Loading...
Kamis Pahing, 19 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
Finansial
Home
›Finansial

Utang Luar Negeri Pemerintah Melambat

Editor-Finansial
18 November 2025
Utang Luar Negeri Pemerintah Melambat
Klik untuk perbesar
Koko Heru/Jawa Pos

Dampak Pembelian SBN oleh Asing Turun

JAKARTA – Utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali turun. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi ULN pada kuartal III 2025 mencapai USD 424,4 miliar. Angka itu lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang sebesar USD 432,3 miliar. Secara tahunan, ULN juga terkoreksi 0,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (YoY).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, perlambatan itu dipicu dua faktor yakni, melemahnya ULN sektor publik serta kontraksi lebih dalam pada ULN swasta. ULN pemerintah tercatat USD 210,1 miliar, tumbuh 2,9 persen YoY, jauh melambat dari 10 persen pada kuartal sebelumnya.

“Kontraksi aliran modal asing pada surat berharga negara (SBN) domestik membuat pertumbuhan ULN pemerintah tertahan di tengah ketidakpastian pasar keuangan global,” papar Denny di Jakarta Senin (17/11).

Meskipun demikian, BI menegaskan pengelolaan ULN pemerintah tetap dilakukan secara cermat, terukur, dan akuntabel. Utang tersebut diarahkan untuk mendukung program prioritas, mulai jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,1 persen), administrasi pemerintah dan pertahanan (20,7 persen), pendidikan (17 persen), konstruksi (10,7 persen), transportasi (8,2 persen), hingga jasa keuangan dan asuransi (7,5 persen). “Hampir seluruhnya merupakan utang jangka panjang (99,9 persen),” imbuhnya.

Dari sisi swasta, ULN juga turun menjadi USD 191,3 miliar , dari USD 193,9 miliar pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, ULN swasta terkontraksi 1,9 persen YoY, lebih dalam dari 0,2 persen pada kuartal II. Penurunan terutama terjadi pada lembaga keuangan (-3 persen YoY) dan perusahaan nonkeuangan (-1,7% YoY).

Baca Juga

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Secara keseluruhan, BI menilai struktur ULN Indonesia masih sehat. Rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen, dari 30,4 persen pada kuartal II. “Utang jangka panjang masih mendominasi (86,1%**), sehingga risiko jangka pendek relatif rendah,” katanya. (mim/dio)

Bagikan artikel ini

Most Read

1

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial
2

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial

Berita Terbaru

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial•25 November 2025
IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial•24 November 2025
Home
›Finansial
›Utang Luar Negeri Pemerintah Melambat
Utang Luar Negeri Pemerintah Melambat
Finansial

Utang Luar Negeri Pemerintah Melambat

Editor-18 November 2025
Klik untuk perbesar

Koko Heru/Jawa Pos

Bagikan artikel ini

Dampak Pembelian SBN oleh Asing Turun

JAKARTA – Utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali turun. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi ULN pada kuartal III 2025 mencapai USD 424,4 miliar. Angka itu lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang sebesar USD 432,3 miliar. Secara tahunan, ULN juga terkoreksi 0,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (YoY).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, perlambatan itu dipicu dua faktor yakni, melemahnya ULN sektor publik serta kontraksi lebih dalam pada ULN swasta. ULN pemerintah tercatat USD 210,1 miliar, tumbuh 2,9 persen YoY, jauh melambat dari 10 persen pada kuartal sebelumnya.

“Kontraksi aliran modal asing pada surat berharga negara (SBN) domestik membuat pertumbuhan ULN pemerintah tertahan di tengah ketidakpastian pasar keuangan global,” papar Denny di Jakarta Senin (17/11).

Meskipun demikian, BI menegaskan pengelolaan ULN pemerintah tetap dilakukan secara cermat, terukur, dan akuntabel. Utang tersebut diarahkan untuk mendukung program prioritas, mulai jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,1 persen), administrasi pemerintah dan pertahanan (20,7 persen), pendidikan (17 persen), konstruksi (10,7 persen), transportasi (8,2 persen), hingga jasa keuangan dan asuransi (7,5 persen). “Hampir seluruhnya merupakan utang jangka panjang (99,9 persen),” imbuhnya.

Dari sisi swasta, ULN juga turun menjadi USD 191,3 miliar , dari USD 193,9 miliar pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, ULN swasta terkontraksi 1,9 persen YoY, lebih dalam dari 0,2 persen pada kuartal II. Penurunan terutama terjadi pada lembaga keuangan (-3 persen YoY) dan perusahaan nonkeuangan (-1,7% YoY).

Baca Juga

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Secara keseluruhan, BI menilai struktur ULN Indonesia masih sehat. Rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen, dari 30,4 persen pada kuartal II. “Utang jangka panjang masih mendominasi (86,1%**), sehingga risiko jangka pendek relatif rendah,” katanya. (mim/dio)

Most Read

1

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial
2

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial

Berita Terbaru

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

BI Salurkan Insentif Rp 36,38 T untuk Pembiayaan Hijau

Finansial•25 November 2025
IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

IHSG Dipengaruhi Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Finansial•24 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001