Loading...
Minggu Kliwon, 22 Februari 2026
Jawa Pos

Selalu Ada Yang Baru!

Loading...
Home
WeekendMagzHalteCerpenSudut PengarangSajakBukuLensaFokus
Monumen Aib

Monumen Aib

Cerpen•22 November 2025

Update

”Mata” yang Melihat Tidak Selalu Sama  dengan ”Suara” yang Berbicara

”Mata” yang Melihat Tidak Selalu Sama dengan ”Suara” yang Berbicara

Buku•15 November 2025
Setelah Pidato Usai

Setelah Pidato Usai

Halte•15 November 2025
Membatalkan Gelar

Membatalkan Gelar

Halte•15 November 2025
Berenang di Kandang Sapi

Berenang di Kandang Sapi

Cerpen•15 November 2025
Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Sudut Pengarang•15 November 2025

Most Read

1

Monumen Aib

Cerpen
2

Cara Kerja Kritik Sastra

Sudut Pengarang
3

Persoalan Lama dan Solusi Baru Dunia Pendidikan Indonesia

Buku
4

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte
5

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Halte

Berita Lain

Pengalaman Sopir Truk Melihat Sosok Misterius di Kalimantan

Pengalaman Sopir Truk Melihat Sosok Misterius di Kalimantan

Urban Mystery•15 November 2025
Konsep Manajer dan Story Telling Dispatch Direspons Positif

Konsep Manajer dan Story Telling Dispatch Direspons Positif

Gaming•14 November 2025
Menyelami Karya Seni Keramik dan Patung di Main Bentuk, Main Warna, Medium Sama

Menyelami Karya Seni Keramik dan Patung di Main Bentuk, Main Warna, Medium Sama

Pameran•14 November 2025
Di Bengkel Motor

Di Bengkel Motor

Sajak•9 November 2025

Pada Kapal SS Van Imhoff, Sebuah Montase

Cerpen-9 November 2025

Yohan Fikri Bicara tentang Puisi, Anjing, dan Manusia yang Terbuang

Sudut Pengarang-9 November 2025

Korpus Uterus: Perkara Dosa Jadi Ambigu di Tangan Manusia

Buku-9 November 2025

Primbon Politik

Halte-9 November 2025

Sejarah Filsafat dan Status Quo

Halte-9 November 2025

RRQ Melesat, Evos Terpuruk ke Peringkat 13 di Babak Grup FFWS Global Finals 2025

Gaming-7 November 2025

Popaganda Menajamkan Pesan lewat Energi Pop Warna-Warni

Pameran-7 November 2025

Siapa Bilang Bikin Konten Butuh Studio? Sekarang Cukup Pakai OPPO Find X9 Series dengan Kamera Hasselblad 200MP dan Baterai Jumbo 7.500mAh!

Pameran-6 November 2025

Most Read

1

Monumen Aib

Cerpen
2

Cara Kerja Kritik Sastra

Sudut Pengarang
3

Persoalan Lama dan Solusi Baru Dunia Pendidikan Indonesia

Buku
4

Dalam Semesta Sastra: Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2025

Halte
5

Kopi Pangku: Dedominasi Maskulinitas dan Kepahlawanan Ibu

Halte
Monumen Aib
Ilustrasi Budiono/Jawa Pos
Cerpen

Monumen Aib

Bang Pram menolak keras Lurah Tohar bin Kohar dijadikan pahlawan Bintang Kembar. ”Pram itu tidak tahu daripada terima kasih,” kata Pak Anwar yang setahun lalu didapuk jadi lurah Bintang Kembar. ”Dia lupa siapa yang telah membangun jembatan besar di kampung kita,” tambah Lurah Anwar sambil menunjuk jembatan beton yang retak dan pernah satu kali ambrol itu. Bang Pram duduk gelisah di teras rumah batanya. Ia heran kenapa Lurah Tohar bisa digadang-gadang jadi pahlawan lokal. Dibuatkan pula patungnya di dekat simpang jalan kecamatan Beranda Kabut. Patung yang tangan kanannya mengepal meninju langit dan tangan kirinya menggenggam seikat padi. ”Aneh ...” Bang Pram berkata kesal. ”Benar-benar tak masuk akal!” Dulu, beberapa puluh tahun lalu, ketika Lurah Tohar masih hidup, Bintang Kembar selalu dirundung ketakutan. Orang-orang takut karena setiap malam pasti ada saja yang diciduk: kadang tukang parkir, kadang juga guru ngaji yang dianggap salah ceramah. Tak seorang warga pun tahu siapa yang telah menciduk mereka, sebab hanya suara truk dan langkah sepatu yang bisa ditangkap telinga warga. Saat ada beberapa warga yang memberanikan diri bertanya, Lurah Tohar akan selalu berkata, ”Saya ndak tahu daripada peristiwa semacam itu.” Namun, beberapa tahun kemudian, Bang Pram tahu persis apa arti kalimat Lurah Tohar itu karena...

22 November 2025

Update

”Mata” yang Melihat Tidak Selalu Sama  dengan ”Suara” yang Berbicara
Dokumentasi Penerbit JBS
Buku

”Mata” yang Melihat Tidak Selalu Sama dengan ”Suara” yang Berbicara

Buku ini menjadi bacaan yang tepat bagi ekosistem studi sastra. Bukan sekadar mengungkap konsepsi penting, melainkan sekaligus memadukannya dengan praktik analisis terhadap objek material berupa karya sastra. Cerita bukan hanya ”apa” (isi, substansi) yang terjadi, melainkan ”bagaimana” (strategi, mekanisme) ia diceritakan. Di sanalah emosi, makna, dan ideologi dibentuk. Di tengah praktik kritik sastra yang sering berhenti pada ”apa isi cerita”, buku ini mengajak pembaca beralih ke pertanyaan yang lebih menentukan: ”bagaimana cerita bekerja” atau ”persoalan teknik penceritaan”. Konoteks itu menempatkan pembedaan klasik teks-cerita-fabula sebagai fondasi. Pembaca diingatkan bahwa teknik penceritaan –urutan, tempo, sudut pandang, suara– bukan sekadar hiasan struktural, melainkan lensa yang mengarahkan emosi, makna, bahkan bias ideologis. Buku yang ditulis sebagai hasil riset dalam skema Guru Besar FIB UGM Prof Faruk, yang menggandeng juniornya, Ayda (Ramayda Akmal), ini mengulik naratologi dengan membatasi pada rentang waktu klasik. Di sisi lain, rentang masa pascaklasik barangkali dapat disusun dalam seri karya akademik berikutnya. Termasuk perhatian terhadap perkembangan mediumnya: media bahasa lisan, media visual, multimedia, hingga penuturan cerita intermedial. Membumikan Konsepsi Genette dan Bal Buku yang sempat tertunda terbit ini –harusnya, sesuai skema, telah terbit 2023– berikhtiar membumikan konsepsi naratologi Gerard Genette dan Mieke Bal. Bukan sekadar mengungkap konsepsi penting, melainkan sekaligus memadukannya...

15 November 2025
Setelah Pidato Usai
Ilustrasi Nina/Jawa Pos
Halte

Setelah Pidato Usai

Sebelum Mendikdasmen Abdul Mu’ti pidato memakai bahasa Indonesia di forum pertemuan UNESCO, media sosial, media digital, pun media cetak mewartakannya. Saat ia pidato bahasa Indonesia, jutaan pasang mata dan telinga menyaksi-dengarkannya melalui berbagai medium. Setelah ia pidato bahasa Indonesia di forum tersebut, pelbagai media mewartakan juga, dan tentu mengulasnya. Sekian kesan, pujian, harapan, kegirangan, dan kebanggaan, malah rasa percaya diri meruap dari berita yang terpublikasikan. Pidato itu kini telah usai dan dunia tahu bahasa Indonesia bisa bertugas mengekspresikan masalah dan kegelisahan global. Setelah pidato usai, berkelebat tanya, apa makna yang bisa ditangguk dan apa implikasi yang harus dijelang? Apakah amanat perundangan kebahasaan untuk internasionalisasi bahasa Indonesia sudah tunai? Internasionalisasi telah tercapai atau baru dimulai –dan apa tugas-tugas ke depan yang harus dijalankan? Implikasi apa sajakah yang perlu disongsong dan dilaksanakan demi penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional? Dengan pidato tersebut, kita baru meletakkan fondasi formal-simbolis internasionalisasi bahasa Indonesia sekaligus secara real dan aksional mendeklarasikan kelayakan dan kepantasan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa internasional. Makna Hal tersebut menyodorkan pelbagai makna untuk terus diperkuat ke depannya. Pertama, bahasa Indonesia menapak menjadi lingua franca internasional atau global, bukan lagi sekadar Indonesia dan/atau kawasan negeri bawah angin. Kapasitas dan peran ini perlu kita...

15 November 2025
Membatalkan Gelar
Ilustrasi Nina/Jawa Pos
Halte

Membatalkan Gelar

Gelar pahlawan nasional untuk Soeharto mengingatkan saya pada Thomas Stamford Raffles. Selama lebih dari 200 tahun, Raffles dianggap sebagai pahlawan di tanah jajahannya, Singapura. Patungnya berdiri di jantung kota, kedatangannya di Singapura menjadi penanda ditemukannya sebuah wilayah –mengabaikan fakta bahwa jauh sebelum kedatangan Raffles, pulau itu sudah berpenghuni dan sudah memiliki tatanan. Raffles memimpin penjajahan di bumi Temasek. Membangun sebuah kota di bawah pemerintahannya, hingga mendapat julukan pendiri Singapura. Meski tidak secara resmi mendapat gelar ”pahlawan nasional”, nama Raffles sebagai sosok pahlawan diabadikan dalam teks sejarah, tercetak dalam buku-buku, diajarkan di ruang kelas dari generasi ke generasi. Hingga kini, nama Raffles diabadikan sebagai nama gedung, sekolah, hingga rumah sakit. Di tengah narasi sejarah yang mengagungkan Raffles itu, Syed Hussein Alatas, seorang ilmuwan sosial, bekerja membalik sejarah dengan membongkar mitos-mitos seputar Raffles. Dalam bukunya Thomas Stamford Raffles: Schemer or Reformer? yang terbit tahun 1971, Syed Hussein Alatas menunjukkan bahwa citra Raffles sebagai ”pembawa peradaban” hanyalah konstruksi kolonial yang bertahan karena diwariskan melalui sistem pendidikan dan wacana akademik yang tunduk pada pandangan penjajah. Raffles, kata Alatas, bukanlah reformis seperti yang digambarkan, melainkan bagian dari mesin kolonial yang menindas. Ia berperan aktif dalam eksploitasi ekonomi, pengambilalihan tanah, dan pembentukan sistem kekuasaan yang menyingkirkan...

15 November 2025
Berenang di Kandang Sapi
Ilustrasi Budiono/Jawa Pos
Cerpen

Berenang di Kandang Sapi

Hingga pagi tiba, Sudar Gana masih tetap berenang di kandang sapi itu. Kedua lengannya yang semula terus bergantian menyibak air telah terkulai. Saat ayam-ayam mulai turun dari dahan-dahan tempat mereka tidur dan mulai berjalan-jalan di halaman rumah yang dibasahi embun, Geluduk Gelumpeng keluar dari rumahnya. Geluduk Gelumpeng terhenti sebentar di halaman sebelum melengking kepada istrinya: ”Tangkap ayam satu. Gorok. Masak kuning!” Derit lasah menjawab lengkingannya dari dalam rumah. Lalu, ia menambahkan: ”Tambahin racikan daun kedondong!” Rumah mereka bertengger di punggung bukit yang menjulang di sebelah barat Sungai Keditan. Rumah kecil berdinding bambu, dengan sebuah berugaq dan kandang sapi kecil persis di ujung utara. Kandang itu terbuka; dua ekor sapi gemuk –bahkan teramat gemuk dibandingkan pemiliknya yang kurus– dapat melihat dengan leluasa daun-daun pisang yang kerap terayun-ayun di sekitar, atau ujung-ujung rumput gelagah yang dihinggapi burung-burung kecil tak jauh dari jebak. Juga, dapat mencuri dengar setiap tawa dan ledakan-ledakan amarah di berugaq yang berdiri miring di depan mereka. Dua ekor sapi di kandang itu tak lagi diperlakukan semata sebagai dua ekor sapi. Geluduk Gelumpeng kerap menawari mereka makan dan kemudian dijawab sendiri olehnya, ”Ah, ini bukan makanan kalian.” Ia lalu melanjutkan menyuapi dirinya sendiri, dan istrinya terkadang menertawakan apa yang ia...

15 November 2025
Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto
Dokumentasi R.H. Authonul Muther
Sudut Pengarang

Menginvestigasi Sajak Hermetik Nirwan Dewanto

Ulasan kumpulan puisi Ke Arah Museum Revolusi karya Nirwan Dewanto membawa R.H. Authonul Muther meraih penghargaan Piala H.B. Jassin 2025 kategori kritik sastra. Authonul berupaya menelusuri sajak-sajak Nirwan yang selama ini dikenal hermetik, yaitu sajak yang sengaja untuk sulit. Setidaknya ada tiga alasan mengapa Authonul memilih buku tersebut. Pertama, sajak Nirwan termasuk sajak yang menantang. Baginya, sajak yang sulit pun bisa dikerjakan dengan baik asal metodenya tepat. ”Karena kesulitan ini saya tertantang mengiris-iris dengan baik sajak Nirwan,” ujarnya. Kedua, terdapat skema atau sistem sajak yang khas dan segar. Nirwan menawarkan jalan lain berbahasa Indonesia dalam puisi. Dalam esai-esainya pun, Authonul menilai cita rasa dan sistem penulisan Nirwan sangat khas. ”Nirwan adalah ledakan baru dalam sejarah persajakan Indonesia,” kata penulis asal Probolinggo yang kini berdomisili di Malang itu. Ketiga, ciri khas yang demikian juga memengaruhi beberapa penyair. Hal ini menandakan selera estetika ala Nirwan sudah ada meski belum terumuskan secara jelas. ”Persis di situ, esai saya berusaha merumuskan ciri penting siasat persajakan dan capaian estetika Nirwan,” tuturnya. Lebih lanjut, Authonul menganggap karya sastra, dalam konteks ini puisi, tidak perlu dipahami sebagai gejala yang menunjuk pada sesuatu yang lain. Artinya, kritik sastra adalah kerja-kerja berperkara sedalam-dalamnya dengan si karya. Bukan menunjuk-nunjuk ke...

15 November 2025

Berita Lain

Pengalaman Sopir Truk Melihat Sosok Misterius di Kalimantan

Urban Mystery-15 November 2025

Konsep Manajer dan Story Telling Dispatch Direspons Positif

Gaming-14 November 2025

Menyelami Karya Seni Keramik dan Patung di Main Bentuk, Main Warna, Medium Sama

Pameran-14 November 2025

Di Bengkel Motor

Sajak-9 November 2025

Pada Kapal SS Van Imhoff, Sebuah Montase

Cerpen-9 November 2025

Yohan Fikri Bicara tentang Puisi, Anjing, dan Manusia yang Terbuang

Sudut Pengarang-9 November 2025

Korpus Uterus: Perkara Dosa Jadi Ambigu di Tangan Manusia

Buku-9 November 2025

Primbon Politik

Halte-9 November 2025

Sejarah Filsafat dan Status Quo

Halte-9 November 2025

RRQ Melesat, Evos Terpuruk ke Peringkat 13 di Babak Grup FFWS Global Finals 2025

Gaming-7 November 2025

Popaganda Menajamkan Pesan lewat Energi Pop Warna-Warni

Pameran-7 November 2025

Siapa Bilang Bikin Konten Butuh Studio? Sekarang Cukup Pakai OPPO Find X9 Series dengan Kamera Hasselblad 200MP dan Baterai Jumbo 7.500mAh!

Pameran-6 November 2025

KORAN JAWA POS

Instagram

  • @koran.jawapos
  • @jawapos.foto
  • @jawapossport

YouTube

  • @jawaposnews

TikTok

  • @koranjawapos

Email Redaksi

  • editor@jawapos.co.id

Berlangganan Koran

Hubungi WhatsApp:

+628113475001

© 2026 Koran Online. All rights reserved.

KORAN JAWA POS
Instagram:@koran.jawapos@jawapos.foto@jawapossport
Twitter:@koran_jawapos
YouTube:@jawaposnewsTikTok:@koranjawapos
Email Redaksi:editor@jawapos.co.id
Berlangganan Koran Hubungi WA:+628113475001