru membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan tanpa curiga. Orang tua membutuhkan guru yang mau menjelaskan tanpa menggurui. Anak-anak membutuhkan keduanya hadir dengan hati yang lapang.
Hari Guru seharusnya menjadi pengingat bahwa apresiasi kepada guru tidak hanya berupa ucapan terima kasih, tetapi juga komitmen untuk membangun kemitraan yang sehat antara sekolah dan rumah. Guru memiliki tugas berat mengelola kelas yang penuh dinamika, memantau perkembangan anak satu per satu, menyiapkan materi, dan menjalankan tuntutan administrasi yang tak kunjung selesai. Orang tua pun menghadapi tekanan hidup yang tidak ringan. Ketika keduanya duduk bersama, bukan saling menghakimi, tetapi saling memahami, di situlah pendidikan menemukan kesempatan terbaik untuk berhasil.
Kita sering membayangkan pendidikan ideal sebagai ruang kelas yang lengkap dengan teknologi canggih, kurikulum modern, dan lingkungan yang tertata. Namun, realitasnya lebih sederhana: pendidikan bertumbuh dari hubungan yang sehat antara guru dan orang tua. Sebuah hubungan yang dibangun dengan dialog, bukan tuntutan; dengan empati, bukan kecurigaan; dengan kebersamaan, bukan kompetisi.
Pada akhirnya, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru di kelas atau dari apa yang diperintahkan orang tua di rumah. Mereka belajar dari bagaimana kedua sosok itu memperlakukan satu sama lain. Jika guru dan orang tua berdiri dalam satu irama, anak-anak akan melangkah dengan lebih percaya diri. Jika keduanya berselisih, anak-anak akan merasa tercerai di tengah pertarungan yang tidak mereka pahami.
Baca Juga
Buang Egosentrisme dari Venue Konser
Hari Guru bukan hanya perayaan profesi guru, melainkan perayaan ekosistem pendidikan yang mestinya berjalan selaras antara rumah dan sekolah. Di tangan guru, api pendidikan dinyalakan. Di tangan orang tua, api itu dijaga agar tetap hidup. Dan di tangan keduanya, anak-anak menemukan jalan menuju masa depan yang lebih terang. (*)



